Mantan Petinju Indonesia Chris John Turun Gunung

Nyaris satu dekade sabuk juara kelas bulu WBA melingkar di pinggangnya. Derrick Gainer berusaha merebut sabuk tersebut pada 2005, namun kandas.

Mantan Petinju Indonesia Chris John Turun Gunung
ISTIMEWA
Chris John berpose dengan sejumlah petinju yang berpartisipasi dalam Indonesian Boxing Championship (IBC). 

"Ya, benar, tubuh kelihatan gemuk sekarang. Latihan sudah berkurang," seloroh Chris John yang ditemui di kompleks Studio Kompas TV, Palmerah, Jakarta Selatan, awal Oktober lalu.

Pria bernama lengkap Yohannes Christian John itu ditemui saat tengah mengawasi sesi timbang badan untuk program sport reality show yang turut dibidaninya bernama 'Indonesia Boxing Championship (IBC)'.

Program IBC dimulai sejak 15 Agustus, didahului proses seleksi para petinju kelas bulu dari seluruh tanah air. Episode pertama mulai ditayangkan Kompas TV pada 2 September dan dijadwalkan setiap Jumat sejak pukul 22.00 WIB. Sebanyak 13 episode ditayangkan hingga akhir November ini.

Sebagai inisiator, suami dari mantan atlet wushu Anna Maria Megawati ini berperan penting dalam seluruh proses sejak tahap seleksi, penayangan hingga setelah lahir sang juara. Meski mengambil konsep reality show, acara tersebut tidak didominasi unsur olahraga atau hiburan semata. Ada pula anasir kepelatihan dan pemberian motivasi yang ditangani langsung oleh Chris yang bertindak sebagai komentator sekaligus mentor.

Menjemput penerus 

Setelah masa jaya Chris berakhir, tinju tanah air terus berada dalam masa penantian akan lahirnya juara dunia baru. Satu-satunya petinju yang diharapkan mengikuti jejak Chris hanya Daud "Cino" Yordan.

Pria kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat, itu sempat merajai dua kelas berbeda, yakni kelas featherweight dan lightweight versi International Boxing Organization (IBO). Meski terbilang telat, di usia ke-29, Cino tengah berada di jalur menuju gelar juara dunia kelas ringan versi WBA setelah merebut sabuk juara kelas ringan WBA International dari petinju Argentina Cristian Rafael Coria di Uruguay, awal Juni lalu.

Setelah Cino, belum ada tanda-tanda akan datangnya juara baru dari Indonesia. Situasi ini mendorong Chris untuk turun gunung mengambil bagian secara langsung dalam mencari bibit-bibit muda melalui program IBC Kompas TV itu.

"Program ini dimulai dari kaca mata saya sebagai mantan pelaku atau petinju sehingga saya tahu bagaimana cara supaya semua petinju tersaring dan menemukan bakat-bakat terbaik," terang Chris yang memiliki total pertarungan sebanyak 52 kali dengan 48 kali menang dengan 22 dari antaranya menang KO, tiga kali seri dan sekali kalah.

Sebagai program pencarian bakat yang dikemas secara baru dan segar, acara ini didukung penuh oleh Komite Tinju Profesional Indonesia (KTPI) untuk memastikan standar keselamatan dan keamanan. Sasaran jangka panjang pun jelas, tidak hanya mencakup satu kelas saja dan hanya berakhir di layar televisi.

Halaman
123
Editor: Hyeron Modo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved