Warga Wuring Sikka Mengungsi

Gelombang pasang yang cukup dahsyat sejak Senin sampai Selasa (6-7/2/2017) dan rumor akan terjadi tsunami menimbulkan kepanikan warga Kampung Wuring L

Editor: Alfred Dama
Pos Kupang/Egy Moa
Kampung Wuring di Kelurahan Wolomaran, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Pulau Flores 

POS KUPANG.COM, MAUMERE -- Gelombang pasang yang cukup dahsyat sejak Senin sampai Selasa (6-7/2/2017) dan rumor akan terjadi tsunami menimbulkan kepanikan warga Kampung Wuring Laut, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka.

Ratusan kaum perempuan dan anak-anak meninggalkan rumah mereka di Wuring mengungsi ke Masjid Ar-Rahmat Wuring dan rumah-rumah warga di Kampung Waidoko berjarak 500 meter dari tempat tinggal mereka.

Praktis puluhan rumah panggung yang dibangun di atas laut, kosong ditinggalkan pemiliknya. Meski beberapa rumah masih ada kaum pria. Mereka duduk bergerombol di salah satu rumah mendiskusikan gelombang yang mengamuk di Laut Flores.

Kepanikan warga bertambah ketika sebuah rumah panggung milik Ramudin, yang terletak di sebelah utara masjid terapung, diterjang gelombang. Rumah itu roboh kemudian terbawah air laut. Belasan pria mengejar rumah yang sudah bergeser dari tempatnya semula ke arah timur sejauh 50 meter.

Mereka berusaha membongkar kayu dan atap seng, tidak mempedulikan keselamatan di tengah gelombang besar dan tiupan angin kencang. Ketika para pria ini bertarung dengan kerasnya gelombang, puluhan warga setempat menyaksikan dari lantai masjid terapung yang belum rampung dikerjakan.

Pantuan Pos Kupang Selasa sore, sekitar 100 perempuan dan anak-anak mengungsi di Masjid Ar-Rahmat, di tengah pemukiman warga. Mereka menempati lantai masjid dan didata staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sikka.

Sekretaris BPBD Sikka, Bary Fernandez, mengatakan, data sementara ada 54 rumah tangga mengungsi di masjid itu. Di lokasi ini, kata Bary, akan dibuka dapur umum melayani kebutuhan makan dan minum warga.

Bary mengaku isu tsunami membuat kepanikan warga. Mereka masih trauma musibah gelombang tsunami dan gempa bumi yang melanda Kabupaten Sikka pada 12 Desember 1992 silam.

"Saya sudah sampaikan kepada warga, tidak benar isu tsunami itu. Memang benar saat ini terjadi gelombang pasang, tapi bukan tsunami," tegas Bary.

Pantauan Pos Kupang di Kampung Waidoko, di ruas jalan nasional Maumere-Mbay, tiga rumah warga menampung sekitar 30 perempuan dan anak-anak asal Kampung Wuring. Mereka datang ke lokasi nyaman membawa pakaian dan makanan serta uang seadanya untuk belanja.

Alisah (50) dan empat anaknya serta 10 warga lainnya menempati rumah Anastasi Soru. Mereka mengaku masih trauma musibah gempa bumi dan tsunami tahun 1992.

Meski saat ini hanya terjadi gelombang pasang, Alisah mengajak anak-anaknya mencari tempat nyaman di rumah warga Waidoko. Di kediaman Ny.Franda Meno, menampung 10 perempuan dan anak-anak.

"Saya tidak mau kejadian 1992 terulang lagi. Memang hanya gelombang besar, tapi kami takut air laut naik. Kami tinggal sampai laut sudah tenang," ujarnya.

Ny.Bhara Sarudin, juga memboyong empat anaknya mencari tempat nyaman. Ia mengaku Selasa isu akan terjadi tsunami membuat mereka panik. Ny. Bhara bersama empat anaknya memgungsi dengan membawa pakaian seadanya dan makanan.(ius)

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved