Menuju Seleksi Mandiri Undana yang Terbuka

Nilai hasil tes mandiri Undana harus diumumkan secara terbuka sehingga para peserta tes tahu mengapa mereka lulus atau gagal.

Menuju Seleksi Mandiri Undana yang Terbuka
Surya /Ist
Kimberly Aprilia saat mengikuti ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2015, Selasa (9/6/2015) 

Oleh: Feliks Tans
Dosen FKIP/Pascasarjana, Undana

TULISAN ini terinspirasi tulisan Budi Santosa, Guru Besar Teknik Industri ITS, di Kompas, yang berjudul, "Transparansi SBMPTN" (23/7/2016, hlm. 6). Dalam tulisannya, Budi mencela SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) sebagai sesuatu yang tertutup karena nilai peserta SBMPTN yang lulus dan gagal tak pernah diumumkan. Padahal, menurut Budi, mengetahui nilai peserta SBMPTN penting karena, "Di banyak PTN nilai SBMPTN digunakan untuk melamar PTN melalui seleksi mandiri. Mereka yang tidak lulus SBMPTN bisa memilih program studi (prodi) baru melalui jalur mandiri. Pilihan ini didasarkan pada pilihan pertama ketika SBMPTN."

Walaupun terlambat karena SBMPTN telah berlalu, kritik Budi, saya kira, tetap harus diperhatikan oleh semua PTN, termasuk Undana, yang mengadakan seleksi mandiri sebagai jalan terakhir bagi para calon mahasiswanya untuk kuliah di PTN. Tidak seperti PTN lain yang berpatokan pada hasil SBMPTN untuk menyeleksi mahasiswa baru lewat jalur mandiri seperti yang disinggung Budi di atas,Undana mengadakan tes jalur mandiri pada tanggal 26 Juli 2016 untuk menjaring calon mahasiswa barunya di luar jalur SBMPTN.

Dalam tautan dengan seleksi mandiri itu, Undana, kiranya, jangan terjebak gaya SBMPTN yang tertutup seperti yang disebutkan di atas. Nilai hasil tes mandiri Undana harus diumumkan secara terbuka sehingga para peserta tes tahu mengapa mereka lulus atau gagal.

Mengetahui nilai hasil tes penting dalam beberapa hal. Pertama, yang lulus dengan nilai baik, misalnya, delapan atau dengan nilai jelek, misalnya, empat dari rentangan 1-10, tahu kemampuan riilnya dalam tautan dengan nilai peserta lainnya. Pengetahuan itu, tentu, bukan untuk menyombongkan diri bagi kelompok pertama atau untuk merasa minder bagi kelompok kedua, tetapi, sejatinya, untuk sukses di kampus dan di luar kampus dengan cara ini: belajar lebih rajin, berdisiplin lebih tinggi, dan bertekad lebih kuat.

Kedua, yang tidak lulus akan tahu diri bahwa nilai ujiannya yang lebih jelek daripada nilai ujian peserta lain membuatnya gagal. Ini, tentu, tidak boleh mengecewakan karena nilai yang lebih rendah tidak selalu berarti kemampuan yang juga lebih rendah. Seseorang yang sangat cerdas bisa gagal karena berbagai alasan seperti suasana hati yang galau saat mengikuti ujian atau karena ruangan ujian yang kurang nyaman. Mereka yang "gagal" itu, karena itu, bisa memilih perguruan tinggi lain atau, bahkan, langsung terjun ke dunia kerja dengan rasa percaya diri yang tinggi. Apapun pilihannya, mereka pasti (lebih) sukses ke depan kalau mereka punya karakter yang disebutkan di atas: bekerja/belajar keras/cerdas, berdisiplin tinggi, dan bertekad baja.

Ketiga, bagi yang lulus karena menerapkan ketiga karakter itu, atau bagi yang gagal karena tidak maksimal dalam menerapkan ketiganya, di bangku pendidikan sebelumnya, akan (semakin) paham bahwa ketidaksungguhan berbuahkan kegagalan, kesungguhan sukses. Ini penting untuk membuat mereka dan siapapun yang memperhatikan mereka menyadari bahwa bersungguh-sungguh dalam hidup ini penting kalau mau sukses. Walaupun misteri kehidupan juga mengajarkan bahwa memiliki ketiga karakter itu dalam hidup ini tidak selalu berarti sukses.

Keempat, pengumuman kelulusan atau ketidaklulusan tanpa pemberitahuan nilai hasil ujian bisa menimbulkan salah tafsir. Orang, misalnya, mungkin akan berpikir si A lulus karena ada orang dalam; si B tidak karena tanpa orang dalam; pengawasan ujian yang, tampaknya, ketat, karena itu, dianggap sebagai sandiwara karena hasil tes sudah diketahui sebelum tes dimulai. Artinya, ketika kelulusan/kegagalan diumumkan tanpa nilai hasil ujian selalu disertai pikiran negatif seperti itu, walaupun si A lulus karena dia lulus, bukan karena dia berorang dalam; dan, si B gagal karena dia gagal, bukan karena tanpa orang dalam.

Untuk menghindari asumsi miring seperti itu, tidak ada jalan lain bagi Undana, atau PTN manapun yang menyelenggarakan seleksi mandiri, selain pengumuman nilai hasil seleksi secara terbuka. Jangan hanya beri tahu ini: lulus atau gagal. Nilainya nihil. Jangan! Tidak boleh.

Dengan keterbukaan itu, Undana menunjukkan dirinya berubah. Perubahan itu, cepat atau lambat, pada gilirannya, akan meningkatkan mutu sumber daya manusia, manajemen, kegiatan kemahasiswaan, penelitian dan publikasi ilmiahnya, empat hal yang selama ini membuat Undana bertengger hanya pada peringkat ke-88 dari 3.320 PT di Indonesia. Ataukah peringkat itu sudah bagus? Tentu, tidak. Undana harus bisa jauh lebih baik daripada itu untuk membuatnya lebih efektif dalam mengubah Indonesia, sebuah bangsa yang 83% koruptornya berasal dari perguruan tinggi (Pos Kupang, 3/4/2006, hlm. 2, Indonesia Miskin Pemimpin Bermoral Kuat: 83 Persen Koruptor Lulusan Perguruan Tinggi).*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved