Ahok: Nama dan Model Kepemimpinan

Semua mata tertuju ke Jakarta. Semua tak terlepas dari sosok Ahok. Apapun peran Ahok, ia tetap menarik animo penonton.

Editor: Agustinus Sape
Pool/M Luthfi Rahman
Terdakwa Dugaan Kasus Penistaan Agama yang juga Gubernur non Aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menghadiri sidang lanjutan ke-9 di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (07/02/2017). Sidang ke-9 tersebut menghadirkan 2 orang saksi fakta dari kepulauan seribu dan 1 orang saksi. (POOL/merdeka.com/M Luthfi Rahman) 

Oleh: Giorgio Babo Moggi
Peminat Masalah Politik dan Kepemimpinan

PILKADA DKI 2017 itu seksi. Semua mata tertuju ke Jakarta. Semua tak terlepas dari sosok Ahok. Entah apa nama peran yang cocok bagi seorang Ahok, jika Pilkada DKI 2017 menjadi judul film layar lebar? Apapun peran Ahok, ia tetap menjadi tokoh yang menarik animo penonton.

Orang akan menempatkan Ahok dalam peran yang berbeda-beda. Tidak pula peran tersebut dapat merepresentasikan semua suara publik. Terbukti, keberadaan Ahok dalam pentas demokrasi DKI Jakarta menjadi sosok yang masih diperdebatkan (debatable).

Apapun sematan atau peran Ahok dalam Pilkada DKI 2017, positif ataupun negatif, ia  tetap menjadi daya magnet masyarakat Indonesia di seluruh dunia.

Sejak Ahok menyatakan diri -bahkan sejak ia menduduki posisi sebagai gubernur, Pilkada DKI telah berubah menjadi ruang kuliah terbuka. Dengan kemasan segala macam matakuliah yang selalu menarik orang jejali, telusuri dan memicu rasa ingin tahu publik.  

Dulu, politik itu ibarat hal yang tabu diperbincangkan di kalangan masyarakat dan hanya menjadi konsumsi kalangan elitis, sejak Pilkada DKI 2017 politik menjadi menu harian yang diperbincangkan. Kapan, di mana dan oleh siapa saja.

Pilkada DKI Jakarta 2017 telah menaikkan tingkat partisipasi masyarakat. Menyadarkan mereka yang acuh tak acuh dengan politik. Lalu mereka terjun, terlibat dan bergumul dengan politik itu sendiri. Tak sedikit pun mereka yang harus menanggung segala konsekuensi pilihan itu sendiri. Dicaci, dikasari dan dipukuli.

Tidak hanya itu. Pilkada DKI Jakarta 2017 telah memantik inisiasi publik terlibat dalam politik. Teman Ahok adalah bukti dari fenomena politik itu.

Inisiasi itu penting. Kesadaran politik itu harus lahir dari dalam diri pribadi. Kemauan dan tekad berpolitik harus bersumber dari nurani dan selalu dipagari oleh nalar sehat.

Inisiasi adalah langkah awal dari partisipasi yang sesungguhnya. Orang boleh saja berpartisipasi karena diimingi-imingi janji. Orang boleh saja berpartisipasi karena ada udang di balik batu -ada niatan atau maksud tersembunyi.

Sebaliknya, inisiasi berpolitik lebih pda sebuah panggilan dan keberpihakan pribadi atau kelompok pada proses politik. Keberpihakan untuk  merespons ketimpangan sosio-politik, sosio-ekonomi dan deretan persoalan yang berhubungan dengan kemaslahatan publik.

Inisiasi inilah yang membangkitkan partisipasi politik secara masif. Tidak dibatasi oleh wilayah administrasi politik. Dengan kata lain, Pilkada DKI Jakarta tidak hanya menjadi milik warga DKI. Pilkada DKI menjadi milik semua warga negeri ini. Dan, semua orang berhak untuk memperbincangkannya -meskipun mereka tidak memiliki hak pilih. Karena politik (baca: Pilkada) DKI Jakarta akan menjadi kiblat perpolitikan atau pilkada di Indonesia.

Banyak sindiran dan sejenisnya dialamatkan kepada  publik di luar DKI terlampau sibuk dan menghabiskan banyak energi demi Pilkada DKI. Sebenarnya, mereka tidak acuh dengan daerah atau hajatan demokrasi di daerahnya sendiri. Bukan itu!

Seperti saya katakan pada bagian terdahulu bahwa Pilkada DKI adalah ruang kelas terbuka. Artinya siapapun dia dapat masuk ke dalam ruang tersebut dan mengakses semua matakuliah politik dan turunannya yang diajarkan.

Inilah kuliah politik yang murah meriah. Modal nonton televisi, baca koran dan berinteraksi di media sosial. Namun, daya "criticism" publik tetap terjaga. Membaca atau mendengar, lalu dibedah oleh logika. Sekali lagi, oleh logika! Bukan perasaan dan sentimen sempit dan sesat serta salah sasar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved