Pembangunan RSJ Naimata Mengecewakan

Belum lagi bicara soal biaya yang besar digelontorkan pemerintah guna membangun fasilitas itu, dan sampai sekarang

Editor: Dion DB Putra
Pos Kupang/maksi marho
Bagian halaman Rumah Sakit Jiwa Kupang di wilayah Kelurahan Naimata yang telah diratakan, Senin (25/1/3016) siang 

POS KUPANG.COM - Mungkin wajar bila Ketua Komisi V DPRD NTT, Jimmi W Sianto, SE, MM menyatakan kecewa karena Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Naimata yang dibangun Pemerintah Provinsi NTT sejak tahun 2007 masih belum juga digunakan.

Belum lagi bicara soal biaya yang besar digelontorkan pemerintah guna membangun fasilitas itu, dan sampai sekarang sejumlah item pekerjaan masih terus dibangun lagi agar layak digunakan.

Sebagai wakil rakyat, DPRD NTT tentu merasakan betapa tidak seriusnya pemerintah dalam merencanakan pembangunan fasilitas itu. Bagaimana mungkin rumah sakit yang dibangun sejak 10 tahun lalu, sampai sekarang belum juga digunakan?

Lepas dari kekecewaan itu, konon fasilitas rumah sakit jiwa di Naimata itu sangat tidak cocok karena letaknya yang tidak strategis. Kebetulan lokasi itu merupakan jalur pesawat terbang menuju dan keluar dari Bandara El Tari Kupang. Kondisi demikian sangat tidak nyaman untuk seorang penderita sakit jiwa.

Menjadi aneh kalau betul itu merupakan salah satu alasan sehingga tidak dimanfaatkan fasilitas tersebut. Kalau memang itu masalahnya, kenapa pemerintah terus menambah sarana bangunan di tempat itu? Apakah pemerintah tidak punya lokasi lain untuk pembangunan fasilitas tersebut? Bangunan yang ada bisa saja dialihkan untuk hal lain yang lebih berguna.

Sebaliknya, kalau memang tempat itu masih representatif, maka apa yang dilakukan pemerintah saat ini sebetulnya butuh percepatan. Kita begitu lamban menyelesaikan masalah yang urgen, sementara kebutuhan di level masyarakat sudah mendesak. Rumah sakit jiwa merupakan fasilitas yang perlu bagi masyarakat karena dalam kenyataannya, banyak orang gila di NTT ini justru berkeliaran tanpa perhatian dari pemerintah.

Hal seperti ini merupakan tanggung jawab moral pemerintah dan dewan. Jadi tidak ada gunanya kita saling menuding siapa yang salah atau benar dalam konteks ini. Yang paling penting sekarang adalah, bagaimana upaya semua pihak mempercepat pembangunan fasilitas di lokasi itu. Menunda hal yang urgen merupakan preseden buruk bagi pembangunan manusia secara utuh. Semua pihak harus mengambil peran agar masalah ini segera diselesaikan. Paling tidak, pemerintah punya upaya untuk meringankan penderitaan para penderita sakit jiwa.

Kalau memang pemerintah serius menangani problem sakit jiwa masyarakat NTT, pertanyaan penting yang mendesak dijawab pemerintah, kapan pembangunan rumah sakit jiwa ini selesai. Kapan pula mulai dioperasikan untuk melayani masyarakat kita yang mengalami sakit jiwa? Kita tunggu jawabannya.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved