Dosa Pendidikan Kita
Dengan pendidikan, kera dapat menjadi manusia pintar; monyet dapat berubah menjadi manusia cerdas.
Apresiasi Artikel Sarjana Paksa Diri
Oleh Anton Djebarus
Pensiunan Guru, Tinggal di Manggarai Barat
POS KUPANG.COM - Menurut ilmu sejarah, batasan prasejarah dan sejarah adalah tulisan. Karena tulisan menjadi ukuran sejarah, maka tulisan yang sama menjadi ukuran perkembangan peradaban sebuah bangsa. Karena berkaitan dengan peradaban, maka pendidikan harus disebut di sini. Sebab dasarnya adalah karena tulisan, apa pun bentuk dan jenisnya, hanya bisa dipelajari dengan amat sistematis melalui pendidikan.
Dengan pendidikan, kera dapat menjadi manusia pintar; monyet dapat berubah menjadi manusia cerdas. Dalam kerangka itu, Bloom, seorang psikolog pendidikan, membagi peta perkembangan pemikiran manusia. Bloom membagi strata pemikiran manusia ke dalam enam tingkat yakni mengetahui, mengerti, memahami, menganalisis, dialektis dan evaluatif. Ahli pendidikan dan psikolog pendidikan sering mengatakan bahwa untuk sampai ke tingkatan pemikiran yang evaluatif, pendidikan harus benar-benar menjadi batu ujian utama.
Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel tentang pendidikan di kolom ini yang ditulis oleh Albertina Yosefina Samu, seorang guru di SDK Ruteng II Langke Rembong Manggarai. Sarjana Paksa Diri adalah judul tulisan itu. Meski lebih banyak yang memberi apresiasi atas artikel itu, tulisan yang sama ternyata bagaikan bom yang meledak dan menggugat kemapanan banyak pihak. Oleh sebagian pihak yang masih hidup di zaman batu, tulisan itu seakan menjadi semprot yang mengganggu diri dan kehidupan sosial pendidikannya. Aneh bin ajaib.
Beberapa hal yang menjadi gugatan beberapa pihak yang tidak setuju dengan artikel itu. Pertama, terkait dengan pemakaian frase sarjana instan dan sarjana abal-abal. Kedua, berkaitan dengan isi tulisan, mereka yang menggugat tulisan itu seperti sulit membedakan antara refleksi dengan pandangan biasa tentang sebuah fakta. Ketiga, penggugat seakan tidak paham akan istilah atau terminologi sarjana dalam tulisan itu. Oleh beberapa teman, sarjana hanya dipahami sebagai sarjana pendidikan dan bukan yang lain.
Karena itu maka tulisan ini merupakan bentuk apresiasi atas tulisan Albertina Yosefina Samu sekaligus klarifikasi atas kekeliruan beberapa pihak yang terus menggugat tulisan itu hingga memekakkan telinga. Saya menilai bahwa mereka yang tersinggung atas tulisan itu disebabkan karena mereka kurang bahkan tidak mengerti isi tulisan itu. Menurut saya, mereka sedang bingung dan terjebak dalam kesulitan paripurna.
Akhirnya kita sulit membedakan mana manusia cerdas dan mana hewan yang berperilaku seperti manusia.
Sesat Pikir
Tiga hal yang digugat teman-teman yang tersinggung menurut saya masuk dalam sesat pikir. Pertama, terkait dengan pemakaian frase sarjana instan dan sarjana abal-abal, banyak pihak kurang mengerti. Telah dijelaskan bahwa sarjana instan adalah sarjana yang dihasilkan karena proses yang tidak benar; menerabas dan serba cepat. Kita bisa memeriksa kualitas para sarjana kita. Banyak yang mencuri dan memanipulasi gelar. Banyak yang memanipulasi sumber sehingga mencuri karya orang lain.
Dalam banyak kasus, para mahasiswa tidak lagi mengambil sumber asli dan hanya belajar dari modul yang dibagikan dosen. Hasilnya adalah abal-abal. Maka, ketika diminta oleh pimpinan untuk membuat surat dinas, jawabannya stabil dan tetap. Saya tidak bisa. Ketika diminta menyebut angka ribuan bahkan ratusan, yang keluar malah menyebut puluhan secara salah.
Kedua, berkaitan dengan isi tulisan, mereka yang menggugat tulisan itu seperti sulit membedakan antara refleksi dengan pandangan biasa tentang sebuah fakta. Banyak pihak tidak memahami arti opini. Opini adalah pendapat pribadi tentang sebuah fenomena atau sesuatu hal penting. Sementara refleksi adalah hasil permenungan seseorang tentang sebuah fenomena.
Ketika semua orang menyadari arti penting pendidikan, fakta lain menunjukkan bahwa pendidikan kita ternyata miris bahkan miring. Menurut saya, itulah alasan mengapa penulis menyebut tulisan itu sebagai sebuah bentuk refleksi dan lebih daripada sebuah opini atau pendapat.
Ketiga, penggugat seakan tidak paham akan istilah atau terminologi sarjana dalam tulisan itu. Teman-teman seakan terlampau reaktif atas penggunaan frase itu. Saya menilai bahwa mereka kurang bahkan tidak memahami isi tulisan itu. Jika dibaca lebih cermat, saya tidak menemukan bahwa penulis menyebut sarjana pendidikan tersendiri. Sarjana pendidikan selalu diikuti dengan frase sarjana lain. Itu berarti bahwa sarjana dalam tulisan itu tidak hanya diarahkan untuk para sarjana pendidikan atau pendidik.
Sarjana dalam konteks tulisan itu adalah semua produk yang dihasilkan dari lembaga pendidikan tinggi, apa pun gelar yang disandangnya.
Dalam konteks yang lain, saya justru membaca banyak di antara mereka yang sedang dalam situasi neurosis akut. Disebut demikian karena penilaian mereka terlihat tidak obyektif dan jauh dari rasionalitas manusia yang paling dungu sekalipun. Malah, penilaian mereka mengarah ke soal argumentum ad hominem; sebuah serangan tidak ditujukan ke isi tulisan, tetapi kepada pribadi penulis. Karena itu, saya menilai mereka sebagai manusia kuno yang hidup di zaman modern. Mereka hanya bisa hidup di zaman batu.
Sebab, bagi mereka, rasionalitas dipakai tidak untuk mencerahkan banyak pihak, tetapi untuk menyerang pribadi secara individual. Karena alasan itulah, maka saya menyebut dosa pendidikan kita. Dosa pendidikan muncul ketika pendidikan menghasilkan manusia sensitif secara emosional-psikologik dan tidak cerdas secara intelektual-rasionalitas. Sungguh naïf!*