Merdeka, Sepak Bola di Bumi Flobamora
Hampir semua masyarakat di bumi Flobamora tercinta menyukai sepak bola.
Oleh: Johni Lumba
Pengamat Sepakbola, Tinggal di Kupang
SEPAK bola di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah merupakan salah satu cabang olahraga yang sangat popular dan merakyat. Hampir semua masyarakat di bumi Flobamora tercinta menyukai sepak bola. Nama Provinsi NTT sejak tahun 80-an cukup disegani, bahkan sejumlah klub besar seperti: Niac Mitra Surabaya, Makassar Utama, Pelita Jaya, Garuda, Merpati bahkan klub dari Benua Australia pernah mencari pemain-pemain berbakat dari provinsi ini. Pertandingan persahabatan (Friendly Match) mampu membawa sejumlah pemain dengan skill di atas rata-rata menguasai sepak bola nasional. Sebut saja Fernandes Bersaudara, Kia Bersaudara, Eduard Manggilomi, Mathias Bisinglasi dan lainnya. Tidak hanya itu ada beberapa klub yang berusaha untuk meningkatkan kualitas pemain sepak bola asal NTT dengan mengadakan seleksi pemain secara langsung, seperti yang dilakukan oleh coach Indra Sjafri asal Bali United. Sampai saat ini sejumlah pemain asal NTT telah berkiprah di Bali United.
Kompetisi, turnamen, friendly match dan seleksi pemain berjenjang dan berkelanjutan yang dilakukan oleh Anprov PSSI NTT, Kemenpora RI, instansi pemerintah, BUMN, swasta, TNI/Polri, semuanya merupakan sebuah terobosan yang sengaja dilakukan untuk memotivasi para atlet, pemain, pelatih, orang tua, pengurus dan sponsor agar sepak bola menjadi bagian dari budaya bangsa.
Sepak bola dapat membentuk karakter anak sejak usia dini, karena berlatih sepak bola tidak sekedar melatih untuk menendang bola, tetapi lebih daripada itu, para pemain dididik untuk memperoleh nilai nilai seperti: 1. Excellent performance (kesempatan dalam bekerja), 2. joy and pleasure in participation (berpartisipasi dengan kesenangan dan kegembiraan), 3. fairness of play (kejujuran dalam berkompetisi), 4. respect for other nations, cultures, religions, races and individuals (rasa hormat terhadap sesama tanpa memandang perbedaan bangsa, budaya, suku maupun orang per orang), 5. human quality development (pengembangan kualitas manusia) 6. leadership by sharing, training working and competing together (bekerja dan berkompetisi) 7. peaceful co-existence between different nationality (kedamaian antara bangsa). Jika semua pembina, pelatih menyadari hal ini, maka sepak bola akan jauh dari ketidaksportifan.
Perjalanan panjang bangsa ini hingga mendekati usia 71 tahun, namun tidak diikuti juga oleh pembangunan olahraga khususnya sepak bola, demikian juga di bumi Flobamora. Berbagai cara sudah dilakukan, seperti turnamen, kompetisi, peringkat usia, friendly match dan seleksi pemain, namun hal tersebut sampai saat ini belum mampu mendongkrak sepak bola NTT.
Tetapi ada strategi yang lain, seperti yang lakukan oleh David Fulbertus (owner Kristal FC) yang mampu bekerja sama dengan klub ISC Bali United sehingga sejumlah pemain seperti Yabes Roni Malaifani, Alsan Sanda dan Yulius Mauloko dapat berkiprah di ajang sepak bola nasional. Bahkan cara lain lagi dilakukan oleh David yang memang hobi bola dengan membuat seleksi pemain U-14 -17 untuk mendukung Bali United Senior. Komitmen lain dari David adalah pembuatan lapangan sepak bola di Kota Kupang, dalam mendirikan akademik sepak bola Kristal Bali United, merupakan sebuah terobosan yang patut diberi apresiasi dalam rangka menjadikan sepak bola sebagai budaya masyarakat Flobamora.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Dispora NTT untuk mendirikan Sekolah Keberbakatan Olahraga (SKO) pertama di NTT guna membantu mendidik serta melatih atlet yang memiliki kemampuan dalam olahraga termasuk sepak bola.
Hal lain lagi dilakukan oleh Fary Jemy Francis (Ketua Komisi V DPR RI) dengan mendirikan lapangan sepak bola bertaraf nasional di Belu-Atambua beserta asrama dan lainnya. Luar biasa memang semangat para putra NTT untuk membangun olahraga di masing-masing daerah. Jika semua anggota DPR RI utusan masing-masing Dapil mendirikan sebuah lapangan seperti Fary Francis tentu sepak bola di Bumi Flobamora akan semakin berkembang sekaligus menambah kontribusi pemain NTT ke klub ISC bahkan Timnas Indonesia akan terbuka lebar.
Kompetisi, turnamen yang sudah dilakukan di beberapa daerah perlu diikuti oleh daerah lainnya. Kondisi seperti ini membutuhkan semangat, motivasi serta pengorbanan yang tinggi dari setiap pemimpin di masing-masing daerah. Kompetisi antar desa/kelurahan, kecamatan, antar klub antar kabupaten di aras provinsi per tingkat usia tentu semakin menunjukkan bahwa NTT telah membudayakan olahraga sepak bola dan menjadi provinsi yang mampu menyuplai pemain ke klub-klub terbaik di Indonesia. Sekaligus meningkatkan nilai-nilai karakter anak bangsa asal NTT. Mengapa daerah lain bisa, NTT tentu harus lebih bisa lagi.
Kemenpora dengan kompetisi U-14 dan U-16 semakin memberikan harapan bahwa sepak bola harus dimulai sejak usia dini. Penerapan metode ilmiah yang dipadukan dengan kemampuan alamiah pemain akan memberikan sebuah perpaduan yang kuat, kokoh, tangguh, terampil dan memiliki nilai seni yang tinggi dalam mengolah si kulit bundar. Hadirnya sejumlah klub dari beberapa kabupaten di NTT dalam rangka Kemenpora Cup semakin memberi dukungan positif bahwa banyak talenta terpendam dalam mengolah si kulit bundar, namun penggalian bakat yang belum maksimal dilakukan. Untuk itulah semangat kemerdekaan tidak hanya dilakukan ketika menghadapi HUT RI, akan tetapi hal tersebut sudah menjadi sebuah keterpanggilan dan budaya untuk membangun Indonesia dimulai dari Provinsi NTT dengan berbagai talenta yang dimiliki. Selamat merayakan HUT ke-71 RI. Salam sepak bola: BERSAHABAT, NTT BISA.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/indra-syafri-2_20150916_085138.jpg)