Teror Agama dan Narasi Damai

Total empat orang tewas dan puluhan luka-luka. Belakangan ISIS telah mengklaim bertanggungjawab atas serangan itu

Teror Agama dan Narasi Damai
(REUTERS/Toby Melville)
Korban serangan yang terjadi pada Rabu (22/3/2017) di sekitar gedung parlemen Inggris.

Oleh: Ricko W
Anggota Kahe, tinggal di Wolomarang Maumere

POS KUPANG.COM - Teror kembali terjadi di Kota London, Inggris. Kali ini bukan bom. Seorang pria dengan brutal menabrak kerumunan pejalan kaki di jembatan Westminster dengan mobil berkecepatan tinggi, menyerang dan melukai sejumlah orang termasuk menikam seorang polisi tak bersenjata hingga tewas.

Total empat orang tewas dan puluhan luka-luka. Belakangan ISIS telah mengklaim bertanggungjawab atas serangan itu dan mengakui kalau Khalid Masood, pelaku penyerangan yang juga tewas ditembak polisi, adalah pengikut mereka.

Seperti sering didengar, setiap kali teror terjadi, agama adalah institusi pertama yang kerap dicurigai. Doktrin-doktrin kebenaran yang diajarkan di dalam agama dianggap merusak akal sehat sehingga para pelaku berani bertindak nekat memusnahkan orang lain yang tak seiman, sepandangan dan sejalan dengan apa yang mereka yakini.

Namun, kesimpulan mempersalahkan agama tentu terlampau infantil dan masih bisa diperdebatkan.Ada begitu banyak kepentingan yang melatarbelakangi aksi-aksi kekerasan itu. Tindakan para pelaku teror tentu tidak serta merta menyeret tanggungjawab para penganut agama lainnya. Pendek kata, mereka tentu segelintir penganut agama yang tersesat dan kehilangan pegangan.

Di tengah dunia yang semakin plural dan peradaban manusia yang semakin maju, orang-orang percaya -entah ia beragama atau tidak -perdamaian atas nama kemanusiaan adalah yang terpenting. Tuntutan untuk hidup berdampingan dengan damai adalah tuntutan akal sehat dan bukan lagi sekedar tuntutan agama.

Masyarakat dunia semakin sadar; narasi damai harus selalu diwartakan agar tak ada lagi kebencian dan kehancuran. Semua perhatian dunia sekarang tertuju kepada masyarakat London yang ketakutan. Perhatian dunia ini seolah hendak mengatakan; kalian tidak sendiri. Jangan takut!

Simpati dari berbagai negara berdatangan. Para pejabat tinggi di seluruh dunia ramai-ramai mengutuk keras aksi teror London dan menawarkan bantuan. Bukan hanya itu, masyarakat dunia pun turut menyampaikan belasungkawa mendalam melalui media sosial.

Di kota London, warga berkumpul dan menyalakan lilin sebagai tanda duka dan simpati terhadap korban teror. Yang lebih menyentuh, para tokoh lintas agama di Inggris juga berkumpul dan berdoa bersama bagi perdamaian, sekaligus hendak menyatakan; tak boleh ada agama yang harus dipersalahkan.

Mari lihat sebuah narasi damai di tengah teror. Mungkin masih segar dalam ingatan. Senin, 15 Desember 2014, Man Haron Monis, seorang pria bersenjata asal Iran menyandera puluhan orang yang berada di Lindt Café di Kota Sidney, Australia.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved