Breaking News

Gemburkan Flobamora Makmur!

Mengapa tidak? Karena hanya tanah yang gembur longgar dapat menghasilkan panenan berlimpah.

Editor: Dion DB Putra

Sebuah Pengalaman Praktis Pengolahan Lahan Kering


Oleh Mundus Lema & Ir. Alexander Lamba
LSM Bhakti Flobamora-Kupang

POS KUPANG.COM - Terkenang di masa SR dahulu (sekarang SD), sebuah nyanyian tentang 'menanam jagung' dengan syair a.l. sbb: "cangkul cangkul yang dalam, tanah yang longgar jagung kutanam". Syair lagu nan sederhana ternyata sarat makna jika ditinjau dari aspek pembangunan dan kesejahteraan masyarakat pertanian di daerah tercinta ini.

Mengapa tidak? Karena hanya tanah yang gembur 'longgar' dapat menghasilkan panenan berlimpah.

NTT sebagai wilayah semi arid didominasi oleh sekitar 80% lahan kering (di atas 1 juta hektar) menampakkan konfigurasi lahan sebagai padang stepa dan sabana serta lahan berbatu dengan tanaman perdu sampai pepohonan yang tidak ramah untuk digarap bahkan menjadi momok bagi petani.

Kebijakan Pembangunan Daerah
Kebijakan pembangunan daerah sejak era PELITA (Pembangunan Lima Tahun) di masa Orde Baru hingga kini telah memberikan atensi serius pada pengelolaan lahan kering. Dukungan Pemerintah Pusat begitu kuat, antara lain dengan memikulkan tanggung jawab pengembangan Pola Ilmiah Pokok Pertanian Lahan Kering pada Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Kupang sejak awal 1980-an.

Begitu banyak kemajuan sudah terjadi, namun bila ditinjau dari aspek produksi dan produktivitas berbagai komoditas pertanian yang ada belumlah menggembirakan. Kondisi ini berkorelasi positif dengan tingkat kemiskinan penduduk sekitar 23% (1 juta jiwa lebih), dominan berada di sektor pertanian/pedesaan.

Sungguh menggembirakan membaca headline Harian Pos Kupang, Sabtu, 16 April 2016 berkenaan dengan Peresmian UPT Laboratorium Lapangan Terpadu Lahan Kering Kepulauan (LLTLKK) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang pada tanggal 15 April 2016 yang lalu oleh Gubernur NTT, yang juga dihadiri sejumlah Bupati.

Pernyataan Gubernur begitu promotif, terutama kepada kaum muda tani pedesaan untuk kembali menjadi petani profesional, serta sentilan Dirut Bank NTT, Daniel Tagu Dedo tentang mestinya sudah dari dulu Undana melakukan hal ini, tidak lain adalah upaya memicu dan memacu pemanfaatan potensi lahan kering yang ternyata masih sebagai lahan tidur semata.

Manusia Tidur, Bukan Lahan Tidur!
Motto serta spirit old soldier never die telah menjadi sumber motivasi dan inspirasi di dalam wadah LSM BHAKTI FLOBAMORA. Diskursus internal yang terjadi selama ini pada ujungnya menyepakati untuk melakukan inovasi dengan uji coba pengolahan lahan kering, kritis dan berbatu dengan menggunakan alat berat EXCAVATOR.

Paling tidak ada beberapa butir konsiderasi rasional mendasarinya. Pertama, jangankan cangkul, traktor pun ternyata sulit menggemburkan lahan kering, keras dan berbatu; kedua, dengan alat berat EXCAVATOR hasil olah lahan menjadi lebih gembur dan ringan diolah; ketiga, lahan tidur di sekitar perkampungan dan di mana saja dapat diubah menjadi lahan baru yang siap digarap petani; keempat, rangsangan bagi pemuda desa untuk kembali bertani lebih memungkinkan karena telah tersedia lahan yang mudah diolah.

Pasca kerjasama dengan DKK (Dana Kemanusiaan KOMPAS) pada tahun 2012 untuk pengembangan air bersih pedesaan dengan sistem pompa hidram (air pukul air) di Desa Kuanheum, Kecamatan Am Abi Oefeto, Kabupaten Kupang, kami melakukan pembongkaran lahan kering (land clearing) di atas areal seluas 3,5 hektar dengan menggunakan alat berat EXCAVATOR.

Selanjutnya dengan hand tractor lahan diolah menjadi begitu gembur dan ditanam dengan tanaman pangan semusim, seperti jagung, ubi kayu, kacang-kacangan dan sayur-sayuran. Sungguh menggembirakan karena panenannya berlimpah, selain peliharaan ayam kampung, babi dan paron sapi. Di dalam areal tersebut dibangun embung-embung mini seluas 150 meter persegi, serta tanaman pagar lamtoro dan gamal untuk pakan ternak sapi. Upaya ini dilakukan dengan maksud agar bisa menjadi contoh bagi warga menggiatkan usaha pekarangan sambil berkebun dan beternak (mixed farming) sebagaimana lazimnya.

Pada semester II tahun 2015, di atas lahan milik Bpk. Ir. Paul Liyanto/Anggota DPD RI, di Desa Oematnunu, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Bhakti Flobamora boleh menggarap areal lahan kering seluas 3,5 hektar dengan menggunakan EXCAVATOR sebagai mesin pembongkar dan penggembur tanah. Dengan sekali tancap, garuk dan tarik, Excavator mampu membongkar tanah sedalam 1 meter dan menarik bongkahan tanah sepanjang hampir 3 meter, sehingga bongkaran batu dan perakaran alang-alang tercabut sampai ke akar-akarnya.

Mendasari praktek yang telah dilakukan di kedua lokasi tersebut, secara kasat mata tidak dapat disangsikan lagi 'keandalan dan ketangguhan Excavator' membongkar batu, tunggul perdu dan perakaran alang-alang. Pengolahan lanjutan dilakukan dengan menggunakan Wheel Tractor dan atau Hand Tractor sehingga lahan terolah semakin gembur dan teratur. Sungguh bagai disulap!

Dari pengalaman yang ada, menjadi pertanyaan serius jika proses ini harus terjadi di lahan milik petani, sementara bisa dipastikan bahwa biaya yang dibutuhkan terlampau mahal dan tidak dapat dijangkau petani. Sebagai gambaran, bahwa biaya Pencetakan Lahan Kering Siap Tanam per hektar, dengan 4 hari kerja menelan biaya sekitar 25 -30 juta rupiah. Memang mahal, namun sekali menjadi gembur untuk seterusnya bertahun-tahun lahan tersebut dapat digarap dengan mudah oleh petani.

Peran Strategis Pemda
Tulisan ini hendak menggugah kepedulian dan komitmen Pemerintah Daerah se-NTT untuk mengambil alih beban berat tersebut sebagai bentuk tanggung jawabnya. Mengapa demikian?

Kalau saja untuk Pencetakan Lahan Sawah setiap tahun selalu tersedia Subsidi Pemerintah Pusat, tentunya NTT sebagai wilayah spesifik lahan kering boleh mendapatkan Subsidi Pencetakan Lahan Kering 'Siap Tanam' oleh Pemerintah Pusat. Perjuangan Paket Kebijakan Baru tersebut mestinya tidaklah sulit untuk dilakukan oleh Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten se-NTT, sementara Data dan Kajian Analisis dapat dilakukan oleh Instansi terkait bersama UPT LLTLKK UNDANA Kupang.

Sebagai ilustrasi, jika BUMD Perusahaan Daerah Kabupaten menyewa 5 buah Excavator, maka dalam kurun waktu 4 bulan (Agustus -November) sudah dapat tercetak paling tidak 150 hektar (5x4x7,5 hektar), dengan biaya Rp 4,5 miliar saja. Untuk 21 kabupaten akan tercetak 3.000 hektar lahan baru dalam setahun, dengan biaya sekitar Rp 95 miliar. Bukan sebuah nilai yang fantastis jika dibandingkan dengan besaran paket program RASKIN & ANGGUR MERAH yang melampaui ratusan miliar rupiah dalam setahun! Inilah yang disebut sebagai REVOLUSI PERTANIAN!

Demi NTT tercinta kami mengajak para pakar dan praktisi lahan kering untuk dapat menengok lokasi kerja kami, sekaligus berdiskusi demi optimasi fungsi potensi yang selama ini terkesan tidur semata. Semoga bermanfaat.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved