Opini

Bripka Seladi dan Moralitas Polisi

NAMA Bripka Seladi menjadi trending topic bulan Mei lalu

Bripka Seladi dan Moralitas Polisi
Pos Kupang/Romualdus pius
Miras di Polres Ende yang siap dimusnahkan 

Oleh: Tony Kleden
Wartawan, Mengajar Jurnalistik di SMA Seminari St. Rafael Oepoi Kupang

NAMA Bripka Seladi menjadi trending topic bulan Mei lalu.Anggota polisi yang bertugas di Polres Malang, Jawa Timur ini jadi tenar karena pekerjaan sampingannya sebagai pemulung. Mengumpulkan sampah, barang-barang bekas untuk dijual kembali.

Ketika aksi dan penampilannya muncul di media sosial, ribuan netizen merespons. Semua merespons dan memberi apresiasi terhadap apa yang dilakukannya setelah jam dinas. Respons yang demikian cepat dari ribuan netizen ini muncul di tengah sinisme masyarakat terhadap korps baju cokelat itu. Sinisme itu terutama terkait dengan dugaan dan tudingan masyarakat tentang polisi yang suka 'bermain uang' dalam banyak urusan dengan dan atau melibatkan institusi ini.

Bripka Seladi tentu punya sejumlah alasan mengapa mesti memulung. Jika dipadatkan kira-kira seperti ini inti alasannya: lebih baik jadi pemulung daripada terima suap. Tidak sulit memperkirakan sejumlah premis pendukung yang kemudian menghantar Seladi tiba pada kesimpulan seperti ini.
Beberapa premis yang bisa disebut, misalnya, pertama, institusi Polri adalah institusi yang rentan dengan 'permainan uang'. 'Permainan uang' diduga kuat terkait dengan penyelesaian tindak pidana yang dilakukan masyarakat. Kasus-kasus korupsi adalah 'kasus basah' yang selalu menggoda untuk diselesaikan di bawah tangan. Dugaan permainan uang lain adalah rekrutmen anggota polisi. Di masyarakat seperti ada adagium yang telah klasik, mau jadi polisi, siap banting uang.

Kedua, karena rentan dengan permainan uang, maka banyak oknum polisi kaya mendadak. Penampilan mereka berbeda dan lebih wah dari profesi lain. Dalam sejarah perjalanan bangsa ini, di tempat lain ada anggota polisi dengan pangkat rendah punya rekening gendut. Ingat Aiptu Labora Sitorus anggota Polres Raja Ampat yang kaya mendadak dalam dugaan kasus pembalakan liar dan pencucian uang? Dari tangannya jaksa menyita empat unit mobil truk besar, satu unit truk sedang dan tiga unit kapal.

Ketiga, ada pekerjaan tambahan lain yang bisa mendatangkan uang selain berdinas sebagai anggota polisi. Artinya, setiap anggota polisi bisa memanfaatkan talenta, kapasitas, kompetensi dan bakatnya untuk ikut menambah pendapatannya. Bukan cerita baru lagi manakala mendengar banyak orang beralih profesi seusai jam dinas. Ada aparatur sipil negara menjadi agen koran, jadi nelayan, pedagang sembako. Ada juga pejabat pemerintah yang jadi dosen di perguruan tinggi. Di Belu, ada anggota TNI yang jadi petani buah-buahan yang sekali panen meraup untung puluhan juta rupiah.
Bripka Seladi memilih jadi pemulung sebagai pekerjaan tambahan di luar jam dinas. Kita bisa membayangkan, dalam benaknya Bripka Seladi sebetulnya bisa menjadi orang kaya seperti Aiptu Labora Sitorus di Irian yang punya aset miliaran rupiah. Sebagai anggota polisi lalu lintas di Malang, Bripka Seladi bisa bertindak nakal dan nekad sekaligus jika ingin mendapatkan uang. Menilang pengendara yang melanggar aturan di tempat sunyi adalah peluang yang sebenarnya bisa diambilnya untuk mendulang rupiah.
Tetapi itu tidak dilakukan Bripka Seladi. Dia konsisten pada sikap dan alasannya, lebih baik jadi pemulung daripada terima suap. Ini alasan menyangkut sikap, perilaku, etos yang sangat fundamental. Fundamental karena menyangkut jatidiri, menyangkut harga diri, menyangkut moralitas. Dan, Bripka Seladi tidak mau moralitas profesinya sebagai anggota polisi tercoreng oleh aksi dan atau tindakan di luar etika profesi dan bertentangan dengan norma moral yang dianut institusi kepolisian.
Dia sadar polisi itu profesi, bukan sekadar pekerjaan. Profesi merupakan bidang pekerjaan yang dilandasi dengan keahlian (keterampilan) tertentu. Kalau pekerjaan diperankan hanya untuk memperoleh keuntungan semata, maka profesi memusatkan perhatian pada kegiatan yang bermotif pelayanan.
Profesi memiliki beberapa ciri dan sifat khusus yang melekat erat. Di antaranya, pertama, adanya pengetahuan khusus. Biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki setelah mengikuti pendidikan, pelatihan, dan pengalaman bertahun-tahun. Kedua, adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi. Ketiga, mengabdi pada kepentingan masyarakat. Artinya setiap pelaksana profesi harus mengutamakan kepentingan masyarakat dibandingkan kepentingan pribadi.
Profesi polisi, sama seperti profesi dokter, wartawan atau guru mempunyai beberapa ciri ini. Tetapi lebih jauh dari ciri-ciri ini, profesi apa saja juga terikat pada tuntutan moral yang kemudian menjadi moralitas profesi. Moralitas merupakan bentuk jamak kata bahasa Latin mos yang berarti kebiasan, adat-istiadat. Lazimnya moralitas dimaknai sebagai akhlak, kesusilaan atau etika. Moralitas mengatur tentang apa yang baik dan apa yang buruk dari suatu perbuatan. Dengan demikian, moralitas profesi bisa dimengerti sebagai seperangkat nilai yang mengatur tentang apa yang baik dan karena itu diperkenankan, dan apa yang buruk dan karena itu harus ditolak.
Apa yang dilakukan Bripka Seladi pada galibnya merupakan penghayatan moralitas profesi yang sangat baik dan terpuji dari seorang anggota polisi. Lebih baik jadi pemulung daripada terima suap, karena itu, harus diterima sebagai pengejawantahan dan aktualisasi diri yang luar biasa pada tuntutan profesi sebagai anggota polisi.
Penghayatan dan pengejawantahan pada moralitas profesi yang ditunjukkan Bripka Seladi sangat penting untuk diangkat di tengah lemahnya kaum profesional menjaga, menghayati dan setia pada moralitas profesinya. Bripka Seladi adalah teladan yang menarik untuk kaum profesional dari profesi apa saja untuk setia pada panggilan profesinya.
Pujian setinggi-tingginya patut dialamatkan kepada Bripka Seladi. Dengan sikap dan contoh hidupnya, Bripka Seladi seolah ingin mengutip penyair Jerman, Friedrich Shilleer, ketika dia berujar: und sehts ihr nicht das Lebenein, nie wird euch das Leben gewonnen sein (hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan). Seladi telah mempertaruhkan hidupnya, dan dia telah memenangkannya.
Dirgahayu Polri. Masyarakat menunggu 'Bripka Seladi-Bripka Seladi' lain dari Nusa Flobamorata.*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved