Spirit Transformatif Haji

Berbagai ritual atau manasik haji tidak semata-mata ibadah taqarrub atau pendekatan diri kepada Allah

Editor: Rosalina Woso
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Ilustrasi: Jemaah mengikuti shalat Ied di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (19/8/2012). Umat muslim di Indonesia serentak merayakan Idul Fitri 1433 H. 

Oleh:

Fajar Kurnianto

Transformasi sosial bisa terjadi dari ibadah haji. Berbagai ritual atau manasik haji tidak semata-mata ibadah taqarrub atau pendekatan diri kepada Allah SWT dan pemenuhan rukun Islam kelima, tetapi juga dorongan untuk memaknai nilai-nilai moral atau etis yang terkandung dalam setiap manasik.

Ia berkaitan dengan relasi sosial antarmanusia sebagai modal utama bagi terjadinya transformasi sosial setelah haji selesai dilakukan dan kembali ke tempat masing-masing.

John L Esposito dalam bukunya, Masa Depan Islam: Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat (2010), menggambarkan perihal ibadah haji: "Saat berhaji, pria dan wanita menjalankan ritual bersama. Tidak ada perbedaan jender di tempat tersuci ini.

Dengan mengenakan pakaian sederhana yang melambangkan kesucian, persatuan, dan kesetaraan, mereka menghidupkan kembali peristiwa-peristiwa besar keagamaan.

Jemaah berjalan mengelilingi Kabah, yang dikenal sebagai Baitullah (Rumah Allah) dan dipandang sebagai paling sakral di dunia. Seperti halnya shalat, perjalanan (tawaf) ini melambangkan hubungan spiritual dengan Allah SWT".

Dalam ritual lain, kata Esposito, mereka memerankan kembali Hajar yang berlari-lari mencari air untuk dirinya sendiri dan putranya, Ismail, saat mereka tersesat di padang pasir, mengingatkan perjuangan umat manusia dalam kehidupan.

Menjelang akhir, mereka berkumpul di Padang Arafah untuk memperingati perjalanan haji terakhir Nabi Muhammad SAW serta khotbah perpisahan dengan umatnya.

Pulang kepada Allah SWT

Ali Syari'ati dalam bukunya, Makna Haji (2007), mengatakan bahwa haji merupakan kepulangan manusia kepada Allah SWT yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tidak disepadankan dengan apa pun. Kepulangan kepada Allah SWT merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai, dan fakta-fakta.

Dengan melakukan perjalanan menuju keabadian ini, kata Syari'ati, tujuan manusia bukanlah untuk binasa, melainkan untuk berkembang. Tujuan ini bukan untuk Allah SWT, melainkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Makna-makna itu dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam manasik, atau dalam tuntunan yang bukan manasik, dalam bentuk kewajiban atau larangan, nyata atau simbolik. Semua itu, pada akhirnya, mengantarkan seorang yang berhaji hidup dengan pengamalan dan nilai kemanusiaan.

Syari'ati, misalnya, mencontohkan makna di balik pemakaian pakaian ihram yang sama tanpa perbedaan di miqat. Menurut dia, tidak dapat disangkal bahwa pakaian pada kenyataannya dan juga menurut Al Quran berfungsi sebagai pembeda antara seseorang atau satu kelompok dan lainnya.

Pembedaan tersebut dapat mengantar pada perbedaan status sosial, ekonomi, atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis kepada pemakainya. Di miqat, tempat ritual ibadah haji dimulai, perbedaan harus ditanggalkan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved