Pendidikan Partisipatif

Kita perlu sadari bahwa kultur sekolah dibangun dengan beriorientasi pada paradigma positif-logis

Editor: Dion DB Putra
net
Ilustrasi 

Oleh Fransiskus Xaverius Ivan Rahas, SPd
Guru SMAN 2 Kupang

POS KUPANG.COM -Persoalan pendidikan di dalam sekolah sangatlah kompleks. Merosotnya prestasi, kedisiplinan dan tingkat kehadiran anak di sekolah adalah sekelumit dari kompleksitas masalah yang ada di sekolah. Selain itu, ekses perilaku dan adaptasi sosial anak yang negatif seperti penggunaan narkoba, seks bebas, aborsi, dan tindakan kriminal lainnya yang melibatkan anak usia sekolah juga membuat situasi sekolah semakin terjepit.

Kita perlu sadari bahwa kultur sekolah dibangun dengan beriorientasi pada paradigma positif-logis yang mengejar atau menggunakan tradisi ilmu (science) sebagai landasan kemajuan pengetahuan, mengabdi pada nilai-nilai angka dan mengelu-elukan ijazah dalam sistem pendidikannya.

Hal ini berdampak pada bergesernya hakikat pendidikan di sekolah menjadi lebih formalitas, rutinitas, tidak substantif dan mendalam. Pelajaran di dalam kelas tidak bisa menghasilkan manusia dewasa mandiri yang beretos kerja tinggi, beretika, bermoral, berperilaku santun, jujur, disiplin, bertanggung jawab, punya visi dan wawasan jauh ke depan. Kondisi ini memaksa sekolah harus segera berbenah dan mencari jalan alternatif model pendidikan anak dengan bermitra dengan orang tua dan masyarakat.

Sekolah tidaklah bisa mengambil seluruhnya peran strategis orang tua dalam mengisi dan membekali potensi, kecerdasan dan rasa percaya diri anak serta memfasilitasi anak-anak menjadi manusia dewasa mandiri. Untuk itu dibutuhkan sinergi antara orang tua, sekolah dan masyarakat dengan wujud partisipasi orang tua dan masyarakat dalam kegiatan sekolah. Keterlibatan orang tua berkorelasi erat dengan keberhasilan pendidikan anak di sekolah.

Paradigma Transformatif
Selama ini kultur pendidikan kita membagi pendidikan dalam dua domain yaitu formal dan informal. Orang tua dan masyarakat berperan aktif di dalam ranah domestik pendidikan informal anak, yaitu di rumah maupun dalam masyarakat, sedangkan guru dan sekolah berpastisipasi aktif dalam pendidikan formal anak. Kultur ini menjadikan pendidikan berjalan tidak optimal dan tidak bersinergi karena dua domain ini memiliki kultur pranata dan kepentingan yang berbeda.

Untuk itu dibutuhkan pertama-tama perubahan paradigma kultur pendidikan kita bahwa orang tua dan masyarakat adalah teman (mitra) dan rekan sekolah dalam proses menjadikan anak sebagai manusia dewasa sehingga mampu memberikan alternatif dalam menghadapi masalah. Paradigma ini tentunya lahir dari proses keberpihakan dan keprihatinan orang tua terhadap pendidikan anak.

Paradigma ini bersifat kolegial dan transformatif dengan mendorong sekolah untuk terbuka terhadap kerjasama dengan orang tua dalam kemitraan dan mengundang orang tua untuk aktif dalam kegiatan anak di sekolah khususnya kegiatan akademis praktis seperti memantau frekuensi kehadiran dan iklim belajar anak di sekolah, membangun persepsi positif orang tua tentang belajar di kelas, membantu kesiapan anak untuk mengerjakan pekerjaan rumah, dan meningkatkan kualitas waktu (Q-time) bersama anak.

Paradigma ini harus dapat dipelihara dan dikomunikasikan di antara orang tua, sekolah, dan masyarakat sehingga mendorong setiap anggotanya untuk turut mengambil peran di dalam pendidikan secara nyata sesuai dengan bakat dan panggilan hidup mereka masing-masing. Dengan partisipasi aktif, orang tua dapat memaknai maksud dan tujuan pendidikan bagi anak serta memampukan mereka melihat posisi mereka di dalam pendidikan anak.

Kemitraan Partisipatif
Dengan paradigma transformatif, partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pendidikan akan menghasilkan sebuah model kemitraan dengan adanya pembagian tanggung jawab dan inisiatif yang ditujukan pada pencapaian target kependidikan tertentu. Untuk mewujudkan kemitraan ini, sekolah dituntut untuk memiliki kepemimpinan profesional serta visi dan misi bersama untuk mewujudkan lingkungan belajar dan konsentrasi proses pembelajaran yang berpusat pada kemitraan partisipatif.

Sudah saatnya sekolah aktif dan terbuka mengajak orang tua memperhatikan prestasi dan pemetaan siswa di sekolah, seperti kemampuan emosional, kematangan sosial, kepribadian, dan sebagainya. Sekolah harus mampu memberikan nilai tambah kepada siswa dan orang tua melalui kegiatan pendidikan orang tua (parenting lesson) secara aktif seperti memberikan penyuluhan kepada orang tua tentang potensi dan permasalahan anak; mengedarkan leaflet-leaflet yang berkaitan dengan parenting dan pendidikan karakter; menggelar kegiatan bersama antara orang tua, siswa dan sekolah; dan melakukan visitasi ke rumah anak yang membutuhkan secara periodik.

Di lain pihak, orangtua dituntut harus aktif mengakses informasi tentang hasil belajar anak-anak, berkonsultasi dengan guru, hingga melihat langsung proses kegiatan belajar mengajar di sekolah sehingga dapat memiliki andil yang terbaik dalam membantu sekolah menciptakan percepatan peningkatan mutu pendidikan. Peran aktif orang tua perlu didukung oleh komunikasi yang baik antara pihak sekolah dan orangtua siswa.

Adanya interaksi antara orang tua dan pihak sekolah menjadi kunci berlangsungnya proses pendidikan anak yang efektif, baik di sekolah maupun di rumah sehingga dapat membangun ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi. Namun perlu disadari bahwa kemitraan partisipatif ini bisa hadir melalui suatu proses yang berkesinambungan yang dimulai dari proses pengajaran, pembiasaan, dan pelatihan yang konsisten.

Untuk itu, keseluruhan komponen di sekeliling anak harus terus bergerak selaras dan tidak saling menegasi sehingga akan melahirkan percepatan peningkatan kesadaran dan pemberdayaan orang tua, sekolah dan masyarakat akan pentingnya kemitraan mereka dalam pendidikan anak.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved