Opini

Idul Fitri: Menembusi Asap Terorisme

SALAH satu novel yang terbilang sukses di Indonesia dewasa ini adalah Bulan Terbelah di Langit Amerika

Idul Fitri: Menembusi Asap Terorisme
-
Paul Budi Kleden, SVD

Oleh: Paul Budi Kleden, SVD
Rohaniwan Katolik, Tinggal di Roma

SALAH satu novel yang terbilang sukses di Indonesia dewasa ini adalah Bulan Terbelah di Langit Amerika karangan pasangan suami istri Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2014, Mei tahun ini novel ini sudah mengalami cetak ulang untuk kesepuluh kali.

Sebelumnya, Hanum yang adalah putri politisi Amien Rais menerbitkan novel 99 Cahaya di Langit Eropa (2011) dan Berjalan di Atas Cahaya (2013). Di dalam Bulan Terbelah di Langit Amerika Hanum dan Rangga melukiskan petualangan mereka di New York dan Washington DC saat mendapat tugas mengunjungi negeri itu. Hanum untuk sebuah reportase teramat menantang mengenai apakah dunia menjadi lebih baik tanpa Islam, sementara Rangga demi sebuah presentasi akademis mengenai kedermawanan dan kesuksesan berbisnis.

Novel ini adalah sebuah kisah perjuangan untuk menembusi kepekatan prasangka orang tentang Islam setelah aksi-aksi terorisme, terutama sesudah 11 September 2001. Islam dan dunia sepertinya tidak lagi sama setelah kejadian itu. Atas nama Islam, sejumlah kelompok merancang dan melancarkan aksi teror. Sepertinya tidak ada lagi tempat yang dapat steril dari ancaman-ancaman tersebut. Aksi-aksi ini perlahan menyuburkan penilaian orang yang mendakwa Islam sebagai agama kehancuran dan penyebar ketakutan. Tetapi, pada dasarnya generalisasi adalah bencana yang menghancurkan peradaban, karena dia mematikan benih kebaikan yang terkandung di dalam mayoritas sebuah kelompok. Memang benar, entah karena alasan ketidakmatangan kepribadian, janji ekonomis dan konsep keagamaan yang kerdil, sejumlah orang dapat dengan mudah diyakinkan untuk memasang bom di tubuhnya untuk menghancurkan orang-orang yang dianggap terkutuk olehTuhan. Sejumlah kecil orang ini memang dapat merancang aksi yang berdampak besar, luas dan lama. Ribuan nyawa orang dapat direnggut secara mendadak, sementara jutaan lainnya diperangkap dalam ketakutan yang berkepanjangan dan sering irasional. Banyak orang tiba-tiba mencurigai semua yang dikonotasikannya dengan kelompok kecil tersebut.Warna kulit yang tak jauh berbeda, cara berpakaian yang mirip, nama yang yang hampir serupa, atau tanah air yang sama sudah menjadi alasan untuk mengambil jarak aman ketika bepergian menumpang kendaraan yang sama, atau membuat para petugas keamanan ekstra hati-hati. Tetapi kelompok itu tetaplah kelompok kecil. Mayoritas berpikir dan berkarya dalam kerangka yang berbeda, kendati terlampau sering mayoritas ini tidak bersuara sehingga gampang dianggap menyetujui para pengkhianat.

Di dalam novel BulanTerbelah di Langit Amerika, dengan menggunakan tokoh dari pihak Islam dan non Islam yang menjadi korban peristiwa 11 September 2001, suami istri Hanum dan Rangga hendak membuka mata para pembaca bahwa adalah tidak adil apabila Islam disamakan begitu saja dengan kekerasan dan terorisme. Islam bukanlah "bom, memancung orang, menerbelakangkan perempuan". Islam mengajarkan perdamaian, dan bagian terbesar dari umat Islam memang meniti jalan damai itu. Mereka mencoba menjadi agen pembawa perubahan masyarakat menuju keadilan, toleransi dan kesejahteraan bersama. Seperti semua agama lain, Islam pun mempunyai pengikut yang kepeduliannya terhadap orang lain patut diteladani, yang mengenal dan menghidupi hukum kasih kepada manusia siapa pun sampai rela mengorbankan hidup sendiri. Novel Bulan Terbelah di Langit Amerika menampilkan keteladanan itu dalam tokoh Ibrahim Hussein, yang rela sungguh mencintai kehidupan dan berjuang untuk menyelamatkan orang-orang yang sebenarnya asing baginya, selain terikat oleh relasi kerja yang baru berusia sehari. Kegigihan perjuangan Ibrahim untuk para rekan kerjanya, dan kasihnya yang demikian mendalam kepada istri dan anaknya yang baru berusia setahun yang mesti ditinggalkannya, menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi Phillipus Brown untuk membuat yang terbaik dari hidupnya, menjadi dermawan yang membagikan kekayaannya dengan mereka yang menjadi korban keangkuhan sistem politik dan ketidakpedulian sistem ekonomi. "Ibrahim mengajari saya sesuatu. Usaha dan berupaya sekuat raya, dalam keadaan apa pun, hingga melihat kesungguhan itu dan mengulurkan tangan-Nya. Ibrahim mengajari saya sesuatu bernama ikhlas. Harapan besar yang kandas belum tentu sungguh-sungguh kandas. Tuhan tak akan mengandaskan impian hamba-Nya begitu saja. Dia tidak akan menaruh kita dalam kesulitan yang tak terperi tanpa menukarnya dengan kemuliaan pada masa mendatang. Itulah mengapa saya mendedikasikan hidup saya untuk umat manusia", demikian Phillipus Brown menyampaikan kesaksiannya pada malam penobatannya sebagai pahlawan kemanusiaan oleh stasiun televisi CNN.

Delapan tahun setelah kematian Ibrahim Hussein dalam peristiwa kehancuran menara kembar New York pada 11 September itu, Azima, istrinya, yang mesti hidup di bawah tekanan keluarga dan dalam kebimbangan karena menghadapi kekejaman yang mengatasnamakan Islam, akhirnya dapat menarik nafas lega dan dengan bangga dapat mengakui diri sebagai seorang muslimah. Dan juga delapan tahun sesudah kejadian itu Michael Jones yang kehilangan istri dan sejak saat itu menjadi pembenci Islam, pemimpin demonstrasi yang menolak pembangunan sebuah masjid di dekat titik nol, pusat kenangan akan hari naas 11 September itu, dapat dibebaskan dari pandangan yang tidak adil tentang Islam dan para pengikutnya. Karena, baru delapan tahun sesudah itu Jones diberi tahu bahwa Ibrahim Hussein, seorang muslim, bawahan istrinya, sebenarnya berusaha keras untuk menyelamatkan Joanna Jones, sang istri, yang toh kemudian memilih melompat dari jendela karena tak tahan dalam kesesakan manusia dan kepekatan asap akibat serangan pesawat. Michael Jones akhirnya mengakui, kejahatan yang terjadi itu bukan lahir dari rahim Islam yang sesungguhnya. Dalam kondisi sakit yang parah dia menegaskan, "Tragedi itu adalah tragedi umat manusia. Baik muslim ataupun bukan, semuanya telah tersakiti. Mungkin sekarang ini muslim justru yang paling dikhianati. Dan kebencianku, aku membuat mereka semakin merana".

Azimah kembali menyadari diri sebagai seorang muslimah, membangun rasa percaya diri dalam pengakuan iman akan Allah yang rahim terhadap umat-Nya dan menguatkan tekad untuk menjadi pembawa damai dan penyebar nilai-nilai kemanusiaan. Itulah pula kiranya makna perayaan Idul Fitri. Setelah berpuasa, berdoa dan berbuat baik selama bulan Ramadhan, saudara-saudari umat Islam kembali ke fitrah, jati dirinya dan jati diri agamanya, pembawa damai dari sebuah agama damai. Jika demikian, jawaban yang pantas diberikan untuk pertanyaan yang ditugaskan koran di Austria kepada Hanum: apakah dunia akan menjadi lebih baik tanpa Islam, adalah tidak. Sebaliknya, dunia akan menjadi lebih baik kalau saudara-saudari muslim menjadi semakin menghayati dan menghidupi jati dirinya sebagai agen-agen perdamaian.

Tidak hanya itu. Sebagai orang-orang beragama lain yang turut merayakan bersama saudara-saudari muslim, Idul Fitri, perayaan ini sejatinya menjadi undangan untuk membebaskan diri dari serba prasangka tentang Islam, seperti Michael Jones dalam novel Hanum dan Rangga. Kita perlu melihat menembusi kabut prasangka yang amat mudah disuburkan oleh kecenderungan menggeneralisasi setelah menyaksikan aksi-aksi kekerasan. Idul Fitri adalah kesempatan bagi para pengikut agama yang lain untuk menembusi asap teroris medan melihat, mengenal serta menghargai jati diri Islam yang sebenarnya, yang memang pada dasarnya menjadi ilham yang menyemangati demikian banyak sesama warga negara dan rekan-rekan penghuni bumi, yang berwatak damai, yang mempunyai kepedulian terhadap para penderita, yang rela berkorban untuk memperjuangkan keadilan.

Satu contoh untuk melihat fitra Islam seperti itu adalah pesan Idul Fitri yang disampaikan oleh Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama kepada semua umat Islam. Tahun ini, Kardinal Jean-Louis Tauran, Presiden Dewan itu, merujuk pada kerahiman Tuhan sebagai iman yang merangkai kedua komunitas, kekristenan dan Islam. Islam, seperti juga kekristenan, adalah agama-agama yang percaya akan Allah yang rahim dan dipanggil untuk bersikap rahim kepada sesama, teristimewa mereka yang berada dalam kemalangan. Para pemeluk agama-agama ini tidak dapat memalingkan wajah dari penderitaan orang-orang yang menjadi korban kekerasan dan konflik, khususnya orang-orang tua, anak-anak dan kaum perempuan. "Sebab itu, amatlah penting bahwa kita bekerja sama untuk membantu mereka yang berkesusahan. Adalah satu sumber harapan yang besar ketika kita mengalami atau mendengar tentang orang-orang Islam dan Kristen yang saling bahu-membahu membantu mereka yang menderita. Jika kita bahu-membahu, kita mengamalkan satu ajaran penting dari agama kita masing-masing dan menunjukkan kerahiman Tuhan, dan dengan demikian menunjukkan satu kesaksian yang lebih terpercaya tentang iman kita, baik secara pribadi maupun secara bersama". Untuk dapat bahu-membahu, kita perlu lepaskan syak wasangka, menembusi kabut prasangka dan asap kecurigaan. Dalam arti ini, selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri untuk semua.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved