Membendung Konsumsi Berita Sesat
Selain upaya kontrol dari pemerintah, Menkominfo, Rudiantara, menyerukan bahwa pemberantasan berita sesat dapat berjalan efektif
Oleh Joseph Robert Daniel
Peneliti Sosial di IRGSC, Alumnus Magister Manajemen UKSW
POS KUPANG.COM - Di zaman keterbukaan informasi ini, teperdaya oleh berita sesat (hoax) di media adalah sebuah bencana. Fenomena berita sesat telah menggelisahkan banyak orang, terutama ketika seliwerannya tak terbendung di tengah peristiwa-peristiwa yang rentan ketegangan horizontal dan membahayakan stabilitas bernegara. Tak sudi rakyat dirugikan, pemerintah Indonesia sebagai pengendali "pasar informasi" kini mulai tegas dengan "menertibkan penjual" hingga "mengontrol kualitas produk", agar pengguna informasi bisa terbebas dari "produk abal-abal".
Selain upaya kontrol dari pemerintah, Menkominfo, Rudiantara, menyerukan bahwa pemberantasan berita sesat dapat berjalan efektif apabila ada partisipasi proaktif dari masyarakat sebagai pengguna informasi. Di tataran paling privat, partisipasi proaktif ini dapat dilakukan dengan mengendalikan kebutuhan dan keinginan individual kita akan informasi setiap harinya, agar tidak mudah terkecoh dengan berita sesat. Pengendalian itu tentu akan sulit dilakukan apabila kecenderungan-kecenderungan psikologis yang menggerakkan konsumsi berita sesat itu tidak kita kenali.
Bila diteropongi dengan lensa keperilakuan, sekurang-kurangnya ada empat kecenderungan yang dapat membiangi keterkecohan kita dengan berita sesat. Kecenderungan pertama adalah lebih mudahnya kita dibuai informasi yang membenarkan atau mengonfirmasi pemahaman awal kita mengenai suatu masalah. Kita lebih mudah menolak informasi yang bertentangan dengan prapaham kita ketimbang menerimanya.
Berita sesat biasanya memuat informasi yang membenarkan pemahaman awal hingga membesar-besarkan harapan kita, meski secara faktual adalah keliru. Oleh karena informasi itu kita anggap cocok dengan apa yang sudah kita pahami, sangka, atau harapkan sebelumnya, maka kita pun lebih gampang menganggapnya sebagai sebuah kebenaran.
Kecenderungan yang kedua adalah menyeragamkan sikap pribadi dengan sikap mayoritas. Ketika kita bisa lolos dari jebakan pemahaman awal kita sendiri, tak jarang kita tunduk pada dorongan senyap untuk menyeragamkan sikap pribadi dengan sikap umum kelompok kita, apabila masalah yang dihadapi adalah masalah bersama. Penyeragaman sikap sering membuahkan penerimaan dan stabilitas, sedangkan ketidakseragaman memunculkan riak-riak ketidaksolidan.
Penyebar berita sesat biasanya memahami betul kecenderungan psikologis ini. Amat mudah kita temui di media sosial berita sesat yang disebarkan suatu kelompok untuk menyerang atau memojokkan kelompok lain. Identitas sosial adalah pemantik jitu untuk memulai perpecahan.
Kecenderungan yang ketiga adalah kecenderungan untuk lebih responsif terhadap berita-berita negatif. Dalam studi-studi tentang perangkat berpikir manusia, telah banyak disepakati bahwa kita cenderung lebih atentif dan responsif antara lain terhadap informasi-informasi yang bersifat ancaman. Berita-berita yang menonjolkan kebobrokan, kebencian, prasangka, dan hal-hal negatif lainnya masuk dalam kategori ancaman itu.
Kecenderungan ini sebenarnya terkodratkan untuk membantu kita untuk bertahan hidup dalam lingkungan alam yang keras, sehingga dalam situasi sosial yang mencekam, kita cenderung lebih sensitif terhadap informasi-informasi negatif. Situasi semacam ini merupakan "lahan subur" bagi oknum-oknum tak bertanggung jawab untuk menyemaikan informasi-informasi menyesatkan, sehingga tanpa kehati-hatian, kecenderungan kita di atas dapat membawa masalah.
Kemampuan kita untuk menanggulangi gempuran simultan ketiga kecenderungan di atas ditentukan oleh satu faktor yang lain: ketersediaan energi mental. Dengan energi mental dimaksudkan "tenaga pikiran" yang kita miliki pada saat diperhadapkan dengan informasi untuk mulai memprosesnya.
Sama halnya dengan tenaga fisik, tenaga pikiran kita juga cenderung terbatas setiap harinya. Oleh sebab itu mencerna informasi yang pelik dan jamak secara hati-hati dapat dengan cepat melelahkan pikiran. Layaknya otot yang bila dilatih terus tanpa istirahat, maka suatu saat bisa lelah, pikiran manusia yang digenjot untuk memproses informasi tanpa henti juga akan cepat loyo. "Diserang" oleh berita sesat di saat energi mental kita tidak cukup untuk mengekangi kombinasi tiga kecenderungan di atas hanya akan menghasilkan kegegabahan.
Perilaku kita jadi gampang didikte oleh luapan emosi dan menjadi latah dengan perilaku "kerumunan". Itulah karenanya, keterampilan memelihara kadar energi mental sepanjang hari agar dapat menalar dengan baik adalah keterampilan yang krusial dimiliki di era keterbukaan informasi saat ini, dan khususnya ketika menyikapi peristiwa-peristiwa sosial yang genting.
Di level paling privat, partisipasi proaktif kita memerangi berita sesat dapat dilakukan dengan mengendalikan keempat kecenderungan di atas yang membuat kita mudah terkecoh dengan berita sesat. Hal-hal seperti istirahat yang berkualitas, menjadwalkan waktu khusus berselancar di internet secara disiplin, dan kritis mengevaluasi pemahaman pribadi maupun pemahaman kelompok terhadap informasi adalah bentuk-bentuk pengendalian sederhana yang perlu mulai kita biasakan. Bila sebagai pengguna informasi kita pun tidak gampang terkecoh dengan berita sesat, maka upaya pemberantasan berita sesat oleh pemerintah pun dapat terbantu dan menjadi lebih efektif.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/berita-hoax_20170109_171054.jpg)