Elegi Petani Rumput Laut

Para petani pernah merasakan masa keemasan harga rumput laut ini hingga mencapai Rp 12.000 per kilogram pada tahun

Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra

POS KUPANG.COM - Kisah pilu atau "ratapan duka cita" para petani rumput laut di Pantai Tablolong, Desa Tablolong, sekitar 30 kilometer barat Kota Kupang, pantas menjadi perhatian semua pihak. "Nyanyian" ini jangan hanya terdengar di telinga kemudian hilang terbawa angin musim.

Sebaliknya, menjadi daya dorong untuk memberi mereka kabar gembira tentang hidup ini. Bahwa prahara tengah melanda mereka, tetapi hari baru akan muncul bila dihadapi dengan cara yang bijak.
Saat ini tumpukan rumput laut "menghiasi" rumah-rumah penduduk. Mengapa komoditi ini masih ada karena harganya sedang anjlok.

Para petani pernah merasakan masa keemasan harga rumput laut ini hingga mencapai Rp 12.000 per kilogram pada tahun 2008 silam. Sejak tahun 2009, panenan mengalami puso disusul dengan harga yang mulai menurun hingga level Rp 750 per kilogram saat ini.

Bila ditelaah lebih jauh, panenan mengalami puso karena pengaruh atau dampak dari tumpahnya minyak di kilang Montara di celah Timor tahun 2009. Hampir setahun lebih barulah pemerintah Australia terkejut dan terkaget-kaget akan kondisi ini. Selama setahun itu pula minyak Montara meracuni Laut Timor. Dampaknya terlampau banyak. Bukan hanya panenan rumput laut yang tak jadi, namun seluruh biota laut musnah.

Montara tetaplah montara dan jauh dari jangkauan pemahaman masyarakat Tablolong. Saat ini dibutuhkan langkah konkret terutama dari Pemerintah Kabupaten Kupang. Pemerintah harus bisa memberi jalan keluar agar petani rumput laut dapat "hidup" kembali. Saat ini mereka tak bisa berbuat banyak. Jika memungkinkan pemerintah dapat membelinya dengan harga yang relatif wajar.

Yang menjadi soal adalah dampak ikutannya. Salah satunya, yakni cicilan untuk kredit usaha rakyat (KUR) tak bisa mereka lakukan. Pihak bank sudah mendatangi petani, namun tak bisa berbuat banyak. Rata-rata petani meminjam dana KUR antara Rp 5 juta sampai Rp 15 juta. Bagaimana mereka dapat mengembalikan bila kondisi masih seperti ini?

Di sinilah persoalan dari sebuah siklus atau proses produksi. Ketika petani sudah giat mengembangkan komoditi dan berhasil, di satu sisi pasar masih terus melemah. Apakah memang harga komoditi seperti itu atau karena permainan para tengkulak yang membelinya dengan harga murah, kemudian menjual dengan harga yang jauh lebih tinggi?

Pada titik inilah pemerintah diharapkan melakukan intervensi. Pemerintah patut melihat persoalan harga komoditi ini secara serius kemudian mencari jalan keluarnya. Intinya bahwa petani patut diselamatkan agar kisah pilu atau elegi seputar harga rumput laut itu segera diatasi.

Suatu bukti bahwa kita masih berkutat pada hilir tanpa memerhatikan muara sebuah proses produksi. Petani tak salah memang. Hanya pemerintah sebagai pengendali perlu melihat prospek dari usaha yang sudah berjalan baik ini. Kita patut membangunkan atau membangkitkan etos kerja petani yang sudah melempem ini. *

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved