KONI NTT Memanusiakan Atlet

George Hadjo pelatih Kempo DAN V yang pernah berjuang sebagai atlet NTT pada masa lalu bahkan sampai

Editor: Dion DB Putra
ISTIMEWA
Para kenshi NTT yang bertanding di ajang Pra PON tahun 2015 di Bandung, Jawa Barat. 

Oleh Johni Lumba
Pengamat Olahraga, Tinggal di Kupang

POS KUPANG.COM - Frans Lebu Raya (Gubernur) dan Andre Koreh (Kadis PU) selaku Ketua Umum dan Harian KONI Provinsi NTT memberikan angin segar bagi para atlet yang sedang mempersiapkan diri menuju PON XIX yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 sampai dengan 29 September 2016 di Bandung -Jawa Barat. Komitmen yang dibangun oleh KONI NTT telah memberikan nuansa baru kepada para atlet dan pelatih bahkan mencatat sejarah paling mengesankan bagi duta-duta pejuang olahraga asal NTT.

George Hadjo pelatih Kempo DAN V yang pernah berjuang sebagai atlet NTT pada masa lalu bahkan sampai meneteskan air mata di kala melihat para atlet dan pelatih masa sekarang ini mendapatkan penghargaan dan juga perhatian emas dari KONI dan Pemerintah NTT. Bahkan George mengatakan bahwa kenapa hal ini tidak terjadi pada masa mereka ketika masih menjadi atlet?

Menurut George, jika KONI yang dipimpin oleh Bapak Frans Lebu Raya dan Andre Koreh sudah bisa memanusiakan atlet dan pelatih pada masa kini, maka sudah seharusnya para pelatih dan atlet berlatihlah dengan lebih keras demi memberikan yang terbaik bagi Provinsi NTT yang kita cintai.

Selanjutnya Hermensen Ballo mantan atlet tinju peraih tiga medali emas di PON yang saat ini menjadi pelatih tinju NTT mengatakan bahwa kalau para atlet tidak memanfaatkan momen ini dengan baik, maka kerugian besar akan menghiasi perjalanan karier mereka sebagai seorang petinju. Sebagai pelatih saya dan teman-teman akan berupaya semaksimal mungkin dalam mengandalkan pengalaman, pengetahuan dan skill kami untuk memberikan yang terbaik bagi para atlet, sebab perhatian KONI dan Pemerintah NTT kepada kami sangat luar biasa.

Perhatian yang diberikan oleh KONI NTT seharusnya didukung oleh semua stakeholder, seperti DPRD provinsi/kota/kabupaten, para bupati/walikota, KONI kabupaten/kota, induk cabang olahraga, instansi pemerintah/swasta, BUMN, perguruan tinggi, sekolah serta lainnya. Jika dukungan ini dibangun dengan hati yang ikhlas, jujur dan harmonis, maka sudah pasti kontingen NTT akan meraih prestasi yang fantastis dalam berbagai kegiatan olahraga, baik pada level nasional, regional maupun internasional.

Sejarah yang dibuat oleh KONI NTT melalui Ketua Umum Frans Lebu Raya dan Ketua Harian Andre Koreh, menjadi motivasi terbesar bagi para atlet dan pelatih yang sedang berjuang menuju PON. Sejarah yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1) masa Pelatda Sentralisasi yang diperpanjang waktunya menjadi 4 bulan; 2) tahap Pelatda Sentralisasi semua atlet pelatih menginap di hotel berbintang tiga Swissbellin Kristal Hotel Kupang; 3) setiap atlet yang memperoleh medali mendapatkan sebuah rumah dengan tipe 36; 4) setiap atlet yang memperoleh medali emas mendapatkan bonus berupa uang Rp 100.000.000, medali perak Rp 75.000.000, medali perunggu Rp 50.000.000.

Sedangkan para pelatih sedang diperjuangkan untuk mendapatkan 50% dari setiap atlet yang memperoleh medali; 5) setiap cabang olahraga akan diperjuangkan untuk mendapatkan bapak angkat seperti yang sudah dimiliki oleh cabang olahraga Kempo dan Pencak Silat.

Kepemimpinan Frans Lebu Raya selaku gubernur dan juga ketua umum KONI NTT bagi masyarakat olahraga khususnya para pengurus, pelatih dan atlet yang sedang terlibat dalam pelaksanaan Pelatda PON XIX mengatakan, "Kami sudah dihargai sebagai atlet dan pelatih serta pengurus yang berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat provinsi menjadi yang terbaik dalam bidang olahraga. Bahkan beberapa mantan atlet PON pada masa lalu menyampaikan bahwa KONI telah memanusiakan atlet.

Provinsi NTT, menurut sebagian orang di luar dan di dalam wilayah NTT, masih memiliki image bahwa provinsi ini miskin, akan tetapi perjuangan anak-anak melalui dunia olahraga tidak seperti anggapan orang lain tersebut. Kita boleh miskin harta, tetapi tidak miskin iman dan prestasi. Hal tersebut dibuktikan dengan penghargaan yang luar biasa bagi para pejuang olahraga yang akan menghadapi PON. Bonus uang dan rumah akan menjadikan para atlet dan pelatih akan menata masa depan mereka lebih baik lagi.

Untuk itulah para stakeholder harus terlibat dalam melihat perjuangan para atlet dan pelatih, khususnya jika ada atlet atau pelatih yang sedang bekerja atau studi/kuliah agar diberi izin dan keringanan agar biarlah konsentrasi mereka tertuju pada PON. Janganlah menghambat mereka. Perlu diingat bahwa perjuangan mereka melebihi apa yang dilakukan di tempat dia bekerja/bersekolah atau kuliah. Nyawa menjadi taruhan, merekalah pahlawan-pahlawan olahraga NTT yang mengangkat harkat dan martabat provinsi ini ke level nasional. NTT akan semakin dikenal di ajang nasional dann internasional. Jika bukan kita yang mendukung siapa lagi dan kalau bukan saat sekarang ini kapan lagi.

KONI NTT telah memanusiakan atlet berprestasi untuk itulah, para pengurus, pelatih dan atlet yang sedang berada dalam masa Pelatda selama 4 bulan ke depan berlatihlah lebih keras, berpikirlah lebih cerdss, bertindaklah lebih tepat sebab prestasi kalian dibatasi oleh umur kalian. Selagi masih ada kesempatan pergunakanlah secara baik sebab tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan dan pengorbanan.

Selamat melakukan Pelatda Sentralisasi, buktikan dan catatlah sejarah yang manis dalam perjalanan kariermu sebagai atlet dan pelatih, karena gajah mati meninggalkan gading, sedangkan manusia mati meninggalkan nama. Catatlah namanya sebagai atlet dan pelatih pembuat sejarah baru ketika KONI NTT memanusiakan atlet dengan slogan: NTT EMAS. ...SALAM OLAHRAGA..JAYA.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved