All Flores Final
Sebanyak 14 tim yang berlaga di kompetisi kali ini jika Juara I akan mewakili Provinsi NTT di ajang piala NUSANTARA
Oleh: Johni Lumba
Pengamat Sepak Bola, Tinggal di Kupang
KAMI datang, Kami Bertanding dan Kami Menang Secara Sportif. Itulah tekad anak-anak muda U-23 asal Pulau Flores ketika mereka dipercayakan untuk mewakili kabupaten masing-masing dalam mengikuti Kompetisi Sepak Bola Gubernur Cup VII tahun 2016 di Kupang. Sebanyak 14 tim yang berlaga di kompetisi kali ini jika Juara I akan mewakili Provinsi NTT di ajang piala NUSANTARA, dan sudah pasti tim asal Pulau Flores yang nantinya akan membawa nama NTT di ajang sepak bola nasional U-23.
Dari 22 kabupaten/kota yang ada di Provinsi NTT, hanya 14 yang ikut, yaitu tujuh tim dari Pulau Flores, empat tim dari Pulau Timor, dua tim dari Pulau Sumba dan satu dari Pulau Alor. Memang sangat disayangkan sembilan kabupaten yang tidak mengambil bagian dalam kompetisi sepak bola paling bergengsi ini. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa belum ada komitmen dari pihak-pihak terkait untuk membangun karakter anak muda melalui olahraga sepak bola. Ingatlah bahwa sepak bola tidak hanya mengumpulkan orang untuk sekedar bermain dan memasukkan bola ke gawang, atau mengajarkan orang untuk bermain dan meraih kemenangan secara kolektif, namun lebih dari itu sepak bola mengajarkan orang untuk selalu berjuang dan berjuang dengan gigih, kuat, kokoh, tangguh, semangat dan menjaga etika serta nilai-nilai sportivitas dalam olahraga. Jatuh, bangun, berlari, melompat sambil mengejar si kulit bundar dengan penuh semangat tanpa mengenal lelah, membuat sepak bola menjadi olahraga kolektif yang mampu meramu berbagai karakter dalam sebuah permainan.
Tampilnya empat tim asal Pulau Flores yang lolos di babak semi final menunjukkan bahwa barometer sepakbola saat ini untuk U -23 masih didominasi oleh para pemain asal Pulau Flores. Kota Kupang yang paling banyak menyumbangkan pemainnya pada ajang PRA PON NTT telah mencatat sejarah pahit. Untuk pertama kalinya tim yang diasuh oleh Michael Pemi tak mampu lolos dari penyisihan grup. Bahkan yang sangat menyakitkan adalah tim tersebut nasibnya harus ditentukkan oleh tim lainnya. Sakit dan pahit rasanya, tapi itulah strategi.
Kualitas Perse Ende tidak dapat diragukan lagi. Sejumlah pemain asal Papua menjadi ikon sepak bola Ende. Piala Gadi Djou yang telah masuk dalam kompetisi sepak bola terbaik di NTT ternyata hanya bertahan di babak semi final ketika dibantai secara kasar oleh Manggarai Timur dengan skor telak 3 -0. Kehadiran Bupati Ende tidak mampu mengangkat motivasi para pemain yang mampu mengandaskan Flores Timur di babak delapan besar. Bahkan tim asuhan mantan pemain nasional Nyongki Kastanya itu tidak dapat berbuat banyak, mereka harus puas hanya bermain di babak semi final. Demikian halnya dengan Persamba Manggarai Barat, lewat drama adu penalti, niatnya untuk tampil bersama saudaranya Persematim Manggarai Timur di babak final tidak tercapai. Lain halnya dengan PSN Ngada. Kehadiran Bupati Ngada ketika babak penyisihan membuat para pemain asuhan Kletus Geba dan No Liko menjadi macan bagi tim lawan. Sejak babak penyisihan tim yang telah dua kali merebut supremasi sepak bola Piala Gubernur ini membabat habis lawannya tanpa ampun.
All Flores Final akan mempertemukan PSN Ngada dan Persematim Manggarai Timur. Hal ini semakin menunjukkan bahwa barometer sepak bola saat ini berada di Pulau Flores. Bukan hanya kompetisi sepak bola Gubernur Cup, tetapi El Tari Memorial Cup juga masih didominasi oleh tim dari daratan Flores. Pertanyaannya, mengapa harus dari Pulau Flores? Apakah dari pulau lainnya tidak memiliki tim yang bagus? Ataukah kurangnya pembinaan dan kompetisi di daerah lain? Ataukah memang sepak bola cocok dengan karakter anak-anak dari daratan Flores? Ternyata sepak bola punya cara untuk bersahabat dengan tim yang memang sangat mencintai sepak bola itu sendiri, tanpa menodai dan menyakiti sepak bola dengan cara yang tidak wajar.
Final Kompetisi Sepak Bola Piala Gubernur kali ini berbeda, sebab tim yang menjadi juara secara otomatis akan mengikuti Piala Nusantara mewakili NTT di level nasional. Hal ini akan menunjukkan kualitas pembinaan sepak bola NTT di level nasional. PSN Ngada yang pernah berkiprah di ajang sepak bola Divisi I Nasional akan menunjukkan karakter bermainnya dengan bola-bola panjang diikuti kecepatan dan tendangan yang keras ke arah gawang lawan. Karakter bermain seperti ini akan mudah dipatahkan oleh para pemain Manggarai Timur dengan cenderung bermain bertahan dan mengandalkan sentuhan bola dari kaki ke kaki ala tim samba Brasil lalu menusuk ke daerah lawan dengan cara yang santun tanpa cela.
Perbedaan karakter bermain inilah yang akan membuat pertandingan semakin menarik. Jika para pemain PSN Ngada mampu mendikte permainan Persematim, maka sudah dapat dipastikan bahwa kemenangan akan berpihak pada tim yang telah dua kali menjuarai Piala Gubernur ini. Akan tetapi jika Persematim mampu meredam bola-bola panjang, kecepatan serta mampu mengorek mental dan emosional anak-anak Ngada sudah pasti Persematim akan memenangkan pertandingan. Ingat bahwa pada babak final mental dan etika sepak bola menjadi faktor yang paling penting untuk memenangkan pertandingan.
Babak final bukan saja para pemain akan mempertontonkan kualitas mengolah bola dan mengandalkan kekuatan fisik semata dan bukan juga kehebatan seorang pelatih dalam meramu strategi dengan jitu, tetapi lebih dari itu peran mental menjadi kekuatan yang utuh untuk dapat memenangkan pertandingan. Di samping itu, semua yang terlibat dalam pertandingan final sepak bola Gubernur Cup VII harus menjaga kesucian dari sepak bola itu sendiri. Memang sepak bola adalah sebuah olahraga, namun secara filosofis sepak bola memiliki nilai-nilai serta etika yang jika dilanggar, disakiti, dinodai secara tidak wajar, maka harapan untuk menjuarai kompetisi kali ini akan sia-sia.
Penulis sangat paham tentang karakter dan budaya anak-anak dari PSN dan Persematim, jika keduanya menempatkan mental sepak bola sebagai sebuah kesucian dan tempat ibadah, sudah pasti kemenangan akan berpihak pada siapa yang paling sportif menjalankan filosofi sepak bola dengan benar. Kami Datang, Kami Bermain dan Kami Menang secara Sportif. Salam sepak bola BERSAHABAT.*