Dibutuhkan Komitmen Pemimpin

Dari Kabupaten Sabu Raijua berhembus berita menggembirakan. Telah hadir tiga pabrik di kabupaten itu yaitu pabrik garam, rumput laut dan air mineral

Editor: Agustinus Sape
Pos Kupang/Fredi Hayong
Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dan Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome, ketika panen garam di Kampung Bali, Kecamatan Sabu Timur, Sabtu (13/8/2016) 

PEKAN ini kita semua terkesima. Betapa tidak, dari Kabupaten Sabu Raijua berhembus berita menggembirakan. Telah hadir tiga pabrik di kabupaten itu yaitu pabrik garam, rumput laut dan air mineral. Ketiga pabrik itu telah diresmikan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya Sabtu (13/8/2016) lalu.

Tak hanya itu, selain kehadiran tiga pabrik tersebut ternyata juga diikuti dengan peningkatan infrastruktur. Infrastruktur di kabupaten yang dipimpin Ir. Marthen Dira Tome selama enam tahun terakhir itu mengejutkan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya.

Keterkejutan Lebu Raya beralasan, karena selama lima tahun Dira Tome memimpin Sabu Raijua, Gubernur belum pernah menginjakkan kakinya di daerah itu. Baru pada tahun keenam ini atau pada tahun pertama periode kedua Dira Tome, gubernur baru datang ke Sabu Raijua.

Begitu lamanya rentang waktu gubernur tidak ke Sabu Raijua karena memang ada "persoalan" politik antara kedua pemimpin kita ini.

Terlepas dari persoalan kedua pemimpin tersebut, kehadiran tiga buah pabrik di Sabu Raijua dan pesatnya pembangunan infrastruktur memberi pesan kepada kita di NTT ini. NTT tidak miskin. NTT bisa melakukan perubahan untuk masyarakat banyak bila pemimpinnya mau untuk berbuat sesuatu.

Memang pesan yang dikirim Dira Tome dari Sabu Raijua yang terkenal gersang, miskin itu "menyakitkan" dan membuat merah kuping kepala daerah lainnya di NTT (gubernur, walikota, bupati). Sebab, dengan keterbatasan yang ada Dira Tome bisa membangun Sabu Raijua lebih maju.

Pesan lain yang mau disebarkan Dira Tome kepada sesama kepala daerah di NTT ini adalah, dengan APBD yang kecil saja dirinya bisa berbuat lebih di daerah yang terkenal gersang itu. Seharusnya daerah lain yang subur atau memiliki APBD yang lebih besar juga bisa melakukan hal-hal yang jauh lebih besar pula.

Lalu pertanyaannya kenapa daerah yang APBD nya begitu besar belum terlalu tampak geliatnya? Apa yang salah dengan prioritas pembangunan di daerah-daerah tersebut.

Pertanyaan seperti itu perlu diajukan dan perlu menjadi renungan dari para kepala daerah di NTT ini. Jangan lagi berkilah dan berlindung di balik pernyataan bahwa Sabu Raijua itu kecil dan sebagainya. Kota Madya Kupang , Lembata, Sumba Barat juga kecil? Tetapi mengapa ada perbedaan yang begitu kasat mata dengan Sabu Raijua dalam hal-hal tertentu?

Pesatnya kemajuan yang dicapai Sabu Raijua itu terjadi karena komitmen pemimpinnya. Oleh karena komitmen itu maka rakyat mengganjarnya dengan memilihnya untuk periode kedua.

Mungkin kepala daerah lain di NTT sudah memiliki komitmen untuk membangun daerahnya. Akibatnya kemajuan di daerah itu cenderung berjalan stagnan bahkan beringsut saja. Kita berharap apa yang terjadi di Sabu Raijua ini menjadi virus bagi kepala daerah lain dalam membangun daerahnya untuk bergerak lebih cepat lagi. Dirgahayu ke-71 RI.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved