Narasi P Paul Ngganggung SVD

Biasa-biasa Saja

Dari sana sini ada yang bergumam: ini kuliah apa. Hanya hura-hura. Bahkan, tidak ilmiah.

Editor: Agustinus Sape
Gerard N. Bibang
Pater Paul Ngganggung SVD 

Oleh: Gerard N. Bibang
Mantan Murid, Tinggal di Jakarta

"CAMPUR baur ka Frietz," jawab Pater Paul. Kami tertawa. " Pater tolong kasih yang ringan-ringan dan sederhana."

Begini ya, lanjut Pater Paul, kalau tiap hari kita bisa tenang mengunyah makanan enak yang tidak bisa didapatkan oleh ribuan saudara-saudara kita di luar sana meski mereka dengan bekerja keras tiga bulan penuh ditambah lembur tiap malam; dan kita mengenyam itu semua dengan perasaan yang tenteram-tenteram saja, maka kemungkinannya ada tiga.

Pertama, kita tidak punya imajinasi sosial. Kedua, kita tahu masalah sosial, tapi tak bisa bersikap ilmiah, sehingga tak bisa merumuskan keharusan-keharusan hidup kita. Kemungkinan ketiga, memang kita kurang bermoral dan tidak punya hati.

Kami merasa disindir. Senyap seluruh ruangan! Untunglah, ada Frater Boni Selu. Ia angkat tangan dan sambil berdiri, berkata, "Pater, saya mau imajinasi sosial saja." Kami tertawa. Pater Paul juga terbahak-bahak.

Di hari-hari selanjutnya, dengan pedoman imajinasi sosiologis itu, kami berkelompok turun ke kampung-kampung, dari Gere hingga Hoba atau ke mana saja untuk mengamati interaksi sosial dengan wawancara orang sebanyak mungkin dan ini yang menarik, kegembiraan kami menjadi-jadi. Interaksi antara kami menjadi warna-warni. Dalam terang imajinasi sosial, segalanya diberi makna baru. Kejahatan adalah nafsu yang terdidik. Kepandaian, seringkali, adalah kelicikan yang menyamar. Adapun kebodohan, acapkali, adalah kebaikan yang bernasib buruk. Kelalaian adalah itikad baik yang terlalu polos. Dan kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan.

Ternyata kegembiraan ini tidak menyapa semua penghuni bukit mentari itu. Dari sana sini ada yang bergumam: ini kuliah apa. Hanya hura-hura. Bahkan, tidak ilmiah. Waktu itu kami berdoa semoga telinga Pater Paul tertutup untuk semua itu. Eh, ternyata kami keliru.

Ia berkata, "Satu pengalaman pahit pernah saya alami pada awal berkarya sebagai dosen. Mahasiswa mengkritik kuliah saya tidak baik. Saya akui itu betul. Hanya sayangnya orang tidak melihat latar belakangnya. Hari ini saya tiba di Ledolero, esoknya mulai kuliah tanpa persiapan sementara itu saya dipercayakan mengatur sekolah, yakni Direktur studi untuk Seminari Tinggi Ledalero dari tahun 1977-1982 dan Sekretaris untuk Sekolah Tinggi Filsafat Agama Katolik Ledalero tahun 1977-1992. Sebagai sekretaris banyak kerjanya... Tentu hal ini yang tidak dilihat orang. Perlu kita belajar mendalami sesuatu tidak cukup melihat permukaannya.." (lihat: Buku Kenangan Syukur 40 Tahun lmamat P. Paul Ngganggung SVD, Biara St. Arnoldus Janssen, Oebufu, Kupang, 2010).

Wahai para penghina, ke mana engkau membuang mukamu ketika ia dengan gagahnya di Cilaket, Jawa Timur, pada 1978, berbicara secara mencengangkan di depan kelompok Seminari Tinggi KWI tentang "Pendidikan Seminari Tinggi adalah Pendidikan Pastoral" yang diadopsi bulat-bulat pada sidang KWI 1978 dengan menetapkan pendidikan Seminari Tinggi adalah pendidikan pastoral dan penetapan itu masih berlaku hingga sekarang?

Wahai para pengejek, ke mana matamu menatap ketika ia dari Soverdi Matraman naik bis umum dan miktrolet ke Kantor Dikti di Jl Sudirman Jakarta pulang pergi untuk mengurus Sekolah Tinggimu agar diakui keberadaannya di bumi pertiwi tempat kakimu berpijak dan melangkah mencari makan? Ke mana wajahmu menoleh ketika ratusan mahasiswa, yang engkau usir dari pintu kamarmu dengan berkata 'kamu bodoh', keluar masuk ke kamar Pater Paul tanpa jadwal konsultasi meminta bimbingan skripsi dan semuanya lulus dengan kepala tegak?

Wahai para pencemooh, hidungmu engkau kembangkan ke arah mana ketika udara segar engkau hirup dari dedaunan hijau berbunga di halaman tengah Ledalero, yang setiap sore, ia siram, tanam dan tata tanpa mengenal cuaca padahal pada saat yang sama ia layani Paroki Wairpelit dengan porsi waktu yang diberikan kepadamu dan kepadanya sama banyaknya?

Tapi yah, itu tadi. Pater Paul tetap Pater Paul. Wajahku merunduk malu setiap kali berpapasan dengannya. Ia adalah orang besar. Di depan cemoohan dan hinaan, ia tetap ia. Hatinya luas seluas samudera dan menerima semuanya itu seperti lautan memeluk sesendok garam. Jiwanya tidak retak. Rupanya itulah yang bernama pekerja SADBA, kekasih ALLAH.

Gila vs Ilmiah
Pada mata kuliah metodologi, kegembiraannya lain lagi. Kami terhibur dengan istilah-istilah baru: Ibid, Op.cit, Loc.cit, dll, selain kerangka-kerangka logis sebuah tulisan dan pengutaraan pikiran atau pendapat yang ia jabarkan pada bab-bab pendahuluan.

Hanya di sana sini, ia menyelipkan frase-frase yang bermakna abadi. Misalnya: ini hanya metodologi. Kalau substansi sudah didapat, yah, kamu tidak perlu lagi metodologi. Kaul-kaulmu hanya metodologi. Jubahmu hanya metodologi. Agama hanya metodologi. Ijazah, gelar dan jabatan, semuanya hanya metodologi. Inti semuanya ialah mencintai ALLAH. Titik! "Hidup juga hanya metodologi, Pater," sambung Fr Openg. "Betul," jawabnya. Dan kami pun tertawa.

Tibalah saat gembira itu. Kami berkelompok turun ke kampung- kampung mewawancarai orang dengan menggunakan imajinasi sosiologis dan menerapkan teori metodologi: ibid, op.cit, loc.cit, dll. Kami bertiga: Benyamin Raya, Boni Selu dan saya berbagi tugas. Singkat kisah: Benyamin Raya (baca: Benya) didaulat merumuskan dan mengetik makalah itu serta mempresentasikannya di depan Pater Paul dan mahasiswa lain, sementara kami berdua duduk berdampingan untuk menangkis pertanyaan audiens.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved