Padma, Aku Kecewa

KENAPA harus Padma? Bunga Padma atau lotus adalah simbol kehidupan itu sendiri.

Padma, Aku Kecewa
KOMPAS/THOMAS PUDJO WIDIJANTO
Pemilik Limanjawi Art House, Umar Khusaeri, menyaksikan karya Kartika Affandi yang dipamerkan. 

Bunga padma boleh dibilang tanaman purba. Kehadirannya sudah berabad-abad lalu. Banyak bangsa meyakini bunga ini memiliki makna kemurnian dan kesucian.

Bunga yang bisa memiliki warna putih, ungu, merah, dan biru ini banyak digunakan sebagai simbol dalam budaya Hindu dan Buddha. Lihatlah alas Dewa Wisnu atau Siwa yang berdiri di atas alas bunga padma. Berpijak pada kesucian. Begitu juga Dewi Saraswati, yang berdiri di atas padma. Itulah simbol kesempurnaan pengetahuan sekaligus kesucian.

Perupa Dian Anggraini dengan indah memaknai padma sebagai simbol kesucian. Dalam karyanya berjudul "Spiritual Energy", ditampilkan kelopak bunga padma besar warna pink berarsir putih. Di tengahnya muncul putik warna kuning dan di atas putik bunga itu ada perempuan berpakaian serba putih duduk bersila.

Inilah keanggunan dan karisma padma. Karya ini seperti membangun sebuah energi tentang bunga padma yang membawa seorang perempuan seolah mengangkasa menggapai dunia kesucian.

Karya Dian berjudul "Di Balik Kelambu" berbicara lebih dalam tentang hidup. Seorang perempuan tidur beralaskan kain yang penuh dihiasi teks-teks kalimat. Wajah perempuan yang tidur telentang ini menghadap dinding yang penuh dihiasi relief perempuan yang mirip Karmawibangga yang ada di kaki Candi Borobudur. Semua perempuan itu seolah melambai-lambaikan bunga padma dengan tangan kanannya.

Perempuan tidur, relief perempuan memegang bunga padma dan teks di alas tidur. Barangkali ini sebuah perenungan, perjumpaan dalam mimpi tentang ajaran Karmawibangga, ajaran tentang sebab-akibat yang bersumber dari ajaran baik dan jahat.

Itulah rahasia "Di Balik Kelambu" Dian Anggraini, bahwa di balik kelambu bukan hanya ada kisah Kama Sutra, tetapi juga bisa menjadi tempat perenungan tentang hidup.

Yasumi Ishii, perupa Jepang yang kini menetap di pinggiran Candi Borobudur, menempatkan padma sebagai sebuah keabadian. Ini terlihat dalam karyanya berjudul "Catch the Power". Dia justru menggambar kelopak-kelopak bunga padma yang sudah mati.

Bunga padma memang bisa mati, tetapi dalam lembar-lembar daun yang telah mati itu terdapat bintik seperti lubang yang di dalamnya menyimpan benih. Suatu saat, benih itu bisa muncul sebagai padma yang indah lagi. Itulah keabadian bunga padma. Manusia bisa mati, tetapi karya-karyanya terus hidup, berjalan menembus zaman. (Kompas.Com)

Editor: Rosalina Woso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved