LIGA PELAJAR U16 PIALA MENPORA 2016

Kita Masih Kalah Jam Terbang

Semangat saja tidak cukup. Potensi pemain bukan jaminan. Dana besar dan banyak, bukan segala-galanya. Pola pembinaan yang benar mesti dilakukan.

Penulis: Sipri Seko | Editor: Sipri Seko
ist
SoE Generation 

KETUA Panpel Nasional, Muhamad Kusnaeni, kebanjiran SMS, WA dan BBM terkait pelaksanaan Liga Pelajar U-16 Piala Menpora 2016. Apresiasi diberikan kepada Kusnaeni yang berhasil menggelar event ini.

Betapa tidak, ada 20 ribu pemain bola dari seluruh Indonesia yang terlibat dalam kejuaraan ini. Sebuah potensi yang luar biasa. Meski baru pertama digelar tetapi mampu diselenggarakan di 31 provinsi dengan melibatkan 950 klub sepakbola. Ada harapan, semoga para pemain ini, nantinya mewakili Timnas Indonesia U-16 Piala AFF tahun 2017. Dari klub kampungan, sampai diklat sepakbola ambil bagian. Persib-Jawa Barat keluar sebagai kampiun seusai mengalahkan Persebaya-Jawa Timur di Gelora Deltra Sidoarjo, Jumat (9/9/2016).

Kusnaeni sukses menggandeng Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk menggelar event. Liga Pelajar U-16 ini adalah bagian dari tangga pembinaan sepakbola Indonesia yang digagas dalam upaya mengembalikan kejayaan sepakbola Indonesia berjenjang dari kabupaten/kota beranjak ke provinsi hingga ke di tingkat nasional. Juara dari bawah barulah berkiblat ke level yang lebih tinggi. Dari usia muda hingga dewasa menuju tangga juara sejati.

Kusnaeni didukung koodinator provinsi (korprov) seluruh Indonesia sudah merealisasikan apa yang menjadi cita-cita para penggerak event ini. Dari kedisiplinan regulasi mulai kabupaten/kota, provinsi dan nasional, tertata rapi walau masih harus dibenahi. Dari kejuaraan ini minimal kita sudah tahu apa yang mesti dilakukan dalam pembinaan, penyelenggaraan hingga pembiayaan.

Bukan sekadar menjadi juara, tapi pembentukan karakter pemain sangat melekat. Menpora pantas berbangga. Antusiasme para pelajar dari seluruh Indonesia merupakan sebuah potensi yang tak boleh diabaikan.

Bagaimana dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)? Minim anggaran. Bahkan sama sekali tak ada. Namun salut buat para koordinator/panitia daerah seperti Yanto Jalil, Petrus Abanat, Joao Fransisco Leki dan Early Lahal yang telah menggelar event di daerahnya. Tanpa mereka, NTT tak mungkin menghasilkan SSB SoE Generation sebagai juara yang mewakili NTT di tingkat nasional.

Keberhasilan SoE Generation juga tak lepas dari dukungan Asprov PSSI NTT, Walikota Kupang, Jonas Salean, Bupati TTS, Paul Mella, Ketua Komisi V DPR RI, Fary Dj. Francis dan pihak lainnya. Tak lolos ke babak kedua setelah takluk 0-3 atas Kalimantan Utara dan imbang 2-2 melawan Maluku Utara dan Kepri, Ako Nahak, Leonard Bisilisin dan Omris Boymau telah membuat sejarah sendiri dalam sepakbola NTT di tingkat nasional.

"Ternyata persaingan di tingkat nasional sangat berat. Kita kalah jam terbang. Anak- anak bermain sudah maksimal, namun pengalaman bermain, jadi penentu. Kita minim event. Anak-anak kurang teruji, sehingga ketika bermain di hadapan penonton yang banyak dengan lapangan bagus, mereka gugup. Demam lapangan," kata Pelatih SoE Generation, Leonard Bisilisin.

Apa yang dikatakan Leonard tak salah. Hanya sekali kejuaraan dalam setahun, kita tentu tak bisa bersaing di level nasional. Apalagi, pola pembinaan kita baru mengumpulkan pemain satu minggu menjelang turnamen atau kejuaraan. Mana mungkin bisa berbicara banyak. Lihat saja partai final yang disiarkan secara langsung oleh TVRI. Persib Bandung dan Persebaya Surabaya, dua diklat sepakbola terbaik di Indonesia tampil meyakinkan.

Itu artinya, semangat saja tidak cukup. Potensi pemain bukan jaminan. Dana besar dan banyak bukan segala-galanya. Pola pembinaan yang benar mesti sudah harus dilakukan. Mungkin sudah saatnya kita banyak belajar tentang manajemen pengelolaan SSB. Jangan dulu bicara diklat, karena kita belum punya SDM dan fasilitas yang cukup untuk melakukannya.

Satu pelajaran penting yang mesti kita petik adalah, akses NTT ke level nasional sudah terbuka. Wasit terbaik NTT, Anton Rismiaji didapuk memimpin pertandingan di turnamen ini. Anton bahkan mendapat acungan jempol dari Asosiasi Wasit Profesional Indonesia. Semoga tahun depan, NTT mengukir prestasi. Sedikit demi sedikit, suatu saat, kita akan mencapai level sebenarnya. (sipri seko)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved