Salam

Kerja Keras dan Kerja Cerdas

Kita adalah manusia yang memiliki tanggung jawab moral, baik terhadap sesama maupun terhadap Tuhan.

Editor: Agustinus Sape
ist
GADUNGAN - Hakim Gadungan ini bernama Theo Juman. 

TIDAK semua yang bisa kita pikirkan boleh kita lakukan. Kita adalah manusia yang memiliki tanggung jawab moral, baik terhadap sesama maupun terhadap Tuhan. Hal ini mungkin cocok dikaitkan dengan kasus penipuan oleh oknum 'hakim agung' yang ditangkap Tim Buser Polres Kupang di Oesao, Senin (27/6/2016).

"Hakim agung" yang bernama Stefanus Juman itu menipu dan memeras seorang guru bernama Yulius Bera Tenawahang. Stefanus menuding Yulius telah mencemarkan namanya bersama 10 hakim agung di Mahkamah Agung RI karena berusaha mencari namanya di google. Akibat penipuan itu, Tenawahang kehilangan uang Rp 3 juta.

Kasus gadungan dengan motif untuk mendapat keuntungan tertentu secara tidak wajar sudah sering terjadi di tengah kita. Terjadi jauh sebelum munculnya penipuan lewat investasi bodong atau lewat telepon atau sms. Korbannya pun sudah banyak.

Herannya, penipuan seperti ini masih terjadi di tengah masyarakat di mana manusianya sudah makin cerdas dan menguasai berbagai jenis teknologi. Apesnya lagi, masih ada yang termakan oleh tipuan-tipuan ini.

Memang kadang-kadang karena sedang apes saja. Tipuan-tipuan seperti ini membuat kita terlena, lupa bersikap kritis. Kita seperti terhipnotis dan mengikuti saja kemauan penipu, seolah-olah apa yang dikatakannya benar.

Tampaknya kita memang perlu belajar khusus tanda-tanda penipuan dan menguasai cara-cara atau tips untuk menghindari penipuan. Kenapa? Karena penipu biasanya sangat lihai memanfaatkan situasi yang sedang kita alami. Mereka berlagak sangat memahami kita dan mau menolong kita. Siapa yang tidak senang ditolong? Tetapi bagaimana membedakan pertolongan yang benar dari pertolongan yang mengandung penipuan, itulah yang harus kita pelajari dan harus kita kuasai.

Mengapa orang nekat melakukan penipuan? Pasti bermacam- macam alasannya. Mereka pada dasarnya punya ambisi untuk memiliki uang banyak atau apa pun yang diinginkannya. Namun, karena ambisi itu sulit dicapai, karena menuntut kerja keras, maka dia coba menempuh cara-cara yang instan meski melanggar norma dan etika.

Ada memang yang dari sononya berwatak penipu karena kurangnya iman dan bekal etika. Orang seperti ini biasanya selalu mencari peluang untuk menipu dalam situasi dan kondisi apa pun. Tetapi ada juga yang muncul sesaat karena adanya peluang.

Oleh karena itu, kita harus senantiasa bersikap cerdas dan waspada kapan dan di mana pun agar tidak menjadi korban penipuan. Sedangkan untuk para penipu, tinggalkan cara-cara yang menipu karena sehebat-hebatnya Anda menipu, cepat atau lambat Anda akan ketahuan dan mendapat akibat yang akan lebih merepotkan Anda. Kita boleh bercita-cita besar, tetapi hendaknya diupayakan melalui cara-cara yang benar, bukan dengan cara menipu orang lain. Tidak ada kesuksesan yang diperoleh dengan gampang, kecuali dengan kerja keras dan kerja cerdas.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved