Sabtu, 18 April 2026

Beijing : Donald Trump Harus Hormati Kebijakan "Satu China"

China sebenarnya tidak ingin menjadi pemimpin dunia. Namun, jika terpaksa dan bila pihak-pihak lain mundur dari posisi tersebut

Editor: Rosalina Woso
DPA/Getty Images/DW
Beijing juga mendesak Washington untuk hormati kebijakan `Satu China'. 

Menurut Zhang, dia berpikir Trump tidak akan mampu mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi jika ia melakukan perang dagang.

"Sebuah perang dagang atau perang nilai tukar tidak akan menguntungkan negara mana pun," kata Zhang.

Secara terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Hua Chunying mengatakan, Xi Jinping telah mengirim pesan ucapan selamat kepada Trump atas jabatannya.

Kebijakan "Satu China"

Pemerintahan AS yang baru harus sepenuhnya memahami pentingnya kebijakan "Satu China" dan menghargai bahwa isu Taiwan sangat sensitif bagi pemerintahan di Beijing.

Menurut Beijing satu prinsip China, Taiwan dan China daratan merupakan bagian tak terpisahkan dari kebijakan "Satu China".

"Kami mendesak pemerintahan AS yang baru untuk memahami tingginya sensitivitas isu Taiwan dan untuk tetap berpegang pada kebijakan satu China," kata Hua Chunying.

Hua menyebut kebijakan itu sebagai "dasar politik" masa depan hubungan antara AS dan China.

Trump, yang dilantik pada Jumat (20/1/2017), mengatakan, pada Desember 2016, AS tidak perlu harus berpegang pada posisi lamanya bahwa Taiwan adalah bagian dari "Satu China".

Trump juga menerima telepon langsung dari Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen. Hal itu dianggap menyimpang dari kebijakan luar negeri AS sejak tahun 1979 ketika hubungan formal antara dua negara diputus. Hal tersebut menyulut kegeraman China.

Hua juga menegaskan posisi China di Laut China Selatan, dengan mengatakan AS seharusnya tidak ikut campur dalam masalah wilayah maritim China. (Kompas.Com)

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved