Pasar Barter Masih ada di Manggarai Barat

Kampung Warloka berjarak sekitar 30 kilometer dari Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Mabar.

Editor: Alfred Dama
POS KUPANG/SERVANTINUS MAMMILIANUS
Pasar barter di Manggarai Barat 

POS KUPANG.COM, LABUAN BAJO -- Pasar tanpa transaksi uang tunai alias barter masih terpelihara di Kampung Warloka, Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar).

Kampung Warloka berjarak sekitar 30 kilometer dari Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Mabar.

Warloka mungkin satu-satunya pasar barter yang masih bertahan di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasar yang tidak menggunakan alat tukar uang ini umumnya melibatkan warga yang berdomisili di pegunungan dengan warga yang tinggal di pesisir pantai serta warga dari pulau-pulau kecil di sekitar Labuan Bajo.

Pantauan Pos Kupang, Selasa (26/4/2016), transaksi paling dominan di pasar barter itu berbagai jenis sayuran yang ditukar dengan ikan. Namun, ada juga penukaran dengan sirih, pinang, ubi, pisang dan berbagai hasil kebun lainnya.

Sayur, ubi, pisang, sirih dan pinang merupakan hasil kebun dari para petani dari daerah pegunungan. Sedangkan ikan aneka jenis, baik ikan kering maupun ikan segar hasil jerih lelah para nelayan di pesisir dan pulau-pulau kecil di Kecamatan Komodo.

"Saya setiap kali pasar, sekitar belasan orang yang datang menukarkan barang-barang mereka dengan ikan yang saya siapkan. Sekarang saya menerima tiga ikat kacang, ditambah lima buah labu kuning dan saya memberi delapan ekor ikan kering belah," kata Muhajir, warga dari Pulau Papagarang saat ditemui di pasar barter Warloka, Selasa (26/4/2016).

Dia mengatakan, pasar barter juga sangat bermanfaat untuk mempererat rasa persaudaraan antara sesama warga dari berbagai latar belakang dan asal usul yang berbeda.

"Ada orang Manggarai, ada Suku Bajo, Bima, Bugis, Makassar dan warga lainnya. Kami semua bersatu di pasar ini," kata Muhajir.

Di lokasi yang sama, Mujiati menukarkan kacang dan labu kuningnya dengan ikan milik Muhajir.

"Setiap kali pasar saya selalu datang, biasanya membawa ubi atau sayur," kata Mujiati. Pemilik ikan lainnya, Ahmad membenarkan sayur-sayuran paling banyak yang ditawarkan untuk ditukar dengan ikan.

"Seperti kacang-kacangan. Barusan saya menerima tiga ikat kacang dan saya memberi mereka ikan. Kebanyakan kami ditawari sayur dan kami hanya memiliki ikan untuk ditukarkan," kata Ahmad.

Warga lainnya, Theresia Ija mengakui proses barternya gagal. Saat itu Ija membawa sayur kangkung dan menawari kepada pemilik ikan, namun negosiasi untuk saling tukar tidak berhasil. "Saya bawa sayur kangkung, biasanya dijual per ikat harganya Rp 1.000. Sayur kangkung saya tawarkan tukar dengan ikan, tetapi tidak jadi," kata Ijat.

Hasil kebun yang dibawa petani ke pasar barter sesuai musim. Dalam proses tukar- menukar, selain kecocokan antara barang, kedua belah pihak juga mempertimbangkan rasa kemanusiaan.

Hari Selasa (26/4/2016), warga pegunungan mendatangi para nelayan yang menjual ikan, lalu mereka saling tawar untuk menyepakati apakah sayurnya bisa ditukar dengan ikan kering atau ikan segar. Saat ada kesepakatan, pemilik ikan yang menentukan berapa banyak ikan yang dia berikan kepada penjual sayur dalam transaksi tersebut.

Tidak semua proses tawar-menawar berakhir dengan kesepakatan saling tukar, ada juga pemilik ikan yang keberatan memberi ikannya ditukar dengan sayur. Demikian pula sebaliknya, ada petani yang tidak jadi menukarkan sayur dengan ikan kalau dinilai tidak seimbang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved