Gembala di Altar Kehidupan, Inilah Maksudnya

Sebutan ini tentu tidak berlebihan. Kegigihannya melawan penguasa dapat dilihat dalam pengalaman di Flores Timur beberapa

Editor: Dion DB Putra
IST
Romo Frans Amanue 

Oleh: Adibu Kelore
Alumnus Seminari Hokeng, Flores Timur

POS KUPANG.COM - Harian ini memuat tulisan Agustinus Siswani Iry (selanjutnya disebut ASI) berjudul "Amanue dan Keterlibatan Gereja" (Pos Kupang, 1/4/2017). Dalamnya, ASI membuat catatan kenangan mengenai sosok Romo Frans Amanue yang gigih melawan ketidakadilan sosial. Menyitir kata-kata Mgr. Oscar Romero, sebagaimana dikutip ASI, Romo Frans dapat disebut sebagai "komunis" yang mempertanyakan tindak ketidakadilan yang secara struktural memiskinkan rakyat.

Sebutan ini tentu tidak berlebihan. Kegigihannya melawan penguasa dapat dilihat dalam pengalaman di Flores Timur beberapa tahun silam dan yang terbaru, sebelum ajal menjemputnya, ialah rezim kekuasaan di Lembata.

Baca: Amanue dan Keterlibatan Gereja, Mengenang Setahun Kematiannya

Setidaknya dari tulisan-tulisan Romo Frans sendiri maupun berita tentang beliau, catatan kritisnya yang selalu dilandasi analisa akurat merupakan salah satu karakter yang khas. Romo Frans tampak tidak pernah gentar melawan para elit termasuk menyebut nama mereka secara terang-terangan.

Karena itu, Gereja lokal keuskupan Larantuka patut merasa kehilangan. Dan, hemat penulis, adalah penting catatan yang dibuat ASI. Dengannya, ASI sebagai seorang rohaniwan muda berbagi kerinduan dan kegelisahan bersama umat Allah, kawanan domba yang kecil dan tertindas: bahwasanya mereka, umat Allah yang mengalami "duka dan kecemasan" itu masih sangat membutuhkan "Frans Amanue" lain ketika tiada lagi pihak yang dapat dipercaya.

Ada setidaknya, dua kemungkinan tanggapan atas kerinduan serentak kegelisahan yang terimplisit dalam "Amanue dan Keterlibatan Gereja" ini. Pertama, pesan implisit ini sekaligus adalah ironi bagi penulis artikel tersebut. Pasalnya, sebagai seorang rohaniwan, beliau mestinya tidak perlu banyak bicara (bicara di ruang publik).

Apa yang harus beliau lakukan ialah berjuang dengan cara yang sama layaknya Romo Frans dan mengonsolidasikan kekuatannya dengan sesama rohaniwan lain. Akan tetapi, kedua, pesan ini-persis di sini posisi saya-merupakan semacam undangan yang masuk akal; undangan yang urgen bagi bukan beberapa melainkan semua rohaniwan.

Terdapat setidaknya dua alasan untuk itu. Pertama, umat membutuhkan dukungan dan keberpihakan total kepada mereka. Setelah lembaga eksekutif lebih berorientasi pada perut sendiri, sementara lembaga legislatif cenderung memakan konstituen dan lembaga yudikatif tidak lagi mengedepankan keadilan, adalah Gereja-para gembala yang dapat dipercaya. Kenapa? Karena umat yakin hanya para pastor yang akan memberi seluruh dirinya bagi keselamatan mereka (yang tidak hanya eskatologis).

Hanya kaum tertahbis juga misalnya para rohaniwan/ti (idealnya) yang tidak pusing peduli dengan kalkulasi material sekitar untung rugi.

Kedua, tidak dapat disangkal bahwa masih ada kaum tertahbis atau para rohaniwan/ti yang merasa "cukup" atau bahkan "telah tuntas" melaksanakan misinya hanya dengan merayakan ritual liturgis sabda dan ekaristi. Bagi kelompok ini, barangkali iman hanya mungkin bertumbuh sejauh umat setia menghadiri perayaan-perayaan ritualis. Selebihnya, tidak. Sebagai seorang awam, saya lalu harus mengajukan pertanyaan.

Pertama, apakah cukup jika seseorang mengikuti perayaan liturgi tanpa mengaplikasikan nilai-nilainya? Bukankah Gereja mengajarkan bahwa dalam dan melalui liturgi, umat Allah sesungguhyan menimba cinta kasih dari Allah melalui Kristus baik melalui santapan sabda maupun ekaristi? Apakah kemudian cinta kasih yang telah diterima itu hanya untuk diri sendiri tanpa disalurkan pada sesama?

Bukankah kualitas keberimanan seorang Kristen, dalam konteks ini, terukur juga berdasarkan seberapa mampu ia berani meneruskan-menyampaikan gugatan Allah kendati menyayat itu serentak menyalurkan kekuatan cinta yang diperoleh dari Tubuh Kristus dalam Ekaristi?

Kedua, jika pun cukup, apakah tepat jika seorang gembala meninggalkan kawanan dombanya? "Meninggalkan kawanan domba" di sini dapat merujuk pada tindakan hirarki Gereja yang melarang para pastor untuk terlibat dan berpihak bersama dan kepada umatnya lantaran ketidakcermatan mengidentikkan "keberpihakan dan keterlibatan" sebagai tindak politik praktis.

Demikian pun, "meninggalkan kawanan domba" dapat identik dengan memilih duduk sopan untuk mencari posisi aman. Sekali lagi, bukankah Sang Gembala Agung lebih memilih mencari domba-Nya yang hilang sekali pun beresiko atau bahkan berani melawan serigala demi keselamatan domba-domba-Nya?

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved