Menantikan Petuah yang Lebih Berbunyi
Di sini, saya tidak membeberkan langkah-langkah solutif, melainkan sebuah permenungan
Permenungan atas Kejahatan Human Trafficking di NTT
Oleh Venancius Meolyu
Mahasiswa STFK Ledalero
POS KUPANG.COM - Tulisan ini lebih merupakan refleksi ketimbang eksperimen. Di sini, saya tidak membeberkan langkah-langkah solutif, melainkan sebuah permenungan tentang kejahatan human trafficking yang tak kunjung putus. Tujuan tulisan ini adalah mengevaluasi dan menumbuhkan harapan. Bagian pertama adalah narasi tentang beberapa korban. Kedua, refleksi tentang kejahatan dan kegagalan petuah. Ketiga, motivasi.
Daur
Drama itu bertokohkan empat wanita dan yang lainnya drama tentang harga diri yang terluka, drama tentang sakitnya dunia -hadir mengunjungi ingatan sekaligus jadi penanda kecemasan. Nirmala, Wilfrida, Dolfina, Yulfrida, dan termutakhir wanita yang ditukar dengan Xenia, telah melakonkan drama banal nan kejam. Nirmala Bonat disiksa, hampir mati. Wilfrida Soik dituduh membunuh, hampir mati. Dolfina Abuk ditambal, mati.
Yulfrida Selan diisukan gantung diri, namun anehnya ditambal, mati. Dua puluh kepala yang ekuivalen sebuah Xenia, ibarat komoditi rempah, melukai hati.
NTT hampir rutin mendapat kado "peti mati." Buktinya terlampir. Lalu, ending dari drama perdagangan manusia hampir itu-itu saja: sakit hati atau mati. Siapa pelakunya? Pemain di jalur gelap, pegawai bandara, pegawai di kantor imigrasi. Mereka orang NTT.
Terkenang kisah Yusuf, putra kesebelas Yakub dalam Kitab Kejadian. Ia dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Ending-nya gemilang. Walau merupakan "korban" perdagangan manusia, ia mendulang kejayaan di Mesir. Lalu? Narasi TKI kita, boleh dikata, antitesisnya. Dalam angan, mereka menjual jasa lalu terbit rupiah. Celakanya, jasa plus "jiwa" yang direnggut. Mereka tertipu. Nyawa terbeli. Bermaksud menambang uang malah pulang mengendarai "peti." Bengisnya saudara sendiri.
Polanya hampir baku. Ibarat cetak biru. Setelah rentetan di atas, tertinggal kutuk, sesal atau sakit. Macam-macam. Lalu di mana-mana bermunculan advokasi, petisi, atau solusi.
Kemudian aparat bergerak. Banyak yang terjaring. Bagaimana akhirnya? Tumbuh lagi. Setelah Nirmala ada Wilfrida, lalu Dolfina, kemudian Yulfrida, lalu (.....?)
Kejahatan dan kegagalan petuah
Kasus perdagangan orang yang terbit, terbenam, lalu terbit itu ibarat daur hidup. Boleh jadi, dalam benak, terbersit rasa pesimis bahwa kejahatan bernama human trafficking tidak akan pernah tuntas. Itulah kejahatan. Namun yakinlah, kejahatan bukan merupakan sesuatu yang secara positif berada. Kejahatan hanya bisa dipahami sejauh ada dipahami sebagai yang baik, lalu terdapat celah dari kebaikan itu.
Mengutip refleksi Dr. Kirchberger dalam Allah Menggugat; "universum tidak dapat dibangun di atas dasar kejahatan. Kejahatan hanya bisa merusakkan dan menghambat pembangunan." Implikasinya, human trafficking sebagai kejahatan, walau masif sekalipun, tidak akan pernah menghanguskan NTT. Ia hanyalah batu-batu penghambat menuju NTT yang lebih beradab.
Optimisme boleh tumbuh, namun dari perspektif korban atau keluarga korban yang secara aktual menderita, penghiburan ini tidak ada artinya. Teori "melangit" tentang hakikat kejahatan, bagi mereka, lebih merupakan olok-olok ketimbang bantuan. Lalu bagaimana?
Hal yang patut dicatat, narasi pada pengantar lebih merupakan observasi yang resah, ketimbang harapan akan terbit korban lagi. Observasi tentang korban yang mungkin tumbuh silih berganti tersebut menampilkan kebuntuan upaya-upaya solutif yang ditawarkan. Media cetak atau media elektronik hampir setiap hari memuat berita perdagangan orang. Tidak kurang, simposium, seminar, atau diskusi bertemakan perdagangan orang gencar digelar. Petuah-petuah dari pelbagai perspektif dan langkah-langkah solutif yang hingar-bingar seakan-akan bisu.
Kala korban bertebaran makin ramai, saya memandang tulisan di media atau pun kicauan para ahli telah gagal menyelamatkan dunia dengan petuah-petuah dan pesan. Tulisan ini sendiri pun tampaknya ironis. Seperti yang dikatakan Goenawan Mohamad dalam esainya berjudul Sastrawan, sadar atau tidak, "sebenarnya kita semua hidup bersama dengan kebisuan yang tak bisa diungkap sepenuhnya dalam hal ihwal dunia." Inilah dunia.
Menyadur pendapat Goenawan, media atau yang lainnya tidak mempunyai alam semesta lain kecuali ocehan-ocehan yang tak henti-hentinya dari tulisan atau petuah yang membisu.
Kita tak berhenti di sini saja. Jika petuah-petuah membisu karena kita hidup bersama kebisuan, rupanya petuah kita harus dibuat berbunyi. Bagaimana caranya?