Meneladani Para Pahlawan

Bung Hatta saking gemar membaca, ketika diasingkan penjajah Belanda ke Banda Neira, ia membawa berpeti-peti buku yang kemudian dibacanya

Editor: Agustinus Sape
Pos Kupang/ist
ZIARAH - Dandim 1601/Sumba Timur, Letkol Inf Elvin Tiomada Saragi saat berziarah di Taman Makam Pahlawan di Kelurahan Kambajawa, Senin (3/10/2016). 

Oleh: Alexander B. Koroh
Alumnus Victoria University of Wellington

SUATU waktu Bung Hatta pernah mengeluh bahwa Indonesia ke depan akan dipimpin oleh pemimpin yang kerdil. Tentu saja yang dimaksudkan bukan pemimpin yang bertubuh pendek atau zakeus, tetapi lebih pada ranah berpikirnya. Kekerdilan berpikir/picik bagi seorang pemimpin entah pada level apa saja adalah berbahaya. Karena tanpa pengetahuan dan karakter yang hebat seorang pemimpin tidak akan dapat memimpin dengan baik. Artinya ia tidak dapat secara signifikan membawa para pengikutnya agar menjadi semakin baik kualitas hidupnya. Mengapa banyak pemimpin saat ini adalah pemimpin kerdil, perlu dibahas bersama, dengan merujuk pada kualitas para pendiri bangsa sehingga kita dapat menarik pelajaran darinya.

Gemar Membaca
Para pemimpin masa lalu kita adalah pembaca yang hebat. Sejarah Indonesia menceritakan Bung Hatta saking gemar membaca, ketika diasingkan penjajah Belanda ke Banda Neira, ia membawa berpeti-peti buku yang kemudian dibacanya secara teratur pada masa pembuangan ini. Hal kegemaran membaca pada setiap situasi, termasuk dalam kondisi  yang sulit sekalipun juga dilakukan oleh Bung Karno, Syahrir, dan Haji Agus Salim. Padahal waktu itu, untuk mendapat sebuah buku sulitnya bukan main, tetapi karena komitmen dan semangat membaca para pahlawan kita yang luar biasa, mereka rela berkorban untuk memperoleh buku dan membacanya. Dengan demikian cakrawala dan ketajaman berpikir mereka adalah luas dan cemerlang sehingga dapat meletakkan fondasi bangsa yang kokoh bagi Indonesia yang majemuk ini. Ini bukan hal yang mudah. Francis Fukuyama (2015) salah satu dosen dan penulis politik terkenal dunia dari Amerika Serikat, mengagumi kualitas dan kemampuan pendiri bangsa kita dalam membangun karakter bangsa dan rasa persatuan dan kesatuan yang masih kita miliki hingga saat ini. Banyak negara baru yang muncul pasca perang dunia kedua, yang gagal melakukan hal ini.

Kegemaran membaca pendahulu bangsa ini, tidak saja memperluas dan mencerahkan cakrawala berpikir mereka, tetapi juga membentuk hati teguh pada pendirian, dan tabah menghadapi tekanan dan penderitaan dari penjajah yang mengerikan. Karena itulah, meskipun Bung Hatta dan Syahrir misalnya yang berperawakan pendek sejatinya memiliki pikiran cemerlang dan jauh (tinggi) ke depan. Mereka memikirkan hal-hal yang baik dan mulia untuk masa depan bangsa ini.

Akan tetapi, fakta menyedihkan sedang terjadi di tengah-tengah bangsa ini. Hasil survei yang dilakukan OECD terhadap tingkat kecakapan orang dewasa dan anak-anak Indonesia adalah masuk dalam kategori paling rendah, berada di uratan 60 dari 64 negara yang disurvei. Kemampuan literasi bangsa ini termasuk paling rendah (Kompas, 1 September 2016). Artinya, kegemaran membaca yang telah ditunjukkan para pendiri bangsa kita, belum dapat kita teladani dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang dikhawatirkan oleh Bung Hatta, tanpa kegemaran membaca tampaknya bangsa ini akan tertinggal dalam banyak hal dibandingkan dengan negara lain dengan tingkat kegemaran membaca lebih tinggi. Tetangga kita, Malaysia, apalagi Singapura, memiliki kemampuan literasi jauh di atas bangsa Indonesia, dan fakta menunjukkan bahwa kedua negara ini lebih maju ketimbang Indonesia.

Idealis dan Sederhana
Idealisme para pendiri bangsa dalam memerdekakan dan membangun Indonesia sangat tinggi. Karena itu, mereka lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara ketimbang kepentingan pribadi. Putra Sutan Sjahrir, Kriya Arsjah Sjahrir, menggambarkan dengan jelas sosok idealisme ayahnya yakni "Istri nomor satunya (Sutan Sjahrir) adalah negara dan rakyat Indonesia. Ibu saya adalah istri keduanya. Ayahnya tak pernah berpikir untuk mengumpulkan harta, yang penting Indonesia merdeka dan rakyat sejahtera" (Integrito, 2015). Karena itu, menurut Bonnie Triyana sejarawan Indonesia, bagi pendiri bangsa kita demi Indonesia, mereka rela hidup miskin, dibui, mengorbankan studi atau menunda kesenangan pribadi. Mereka tidak berpikir untuk memperkaya diri. Mereka tidak pernah berpikir untuk menjadi lebih kaya di saat sedang menjabat. Yang lebih penting bagi mereka adalah, bagaimana gagasan-gagasan besar mereka bisa terlaksana. Pendiri bangsa kita justru lebih banyak berkorban.  

Kesederhanaan mereka terlihat benar sebagai berikut. Bung Hatta setelah pensiun untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia harus terus menulis untuk surat kabar nasional untuk mendapat honorarium, uang pensiunnya tidak memadai. Kala itu, ia berkeinginan membeli sepasang sepatu merek Belly dengan uang tabungannya tetapi tidak pernah tercapai, karena uang tabungannya terus dipakai untuk membantu yang membutuhkan. Sjafruddin Prawiranegara adalah Menteri Keuangan yang tak punya uang, demi menyambung hidupnya dirinya sering berjualan koper berisi pakaian ala kadarnya. Sebagai orang kepercayaan Bung Karno ia tidak pernah memanfaatkan pengaruhnya untuk memperkaya diri. Setelah pensiun, rumah dinas yang ditempatinya langsung dikembalikan kepada negara, karena menurutnya, rumah dinas dan segala fasilitasnya dibayar pakai uang rakyat yang hidupnya masih melarat. Ia tidak boleh bersenang-senang di kala rakyat sedang susah menjalani hidup. Sjafruddin setelah pensiun menjadi pendakwa yang sederhana. Pendakwa sejati tentunya, karena antara apa yang dipikirkan, dibicarakan, dan dilakukan adalah utuh dan sempurna, tak terpecah-pecah; inilah integritas sesungguhnya.

Kehidupan yang idealis dan sederhana juga dilakukan dengan sangat baik oleh M. Natsir. Dalam pilihan hidupnya yang sederhana, ia berujar, "Cukuplah yang ada. Jangan cari yang tiada. Pandai-pandailah mensyukuri nikmat." Hal yang sama juga dilakukan oleh Haji Agus Salim, kehidupan sederhana menjadi pilihannya dalam rangka menjaga integritasnya. Demikian pula halnya dengan SK Trimurti, ketika ditawari pemerintah untuk memperoleh fasilitas rumah di daerah Menteng setelah menjadi menteri ia menolaknya. Ia lebih memilih tinggal di rumahnya yang sederhana di Jl. Kramat Lontar, dengan alasan agar lebih dekat dengan rakyat (Itegrito, 2015).

Menerapkan idealisme, pola hidup sederhana, dan kegemaran membaca para pendiri bangsa kita tampakanya harus segera kita teladani. Sebab dengan pola hidup seperti itulah, kita dapat membangun bangsa Indonesia yang maju dan beradab, sehingga dapat terus maju sebagaimana telah dialami negara-negara maju. Pengabaian terhadap berbagai nilai dan kualitas hidup yang telah ditampilkan pendiri bangsa ini tampaknya akan terus memposisikan kita sebagai bangsa yang kerdil sebagaimana pernah dikhawatirkan Bung Hatta. Semoga Hari Pahlawan terus menginspirasi kita. Berubahlah.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved