Kita dan Bukan Kita

Sebagaimana Rabu 30 November 2016, seluruh komponen bangsa di seluruh wilayah Indonesia melaksanakan apel bersama Nusantara Bersatu.

Editor: Agustinus Sape
(ANTARA FOTO/Spedy Paereng)
Ilustrasi nusantara bersatu 

Catatan Seputar Kegiatan Nusantara Bersatu

Oleh: Pankratius Balun
Warga Kayu Putih Kota Kupang

SECARA masif, kondisi kekinian Indonesia telah memaksa kita yang mengaku menjadi bagian dari warga negara untuk bersikap. Berbagai bentuk sikap telah pula termanifestasi dalam perilaku yang beragam pula. Mulai dari pemimpin tertinggi, penyelenggara dan pengambil kebijakan pemerintahan, tokoh agama, tokoh masyarakat sampai masyarakat pada tingkatan terkecil.  Sebagaimana Rabu 30 November 2016, seluruh komponen bangsa di seluruh wilayah Indonesia melaksanakan apel bersama Nusantara Bersatu.

Terlepas dari pemaknaan dan makna kegiatan yang diusung, oleh penulis ada beberapa fenomena dalam hubungan sosial kemasyarakatan yang sekarang semakin nampak secara pribadi maupun kelompok dan harus menjadi perhatian bersama. Fenomena yang paling jelas dan mengarah pada sebuah gejala sosial ini adalah suburnya budaya pelabelan diri sebagai kita (kelompok kita) dan kelompok bukan kita.

Hampir semua kasus yang mengarah kepada sensitivisme komunal, mengarah juga kepada kemunculan gesekan-gesekan struktural verbal yang cenderung kebablasan. Hilangnya semangat dan budaya musyawarah, buramnya etika saling menghormati, kuatnya keinginan kelompok untuk mengaktualisasikan diri, pemaksaan hukum berdasarkan keinginan, pelecehan secara sadar terhadap simbol negara, misalnya pada satu titik justru memberikan pendidikan politik kewarganegaraan yang salah bahwa upaya segregasi antara kelompok, suku, etnis adalah sesuatu yang lumrah. Celakanya lagi dalam bingkai sebuah negara bangsa yang kita akui bersama sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia seolah-olah perilaku-perilaku menyimpang tersebut menjadi media tumbuh labelisasi kita dan bukan kita.

Kita dan Bukan Kita
Secara umum dalam setiap kemunculan kasus yang sensitif komunal khususnya, ada kecenderungan setiap individu terlibat secara sadar melabelkan kelompok sebagai "kita" dan melihat orang lain di luar kelompok sebagai `bukan kita". Konsekuensi ikutan yang muncul dari proses labelitas ini akan nampak pada perilaku anggota kelompok untuk memperbesar kran aksentuasi kelompok dalam bentuk perilaku-perilaku yang kurang harmonis, sebaliknya pada momentum yang sama secara sadar pula akan mengunci kran perilaku dan menempatkan kelompak "bukan kita" sebagai pesaing ketimbang sebagai pembanding.

Pada muaranya, kemunculan kasus bernuansa pensegregasian kelompok seperti ini cenderung akan berlanjut ke arah konflik. Hubungan antar personal tertentu dalam kedua kelompok (meskipun saling kenal) pun hanya akan didasari oleh kesadaran untuk saling menjaga dan memperkuat kredibilitas kelompok "kita". Menurut pendapat penulis, kecenderungan menguatnya relasi sosial yang tidak mencerminkan ke-Indonesia-annya ini sesungguhnya dipengaruhi oleh faktor etnosentrisme.

Sebagaimana dikatakan Hammer dan Nishida (Cookie W. Stephen dan Walter G. Stephen; 2002) bahwa konsekuensi dari etnosentrisme adalah munculnya anggapan bahwa diri mereka lebih superior dari kelompok lain serta adanya anggapan bahwa norma-norma pada kelompok sendiri bersifat baik, lebih pantas dan lebih bermoral dibandingkan dengan norma yang dimiliki oleh kelompok di luar kelompok tersebut. Artinya ada kecenderungan memandang/menempatkan kelompoknya sebagai kelompok yang memiliki "nilai lebih" dari kelompok yang lain.
Dalam beberapa kasus yang kemudian terjadi mobilisasi massa yang besar, loyalitas mentalitas insuler anggota kelompok ini akan mudah tersulut ke arah tindakan nyata (perilaku berkonflik), terlebih ketika kurangnya kemampuan menangkap dan memaknai sebuah alasan, maksud dan tujuan dasarnya. Jika hal ini tidak menjadi perhatian bersama untuk sesegera mungkin diluruskan, bukan sesuatu yang mustahil kekhawatiran akan munculnya benih-benih disintegrasi benar-benar terwujud.

Nusantara Bersatu
Dalam konteks nasionalisme, pembentukan negara bangsa selain karena memang sudah dari sananya (given) juga karena akibat upaya bersama untuk bersatu. Indonesia, dari perjalanan sejarahnya, sesungguhnya terdiri atas berbagai suku bangsa dan etnis. Karena kesamaan tujuan menghalau kolonialisme, maka munculah persatuan sebagai implementasi kesadaran bahwa pencapaian tujuan tidak dapat dilakukan secara sporadis. Dari upaya "bersatu" mengusir kaum penjajah pada akhirnya melahirkan Nusantara yang baru; Negara Republik Indonesia.

Jika tujuan utamanya adalah menghalau penjajah, maka ketika kemerdekaan itu tercapai, apakah persatuan dan kesatuan juga harus disudahi? Selintas pertanyaan ini memang terdengar sebagai sebuah guyonan semata. Akan tetapi jika diperhadapkan dengan kondisi kekinian Indonesia, apakah kita masih menganggap sebagai sebuah pertanyaan retoris?

Kembali kepada Nusantara Bersatu, mungkin sebagian kita tentunya memperdebatkan bagaimana sesungguhnya kondisi Indonesia saat ini. Apakah nusantara yang kita cintai telah berada pada stadium yang mengkhawatirkan, sehingga harus ada upaya penyatuan kembali. Memang secara kasat mata Indonesia hari ini masih seperti kemarin, tidak ada gejolak yang berarti. Tetapi bagaimana pun kondisinya kita tidak boleh dikecohkan. Kita tetap sadar dan percaya bahwa peluang munculnya distabilitas dan disintegrasi bangsa akan tetap ada sepanjang bertambahnya usia negara. Kita memiliki potensi, karena kita telah bersepakat untuk bersatu dalam perbedaan beragam suku dan etnik.

Kendatipun keragaman etnis dengan seluruh muatan budayanya cenderung menciptakan orientasi budaya, sikap dan perilaku serta sistem nilai yang berbeda termasuk dalam urusan dengan Sang Ilahi melalui pandangan dan prakteknya yang beragam. Akan tetapi jika perbedaan ini tidak sedini mungkin dijelaskan dengan terbuka, hati-hati dan tuntas, maka akan cenderung menimbulkan prasangka (prejudice) antar kelompok kita dan bukan kita. Sebaliknya, segala bentuk perbedaan dan pluralisme ini juga dapat menciptakan dan memperkuat intergrasi negara bangsa.

Hal ini terjadi ketika ada kesadaran dan kesepahaman yang muncul dimana masing-masing kelompok yang berbeda mengakui bahwa tidak ada yang harus diperdebatkan karena toh dari sananya kita memang berbeda. Kita semua adalah kami dan kamu, bukan mereka atau bukan kami. Mari kita bangunkan kembali kesadaran bersama demi nusantara yang diidamkan. Semoga.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved