Sail Indonesia dan Expo Alor dalam MEA

Bukan tidak mungkin, kehadiran pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan sangat berpengaruh dalam kegiatan Expo Alor ini.

Sail Indonesia dan Expo Alor dalam MEA
POS KUPANG/OBY LEWANMERU
Peserta Alor Carnaval III saat parade dalam rangka Expo Alor X di Stadion Mini Kalabahi, Kabupaten Alor, Selasa (9/8/2016). 

Oleh: Refael Molina
Anggota Forum Penulis NTT

BILA Indonesia adalah negeri yang kaya dengan beragam suku, agama, budaya, tradisi, bahasa, dan sumber daya alam, maka pada tataran provinsi, NTT adalah miniaturnya. Pernyataan ini bukanlah isapan jempol belaka. Sosiolog kenamaan NTT, Dr. Syarifudin Gomang dan pengacara Benediktus Bosu, dalam beberapa tulisan mereka, pun mengakui, NTT sebagai miniatur Indonesia. Ini berarti, apa yang dimiliki Indonesia ada di NTT. Sebagai orang yang tinggal dan hidup di NTT, maka kita patut bersyukur. Namun, adalah naif bila kita terus membanggakan kekyaan kita yang belum mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Salah satu kekayaan yang dimiliki NTT adalah potensi pariwisata. Potensi pariwisata, baik alam, bahari maupun budaya, hampir merata di semua kabupaten di NTT. Lihat saja, pantai Lasiana, air terjun Oenesu (Kota Kupang), pantai Nemberala, musik tradisional Sasandu (Rote), taman bawah laut, tarian Lego-lego, museum seribu moko (Alor), Taman Nasional Komodo, Danau tiga warna Kelimutu, tarian ja'i (Flores), tarian pasola dan batu megalitikum (Sumba), pantai Kolbano (Timor Tengah Selatan), serta beberapa potensi wisata lainnya yang belum disebutkan.

Kita patut bersyukur, kini semua potensi pariwisata NTT sedang mendapat perhatian dari Pemprov NTT. Pameo NTT sebagai Nanti Tuhan Tolong dan Nasib Tidak Tentu kini hendak ditepis dengan terminologi tempat wisata baru atau New Tourism Territory oleh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya.

Dalam kegiatan Sail Indonesia tahun ini pun, NTT kembali menjadi tempat persinggahan para wisatawan mancanegara. Ada beberapa tempat wisata yang akan dikunjungi peserta Sail Indonesia, antara lain Pantai Labuan Bajo, Wini, TTU, Nemberala Rote Ndao dan beberapa tempat lainnya, termasuk di Kalabahi, Alor. Berkaitan dengan Sail Indonesia, hemat penulis setiap pemeritah kabupaten/kita di NTT perlu mengupayakan adanya event atau kegiatan kepariwisataan (katakanlah event ikutan dari Sail Indonesia). Dalam event tersebut setiap pemeritah kabupaten/kota bisa mengundang para turis mancanegara untuk hadir di sana. Tujuannya untuk memperkenalkan potensi wisata daerah kepada para wisatawan.

Expo Alor dalam MEA
Berkaitan dengan hal itu, hemat penulis, Pemda Alor telah memulainya, yakni melaksanakan event Expo Alor. Event ini telah dilaksanakan di era Bupati Ir. Ans Takalapeta. Dan, tahun ini Pemkab Alor menyelenggarakan even Expo Alor ke-10 yang dihelat pada tanggal 9-16 Agustus. Menariknya, Expo Alor ini pun menurut rencana akan digabungkan dengan beberapa kegiatan pendukung lainnya seperti Alor Carnaval ke-3, Festival Budaya Lamaholot. (Victory News 3 Agustus 2016). Ini sangat luar biasa. Pemkab meyakini terselenggaranya kegiatan ini, produk unggulan ditampilkan, seperti keunggulan-keunggulan komparatif, juga produk-produk lokal (local wisdom) yang selama ini tidak dipamerkan, serta potensi pariwisata mulai dari wisata pantai, alam, budaya dan religi, termasuk sumber daya manusia (SDM) masyarakat Alor. Dengan demikian, dapat mengangkat harkat dan martabat Alor di mata dunia dan mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat Alor (Bupati Alor, Drs. Amon Djobo dalam berita Harian Victory News, Rabu 3 Agustus 2016).

Bila kemudian salah satu tujuan Expo Alor untuk mensejahterakan masyarakat, maka bukan tidak mungkin, kehadiran pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan sangat berpengaruh dalam kegiatan Expo Alor ini. Pemkab Alor diharapkan menangkap peluang ini untuk memperkenalkan Alor secara baik. Betapa tidak, terdapat empat hal utama kehadiran MEA tahun ini. Pertama, negara-negara di kawasan Asia Tenggara akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis produksi. Kedua, MEA dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi yang tinggi. Ketiga, MEA akan menjadikan kawasan ekonomi yang merata dengan memrioritaskan Usaha Kecil Menengah (UKM). Keempat, MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global, dengan membangun sistem untuk meningkatkan koordinasi terhadap negara-negara anggota (www.detik.com)

Bagi Indonesia sendiri, MEA akan menjadi kesempatan yang baik, karena hambatan perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi tidak ada. Ini diyakini akan berdampak pada peningkatan ekspor ketimbang impor yang akan meningkatkan GDP (gross domestic product) Indonesia. Namun, di sisi lain, muncul hambatan baru bagi Indonesia berupa permasalahan homogenitas (kesamaan) komoditas yang diperjual-belikan. Contohnya untuk komoditas pertanian seperti karet, produk kayu, tekstil, dan barang elektronik (lihat: Santoso, 2008). Dengan melihat risiko persaingan yang akan timbul, maka mau tidak mau, pemerintah dan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Kabupaten Alor, harus mampu menyajikan produk (kekayaan) unggulan yang tak memiliki homogenitas, namun memiliki daya tawar dan daya saing tinggi di pasaran. Ini agar bisa meminimalisir persaingan dalam melakukan transaksi.

Dengan tersedianya berbagai objek wisata yang telah disebutkan sebelumnya, maka diharapkan potensi-potensi tersebut segera dibenahi dan dipromosikan (dijual) dalam MEA. Selain itu, dengan adanya aneka komoditas dan produk lokal atau kearifan lokal (local wisdom) dari hasil industri rumah tangga, maupun UKM dapat dipamerkan di setiap stand dalam arena Expo Alor.

Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Terlepas dari adanya kontroversi event Expo Alor di kalangan masyarakat, hemat saya, Expo Alor sangat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat, karena masyarakat akan menjual produk lokal hasil kerajinan untuk dijual di event tersebut di tengah persaingan pasar bebas MEA. Penulis pun mengapresiasi upaya Pemkab Alor dalam menaikkan biaya kegiatan Expo Alor X dari APBD tahun 2016 sebesar Rp 900 juta, dari tahun 2015 sebesar Rp 700 juta. Bukan tanpa alasan, pada tahun 2015 terjadi peningkatan transaksi atau perputaran mata uang di tengah masyarakat sebesar Rp 1,1 miliar. Dengan adanya peningakatan ini diharapkan dapat meningkatkan transaksi dan perputaran uang di tengah masyarakat. Dengan demikian, adanya Sail Indonsesia, Expo Alor dalam persaingan pasar bebas MEA dapat mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat di Bumi Seribu Moko. Merdeka!*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved