Duet dalam Duel
Debat antar pasangan calon (Paslon) yang siap bertarung di Pemilukada bukan mustahil turut menentukan penilaian
Atas pertanyaan kedua: Apa yang harus (saya) dia/calon lakukan? Kant mengemukakan sebuah imperasi kategoris bahwa setiap manusia mesti bertindak seturut maxim moral dan kehendak baik (Kant: 1983, 51). Bertolak dari problem di masyarakat, apa yang hendak/harus dilakukan oleh calon?
Di sini publik diajak menguji kembali visi dan misi setiap paslon. Visi-misi sebagai bentuk "imperasi", baik itu hipotetis maupun asetoris, harus bersifat pragmatis berdasarkan prinsip-prinsip imperatif kategoris (moral dan kehendak baik). Inilah yang menjadi harapan rakyat sebagaimana yang dirumuskan Kant dalam pertanyaan ketiganya: Apa yang boleh saya harapkan (dari seorang calon)?
Kant mengakhiri refleksi filosofisnya dengan pertanyaan antropologis: Apa itu manusia? Jawaban atas pertanyaan ini bertolak dari jawaban atas ketiga pertanyaan sebelumnya. Berdasarkan pemahaman ini, kita lalu menetapkan apa atau siapa yang menjadi pilihan.
Kita boleh memahami bahwa momen debat pasangan kandidat di pemilukada tidak hanya menjadi ujian/tes bagi para calon tetapi juga menyisakan sebuah tugas rumah yang berat bagi publik atau rakyat pemilih dalam menilai "jawaban-jawaban" atau argumen yang diberikan. Di sini sikap kritis pemilih juga ditantang untuk tidak sekadar "meluluskan dan meloloskan" calon tertentu begitu saja pada saat pemberian suara.
Dalam debat, publik atau rakyat memainkan peran dalam "juri" untuk menentukan siapa yang layak "menang" dalam pertarungan pemilukada.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/calon-gubernur-dki-jakarta-2017-agus-harimurti-yudhoyono_20170114_180633.jpg)