Dua Murid SD Hilang Dibawa Banjir saat Mandi di Sungai

Dua anak perempuan, yaitu Yohana Skolastika Pankrasia Sape (10), murid SD Don Bosco 2 Kupang dan Anjelia Desi Wolu (12), murid SD Negeri Naikoten 1 Ku

Dua Murid SD Hilang Dibawa Banjir saat Mandi di Sungai
Ilustrasi
Tenggelam 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Julianus Akoit

POS-KUPANG.COM, OELAMASI -- Dua anak perempuan, yaitu Yohana Skolastika Pankrasia Sape (10), murid SD Don Bosco 2 Kupang dan Anjelia Desi Wolu (12), murid SD Negeri Naikoten 1 Kupang, hilang dibawa banjir saat mandi di Sungai Binilaka, Desa Oeltua, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Jumat (10/2/2017) sekitar pukul 16.00 wita sore.

"Dua gadis kecil itu baru ditemukan pukul 19.00 wita malam setelah ratusan warga setempat membantu mencari dengan menyisir sungai. Sayangnya, ketika ditemukan nyawa mereka tidak tertolong," jelas Kapolres Kupang, AKBP Adji Indra Dwiatma, S.IK melalui Pejabat Sementara Perwira Urusan (Ps Per Ur) Humas Polres Kupang, Aipda Randy Hidayat, Minggu (12/2/2017).

Tentang kronologi peristiwa, Aipda Randy menuturkan, Jumat sore sekitar pukul 15.00 wita dua korban bersama 11 orang temannya pergi latihan koor dan ajuda (putra-putri altar) di Kapela Santu Hendrikus Binilaka untuk tanggungan misa Minggu (12/2/2017) pagi.

Namun sampai di kapela, latihan belum dimulai. Lalu dua korban dan teman-temannya mandi-mandi di sungai yang berjarak sekitar 10 meter saja dari kapela tersebut.

"Mereka mandi-mandi sambil lompat dari tebing sungai setinggi 3 meter ke kolam sungai. Cuaca saat itu cerah. Namun di bagian hulu terlihat hujan deras," kata Aipda Randy mengutip keterangan beberapa saksi.

Sekitar pukul 16.00 wita, air sungai tiba-tiba menjadi keruh dan meluap akibat banjir kiriman dari hulu. Teman-teman korban bergegas mengenakan pakaian untuk meninggalkan sungai.

"Sedangkan dua korban yang sudah berdiri di atas tebing, meloncat ke kolam sungai yang mulai banjir. Dengan maksud berenang ke tepian mengambil pakaiannya. Namun setelah meloncat dari tebing sungai, keduanya tidak muncul ke permukaan air. Sementara banjir semakin deras," jelas Aipda Randy.

Teman-teman korban menjadi panik lalu meminta pertolongan warga sekitar bantaran sungai. Kades Oeltua, Daniel Mananel, dibantu Yohanes Doni, Yohanes Tasei, Agus Seran dan Markus Kofi, terjun ke sungai untuk mencari korban. Namun usaha itu sia-sia karena jarak pandang di dalam sungai terhalang oleh keruhnya air akibat banjir ditambah hari semakin gelap.

Sekitar pukul 19.00 wita baru dua korban ditemukan pada dua tempat berbeda. Pertolongan pertama untuk membuat nafas buatan dan mengeluarkan air dari perut korban tidak berhasil membuat kedua korban sadar dari pingsannya.

Kedua korban dilarikan ke RSU AURI kemudian dirujuk ke RSU SK Lerick Kota Kupsang dan RSUD Prof. Johanes Kupang. Namun oleh petugas medis dijelaskan bahwa nyawa korban tidak bisa diselamatkan karena sudah meninggal dunia saat dibawa dari TKP.

"Kedua keluarga korban menolak outopsi jasad karena mereka menerima peristiwa itu sebagai musibah. Hal itu dibuktikan dengan penandatanganan surat menolak dilakukan otopsi oleh kedua keluarga korban," jelas Aipda Randy.*

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved