'White Lily'

Selasa 30 Agustus 2016, keluarga besar SMPK St.Yoseph Naikoten Kupang merayakan misa syukur 50 tahun sekolah tersebut

Editor: Agustinus Sape
POS KUPANG.COM/JOHN TAENA
Sejumlah murid SMPK St. Yoseph Naikoten Kupang, saat jam istirahat di sekolah tersaebut. Rabu (30/3/2016) 

Kado Usia Emas SMPK St.Yoseph Kupang

Oleh: Willem B Berybe
Mantan Guru/Kepala SMPK St.Yoseph Kupang

DALAM kitab suci (Injil), St.Yoseph, suami Maria dan Bapak (kepala) Keluarga Kudus Nazaret, digambarkan sebagai orang kudus yang memiliki beberapa keutamaan sekaligus menjadi simbol kepribadiannya. Keutamaan-keutamaan itu ialah kepercayaan yang teguh (virtue), kekudusan (holiness), kemurnian (innocence), ketaatan (obedience to God). Butir-butir iman ini dapat ditemukan dalam Mateus 1:24,25, dan 2:14-21,22 (Sumber:The Catholic Spirit.com). Semua karakter St.Yoseph yang dikemukakan di atas dilambangkan dengan sebuah bunga bakung putih (white lily) seperti dikatakan The Catholic Spirit.com. Esensi warna putih pada bunga Lily yang sering diukir atau dilukiskan pada patung atau gambar St.Yoseph sambil tangan kanannya memegang bunga Lily (bakung) dengan tangkainya agak panjang memberi makna teologis dan pesan Firman Tuhan bagi kita.

Selasa 30 Agustus 2016, keluarga besar SMPK St.Yoseph Naikoten Kupang merayakan misa syukur 50 tahun sekolah tersebut bertempat di pelataran tengah kompleks Taman Pendidikan St.Yoseph Naikoten Kupang. Sebuah momen bersejarah yang patut disyukuri untuk sebuah lembaga pendidikan (sekolah) tingkat menengah pertama yang terletak di Jalan E. R. Herewila No.27 Naikoten 2 Kupang. Inilah kado bunga Lily (Bakung) yang secara istimewa dipersembahkan kepada St.Yoseph yang namanya dibaptis untuk nama lembaga pendidikan ini sekaligus sebagai pelindung (patron). Perjalanan panjang lembaga ini ibarat kisah-kisah pengungsian Yoseph dan Maria, bahkan dengan anak Yesus sebagaimana kita baca dalam Kitab Suci. Jelas Yoseph adalah figur patronage dalam keluarga.

Mulanya biasa saja
Proses kelahiran SMPK St.Yoseph setengah abad lalu (1966) memang tidak melalui sebuah peristiwa gegap-gempita tapi muncul dari hasil pengamatan (refleksi) rasa keprihatinan, serta keadaan sosial-pendidikan saat itu yang membutuhkan sebuah aksi nyata dalam memajukan dunia pendidikan khususnya di Kota Kupang. Penggagas dan perintis yang membidani kelahiran SMPK St.Yoseph Kupang adalah Yos Djogo, B.Sc yang saat itu bekerja sebagai PNS pada Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Barlon Parera asal Sikka, Flores. Beliau adalah kepala SDK Santo Belarnimus yang kemudian berubah nama menjadi SDK Santo Yoseph I (Sumber: smpkstyoseph.wix.com/speksanyo#!sejarah/aq9f7). Moat Barlon inilah yang ditunjuk para perintis (penggagas) untuk menyelenggarakan sekolah lanjutan tingkat pertama (SMP) pada siang hari yang bernama SMP Sapientia II sekaligus sebagai kepala sekolahnya. Dari nama SMP Sapientia 2 kemudian diganti dengan nama SMPK St.Yoseph.

"Ada keprihatinan bahwa cukup banyak peserta didik dari tingkat SD yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya (SMP) karena jumlahnya sangat terbatas dan jangkauan jarak tempuh yang cukup jauh. Maka, munculnya gagasan untuk mendirikan sebuah SMP semata-mata untuk menjawabi kerinduan human kristiani agar dapat menyekolahkan anaknya dan dididik sesuai ajaran kristiani," tulis smpkstyoseph.wix.com/speksanyo#!sejarah/aq9f7).

Hal ini dapat dimaklumi karena perkembangan umat Katolik di Kota Kupang umumnya dan wilayah Naikoten 1, Bakunase, Airnona, Oetona khususnya sekitar tahun 60-an cukup menonjol sehingga tak lama kemudian berdirilah paroki baru di kawasan Naikoten 2 yaitu Paroki St.Yoseph sebagai pemekaran Paroki Katedral Kristus Raja Kupang pada tanggal 19 Maret 1968 (Website: Keuskupan Agung Kupang).

Kesenian daerah NTT
Perjalanan sejarah SMPK St.Yoseph Kupang mencatat masa-masa awal gerakan memasyarakatkan Kebudayaan Daerah NTT melalui lagu-lagu daerah yang diaransir oleh Apoly Bala begitu popular dan tidak heran ini menjadi ikon sekolah. Para alumni yang tamat sekitar tahun 70-an antara lain Theo Kapilawi pernah bercerita bahwa mereka dulu sering diundang untuk nyanyi di Rumah Jabatan Gubernur NTT pada hari besar nasional. Bahkan malam kesenian (malsen) yang khas lagu-lagu daerah NTT sering diselenggarakan. Upaya pemasyarakatan lagu-lagu daerah Nusa Tenggara Timur oleh SMPK St. Yoseph itu kemudian membuahkan sebuah karya seni yang indah dan sangat monumental oleh musikus Apoly Bala ialah buku kumpulan lagu-lagu daerah NTT dengan judul Gema Flobamor (1975) yang berisi 60 buah lagu. Lagu-lagu ini diolah (aransemen) dalam pola paduan suara (SATB=sopran, alto, tenor, bas) lengkap dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Beberapa judul lagu tersebut antara lain Benggong (Manggarai), Yalo (Boawae-Nagekeo), Bengu Rele Kaju (Bajawa-Ngada), Haro e dan Ie (Lio-Ende), Bale Nagi (Flotim), Oras Loro Malirin (Belu), Mai Fali (Rote), Ele Moto (Sabu), dan Gailaru Marada (Sumba). Tidak cuma itu. Satu 'lagu puja', semacam hymne untuk bumi Nusa Tenggara Timur berjudul Flobamor Indah ciptaan Apoly Bala memperlihatkan kecintaan terhadap tanah Flobamora (nama julukan NTT era kemudian) yang sebagian syairnya: "Indah permai bermandikan cahaya, gugusan Nusa Flobamor, Nusa tempat aku berbakti, Nusa tempat aku mengabdi membangun nusa bangsa.".

Respons Gubernur El Tari saat itu sangat apresiatif dan mendukung yang tercermin dalam sambutan tertulisnya pada buku Gema Flobamor itu. 'Sejak lama telah digariskan suatu program kerja bagi daerah ini bahwa segala sesuatu perlu diinventarisir kemudian dikembangkan termasuk lagu-lagu daerah ini'. Dan, nama 'Flobamor' (akronim untuk kata Flores, Sumba, Timor) pertama kali digunakan oleh almahrum El Tari, demikian pengakuan Apoly Bala. Suatu gambaran representasi NTT yang demikian luas dan mencakup banyak pulau besar-kecil sebagai satu kesatuan wilayah NTT baik dari segi pemerintahan maupun sosial budaya.

Selain bidang kesenian (lagu-lagu daerah), SMPK St.Yoseph Kupang telah melahirkan out put yang tak kalah berkualitas, sebut saja Dr. Sony Keraf, mantan Menteri Lingkungan Hidup era Presiden Megawati Soekarnoputri, Drs.Christian Rotok, mantan Bupati Kabupaten Manggarai dua periode, Obet Naitboho, Wakil Bupati TTS (Feauture Pos Kupang: Speksanyo Menjadi Rumah Kreatif, 30/8/2016). Di kalangan perguruan tinggi (universitas) seperti Unwira, ada Dr. Hendrik Kaluge, pakar dan pengamat pendidikan Matematika di sana, Romo Theodorus Silab, Pr dan Romo Leo Mali, Pr, dosen dan pembimbing para calon imam projo Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui, Kupang; di bidang medis ada dr. Beny Kia, dr. Elisabeth Liga, Drs. Simon Tokan, Kadis Nakertrans Provinsi NTT periode lalu dan masih banyak bidang lain tempat para alumni itu mengabdi. Entah sudah berapa banyak imam dan suster bahkan pendeta telah dihasilkan oleh SMPK St.Yoseph.

Secuil memoar SMPK St.Yoseph ini merupakan kado Bunga Bakung Putih (white lily) untuk St.Yoseph di pesta emas sekolah ini. Congratulations!*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved