Minggu, 12 April 2026

Kisah Biarawati Saksi Pembunuhan Biadab Pendeta Tua Prancis

para pembunuh terlihat agresif dan gugup ketika melancarkan serangan ke Eglise Saint-Etienne di Normandy pada 26 Juli itu.

Editor: Ferry Ndoen
Twitter/@Raqqa_SL
Eksekusi atas empat pesepak bola dilakukan di depan anak-anak di Raqqa, pusat kekhalifahan ISIS di Suriah. 

POS KUPANG.COM - Salah seorang dari dua ektremis yang membunuh seorang pendeta tua Prancis, tersenyum saat dia memenggal sang pendeta disaksikan dua biarawati yang melihat pembunuhan biadab itu. Dua biarawati itu juga menjadi saksi bagaimana para pembunuh mengutipkan kalimat-kalimat Alquran.

Kedua biarawati yang berada di gereja ketika Pastor Jacques Hamel disembilih di altar gereja itu mengatakan para pembunuh terlihat agresif dan gugup ketika melancarkan serangan ke Eglise Saint-Etienne di Normandy pada 26 Juli itu.

Lalu salah seorang dari penyerang terlihat tenang.

"Saya mendapat senyum dari orang kedua. Bukan senyum kemenangan, namun senyum lembut ketika orang lagi berbahagia," kata Suster Huguette Peron kepada koran Katolik La Vie, Jumat waktu setempat.

Abdel Malik Petitjean dan Adel Kermiche, keduanya berusia 19 tahun, telah bersumpah setia kepada ISIS dan keduanya tewas dilumpuhkan polisi.

Kedua pria ini menyerbu gereja batu dari abad ke-17 selagi misa di kota Saint-Etienne-du-Rouvray, dengan menyandera beberapa orang sebelum membunuh sang pendeta dan melukai beberapa sandera.

Seorang biarawati berhasil kabur dan melapor kepada polisi, dengan meninggalkan Suster Huguette dan Suster Helene Decaux yang keduanya berusia 80 tahunan, di dalam gereja bersama kedua jihadis.

Pada satu kesempatan, Suster Helene kelelahan dan meminta duduk.

"Saya meminta tongkat saya, dia (si penyerang) memberikannya kepada saya," kata dia.

Lalu kedua orang itu berbicara soal agama, dengan menanyai sang biarawati apakah dia mengenal Alquran.

"Ya, saya menghormati Alquran seperti saya menghormati Injil, saya membaca beberapa surat Alquran. Yang paling mengejutkan saya adalah surat-surat mengenai perdamaian," jawab Suster Helene.

Salah seorang penyerang menanggapi kalimat Helena. "Damai adalah yang kami inginkan, sepanjang ada bom di Suriah, kami akan meneruskan serangan kami. Dan itu akan terjadi setiap hari. Manakala kalian berhenti, kami akan berhenti."

Para tetangga dan kerabat menyebut Kermiche terobsesi pergi ke Suriah demi bergabung dengan ISIS.

"Apakah Anda takut mati?" tanya salah seorang penyerang.

Sang suster menjawab "tidak", lalu sang penyerang bertanya lagi, "Mengapa?"

Sumber:
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved