Berikan Mereka Keterampilan

Kaum disabilitas menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan kita. Ia ada di sekitar ruang lingkup kita.

Editor: Agustinus Sape

KAUM disabilitas menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan kita. Ia ada di sekitar ruang lingkup kita. Disabilitas merupakan kata bahasa Indonesia serapan dari bahasa Inggris, disability (jamak-disabilities) yang berarti cacat atau ketidakmampuan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata disabilitas belum tercantum. Maknanya kurang lebih sebagai penyandang cacat. Penyandang disabilitas dapat diartikan individu yang mempunyai keterbatasan fisik atau mental/intelektual.

Sebagai manusia normal ketika melihat kaum disabilitas kita akan terenyuh. Hati kita mudah tersentuh ketika menyaksikan keterbatasan fisik mereka. Meski mereka sendiri merasa tak perlu dikasihani.

Dalam keseharian,  kita menyaksikan betapa kaum disabilitas ini  berjuang tanpa kenal lelah demi sesuap nasi. Perjuangan mereka memang keras.  Pasar kerja pun sering tak berpihak pada mereka. Karena itu, permintaan para penyandang cacat yang mengikuti  pencoblosan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) Lamawalang, Kota Larantuka, Flores Timur, patut disimak dan dilihat dalam perspektif nurani.

Sebanyak 14 orang penyandang disabilitas di daerah itu mengharapkan uluran tangan pemerintah. Setidaknya mereka berharap pemerintah dapat memberikan pekerjaan yang layak.

Entahlah bagaimana caranya. Tapi, kepada pemerintah harapan ini kita titipkan. Bukan kepada Pemkab Flotim semata, namun kepada semua pemerintah daerah dan kota di NTT.

Dalam sistie rekrutmen PNS, misalnya, kaum ini bisa diakomodir tapi tetap menggunakan standar-standar normatif. Tapi, bisa juga dengan kebijakan lokal yang bisa dipertanggungjawabkan. Intinya demi kemanusiaan.

Pemerintah boleh memberikan pelatihan-pelatihan keterampilan. Selama ini negara dalam hal ini Kementerian Sosial sudah memberikan perhatian tak kecil pada kelompok ini. Tapi, itu saja belum cukup. Butuh perhatian dari pemerintah kabupaten/kota atau pihak lain.

Dengan demikian mereka menjadi  lebih mandiri. Rasa percaya dirinya tumbuh. Optimisme akan masa depan selalu hadir dalam mimpi-mimpinya. Mimpi tentang hari ini dan hari esok yang pasti. Jangan sampai untuk makan hari ini saja mereka sulit mendapatkannya.

Bisa jadi dalam perspektif mereka pemerintah kurang memberinya harapan. Pendekatan yang dilakukan masih sangat formal. Mereka menginginkan pola pendekatan yang berbeda pula.

Untuk sementara kita menyimpulkan mereka belum punya keterampilan. Karena itu latihlah mereka. Berikan mereka keterampilan. Berikan mereka harapan melalui pendekatan yang lebih humanis.*  

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved