Breaking News:

MAUMERE JAZZ FIESTA DI HUTAN BAKAU

Bambang Brodjonegoro Berdecak Kagum

Jazz Fiesta, Minggu (16/10/2016) malam menjadi event perdana yang besar di Provinsi NTT. Perdana, karena jauh sebelum festival ini, belum pernah tersi

Editor: Alfred Dama
POS KUPANG/EUGENIUS MOA
Wisatawan asing ikut menikmati Maumere Jazz Fiesta, Minggu (16/10/2016) sore. 

Untuk menikmati jazz di alam terbuka butuh tenaga ekstra. Penonton harus berjalan kaki sekitar 1 kilometer menuju panggung.

POS KUPANG.COM, MAUMERE -- Jazz Fiesta, Minggu (16/10/2016) malam menjadi event perdana yang besar di Provinsi NTT. Perdana, karena jauh sebelum festival ini, belum pernah tersiar kabar event serupa mendatangkan penyanyi jazz top di negeri ini.

Siapa yang tak kenal penyanyi Trie Utami, Syaharini, Ivan Nestorman, anak Manggarai yang malang melintang di dunia musik dengan lagu-lagu jazz-nya. Penyanyi senior Andre Hehanusa dan Djaduk Ferianto.

Musik jazz, dalam persepsi kebanyakan orang adalah musik bagi masyarakat kelas menengah ke atas. Ketua Komisi XI DPR RI Melchias Markus Mekeng seolah menghadirkan Panggung Maumere Jazz Fiesta guna meretas persepsi itu. Bahwa musik jazz bukan lagi selera kaum kelas menengah ke atas. Jazz bisa dinikmati siapa saja.

Festival ini memberi warna baru yang menyatukan semua elemen dan lapisan masyarakat asal Kabupaten Sikka, Ende dan Nagekeo. Mereka tumpah ruah di arena festival. Semua penuhi kawasan hutan bakau dengan satu tujuan yakni menikmati musik jazz.

Dipilihnya kawasan hutan bakau milik Baba Akong di Ndete, Desa Rero Roja, Kecamatan Magepanda, 32 Km arah utara Kota Maumere, juga bukan tanpa dasar.
Melky Mekeng memilih tempat ini untuk mempromosikan lingkungan hidup. "Belum ada hutan bakau seluas ini yang ditata begitu bagus," kata Melky kepada Pos Kupang, Kamis (13/10/2016).

Tanaman penyangga pantai dari ancaman abrasi, diakui Melky, telah menjadi benteng ketika gempa bumi dasyat diikuti gelombang tsunami meluluhlantahkan Maumere, 12 Desember 1992 yang menewaskan lebih dari 2.000 orang. Dia menghadirkan para musisi jazz guna mengampanyekan pentingnya menjaga kelestarian alam.

Jalan berliku di ruas jalan nasional dari Kota Maumere ke arah utara meliuk-liuk di kaki bukit pembatas pantai, menyajikan panorama memanjakan mata. Untuk menikmati jazz di alam terbuka butuh tenaga ekstra. Penonton harus berjalan kaki sekitar 1 kilometer menuju panggung. Mereka pun harus berebut tempat untuk menjejakan kaki di jalan setapak yang dibuat dari karung-karung bekas zak semen. Jika kuran hati-hati bisa terpeleset ke dalam lumpur pantai hutan bakau.

Setelah jalan setapak dua ratusan meter, selanjutnya harus esktra waspada melewati jembatan yang dibangun dengan 2.500 bambu oleh Baba Akong. Ratusan orang berjubel pada jembatan selebar 80-an cm sepanjang 450 meter membelah hutan bakau.
Topangan bambu-bambu yang telah dimakan usia, sewaktu-waktu mengancam pengguna jalan. Minggu malam itu, tiga kali jembatan roboh karena beratnya lalu lalang manusia.

Pengorbanan tidak akan sia-sia ketika telah sampai di panggung festival di pesisir pantai utara Laut Flores. Peluh dan keringat terbayar. Bukan hanya indahnya alunan musik jazz dan suara khas Trie Utami, Syaharani, Ivan, Andre Hehanusa, Djaduk, Ali Akbar, dan Emiel Diejeh & Okestra Satu Sikka. Hijau hutan bakau yang 'dipeluk' deretan pegunungan di sebelah selatan sampai barat di sore hari yang membawa matahari kembali ke peraduannya, membuat mata tak lelah menyaksikannya.

Pasir putih dan hempasan gelombong sore seolah melengkapi alunan musik jazz. Ketika hari masih terang, para penonton menikmati musik jazz sambil berselfie di pantai. Anak-anak kejar-kejaran diburu riak ombak menuju pantai. Suasana makin indah tatkala matahari perlahan hilang di balik bukit di ujung barat. "Pak.., bulan di sana (purnama muncul) kenapa lain sekali. Lihat pak sana," teriak remaja pria belasan tahun mengejutkan banyak penonton yang tengah menikmati suara Trie Utami.

Ketika Pos Kupang ikut berpaling ke arah timur, ternyata ratusan pasang mata sibuk dengan kamera dan ponsel mengabadikan kedatangan 'penguasa' malam. Minggu malam itu purnama pertama perlahan-lahan mendaki bukit. Kedatanganya seperti ikut 'menyaksikan' festival jazz di pesisir pantai kawasan hutan mangrove.

Cahayanya ikut memberi terang arena festival. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Prof. Dr. Bambang Brodjonegoro, menyampaikan rasa kagum ketika menyampaikan sambutan pembukaan. "Ketika kita mulai (jazz), pemandangan natural muncul di balik bukit. Ini luar biasa sekali. Saya bangga dengan festival di hutan bakau dan alam yang natural," puji Bambang.

Melky Mekeng,menuturkan kepada Pos Kupang bahwa penyelenggara memilih hari Minggu karena memperkirakan bersamaan dengan datangnya purnama pertama. "Saya senang event ini sukses. Penyelenggara semula hanya perkirakan bahwa purnama akan muncul di tanggal belasan. Ternyata benar terjadi. Semua orang pada kagum. Mungkin ini pertanda restu alam," ujar Melky, Senin (17/10/2016). (eugenius mo'a/bersambung).

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved