Hemat Nasi Cara Timor

Posisi beras sebagai makanan pokok ini menyebabkan ketergantungan yang amat tinggi akan ketersediaannya dalam neger

Hemat Nasi Cara Timor
POS KUPANG/ROBERT ROPO
ilustrasi 

Oleh Astried Priscilla Cordanis
Mahasiswi Program Magister Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB; Alumna Faperta Undana

POS KUPANG.COM - Negara-negara di Asia menempatkan beras sebagai salah satu komoditas terpenting dikarenakan menjadi salah satu makanan pokok masyarakat Asia. Sebagian besar produksi beras juga dihasilkan oleh negara-negara di Asia.

Posisi beras sebagai makanan pokok ini menyebabkan ketergantungan yang amat tinggi akan ketersediaannya dalam negeri dari tiap negara, salah satunya Indonesia. Sadar akan pentingnya ketersediaan beras dalam negeri, maka pemerintah melakukan kontrol melalui Bulog yang mengurusi ketersediaan pangan di Indonesia. Ketersediaan beras di Indonesia inipun kerap menjadi perdebatan antara kebijakan pemerintah dan masyarakat Indonesia lainnya. Perdebatan yang terjadi biasanya seputar ketersediaan beras yang tak mencukupi sehingga dilakukan impor atau harga beras yang melambung tinggi.

Permasalahan yang dipersoalkan oleh masyarakat adalah semakin tingginya impor yang dilakukan oleh pemerintah, sedangkan Indonesia dinilai sebagai negara yang memiliki potensi di bidang pertanian. Namun jika dilihat dari impor beras yang dilakukan pada sepanjang Januari-Oktober 2016 mencapai US$ 480,33 juta, nilai ini meningkat signifikan pada bulan yang sama di tahun sebelumnnya yang mencapai US$ 110,39 juta.

Peningkatan impor tahun 2016 ini mencerminkan kemampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri yang semakin lemah.

Berbagai penyebab yang diperkirakan menjadi pemicu kurangnya persediaan beras dalam negeri seperti alih fungsi lahan sehingga lahan pertanian semakin berkurang; perubahan cuaca yang tak menentu belakangan ini akibat El Nino menimbulkan kebingungan dan kerugian pada petani sehingga petani mengalami gagal panen. Ketergantungan yang tinggi akan beras ini menyebabkan pemerintah terpaksa terus melakukan impor beras karena terpenuhinya kebutuhan pangan dalam negeri merupakan aspek yang pertama dan terutama.

Impor tak menyelesaikan masalah
Impor sebenarnya tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah. Sebagian besar masyarakat Indonesia yang mengonsumsi beras adalah masyarakat dengan perekonomian menengah ke bawah.

Impor beras yang semakin tinggi tidak menyelesaikan permasalahan petani dan harga beras menjadi semakin tinggi menyebabkan kemampuan masyarakat untuk mengonsumsi beras semakin rendah, sehingga sering kita temui permasalahan kelaparan dan kurang gizi yang dialami masyarakat dengan perekonomian lemah. Selain itu tabungan masyarakat yang bertujuan untuk pendidikan anak atau investasi akan semakin kecil karena harus membeli beras.

Solusi dalam masalah kurangnya beras
Ada cara lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi ketergantungan yang amat tinggi terhadap beras, bukan dengan cara mengurangi porsi makan kita atau dikenal dengan diet, melainkan dengan melakukan substitusi pangan.

Ada beberapa komoditi yang bisa disubstitusi dengan beras dan memiliki kandungan karbohidrat yaitu gandum, jagung, pisang dan juga umbi-umbian. Namun, substitusi yang dilakukan ini sepertinya tidak mudah karena kebiasaan masyarakat Indonesia mengonsumsi nasi. Bahkan muncul istilah "belum makan, kalau belum makan nasi". Tapi jangan khawatir, masyarakat di NTT telah mampu melakukan substitusi antara beras dan jagung yang rasanya tak mengkhawatirkan sudah terbukti bertahun-tahun.

Masyarakat NTT khususnya Timor mencampur beras dengan jagung yang sudah dikeringkan dan dihancurkan dengan menggunakan mesin atau ditumbuk (cara tradisional) hingga menyerupai bulir-bulir beras. Cara menghemat ala Timor ini dapat mengurangi ketergantungan akan beras. Selain itu terdapat beberapa nilai lebih antara lain nilai gizi jagung yang lebih dari beras dengan kandungan beras 180 kilokalori energi dalam 100 gram nasi.

Meski begitu nasi memiliki indeks gilemik yang tinggi sehingga dapat menyebabkan kandungan gula darah dalam tubuh meningkat, sedangkan jagung mengandung 154 kilokalori serta mengandung antioksidan dan kaya betakaroten sebagai pembentuk vitamin A. Harga jagung relatif lebih murah dari beras, mendorong usahatani jagung di Indonesia.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved