Maria Loretha Melihat Keajaiban di Kebun

Beberapa tahun lalu, ketika Maria Loretha mulai memperkenalkan sorgum di Adonara, Kabupaten Flores

Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra
ISTIMEWA
Ketua P3L, Maria Loretha (kedua dari kanan) berada di tengah-tengah warga saat rembug pangan di Kampung Tebang, Desa Ngancar, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, 25 September 2015. 

POS KUPANG.COM, KUPANG - Hari Kartini adalah hari yang sangat spesial bagi Maria Loretha. Bukan karena petani asal Adonara, Flores Timur ini sudah mendapat Kartini Award karena terobosannya di bidang pertanian, namun karena Maria melihat potensi perempuan di NTT belum diletakkan pada tempat yang benar. Seperti dirinya, sukses menjadi petani karena melihat ada keajaiban di kebun.

"Saya sukses karena saya mau belajar dan bertanya dengan siapa saja. Saya memulainya dari kebun karena di dalamnya ada unsur tanah dan tumbuhan. Ini artinya ada peluang. Cara pandang inilah yang membuat saya yakin ada keajaiban besar di balik kebun dengan kehidupan yang alami. Keputusan-keputusan terpenting dalam hidup saya membuat hati dan wawasan saya semakin terasah untuk belajar hidup dari kata nyaman," kata Maria Loretha, Rabu (20/4/2016).

Beberapa tahun lalu, ketika Maria Loretha mulai memperkenalkan sorgum di Adonara, Kabupaten Flores Timur, belum ada yang peduli padanya. Namun, ketika sorgum telah diakui sebagai pangan lokal yang berfungsi sebagai makanan pengganti beras dan jagung, saat ini sorgum mulai dikembangkan besar-besaran di beberapa daerah di Provinsi NTT.

Maria mengaku menjadi petani karena kurangnya lapangan pekerjaan. Namun sejatinya hal ini dapat menjadi sebuah motivasi untuk sukses. "Intinya manusia, khususnya perempuan harus dapat menjalin relasi yang mesra dengan alam yang menyiapkan segala kebutuhan manusia. Dan, perempuan yang selalu senang di bagian logistik harus mampu bermitra dengan alam lingkungannya," ujarnya.

"Mereka (perempuan) harus didorong, diberi kepercayaan dan dibukakan jalan. Karena saya tinggal di Flores, saya melihat banyak perempuan Flores yang cerdas dan mampu di bidangnya masing-masing. Tapi dari sisi budaya sangat kuat garis patriakal sehingga perempuan-perempuan hebat ini tenggelam dan kita membiarkan persoalan ini berulang setiap tahun. Dominasi kaum bapak sangat kuat. Ada anekdot perempuan cukuplah urus logistik. Para bapak harus bisa menekan ego agar perempuan mampu berdaya mengoptimalkan kemampuan dan keahliannya," tegasnya.

Selain itu, kata Maria, pendampingan terhadap perempuan di desa-desa juga harus dilakukan terus-menerus. Wawasan perempuan tentang pentingnya menjaga kesehatan diri sendiri, sadar pendidikan dan menjaga lestari lingkungan hidup harus terus diperkuat.

Maria Loretha yang tamat dari Fakultas Hukum (FH) Universitas Merdeka, Malang ini mengaku tak malu menjalani profesi sebagai petani. Bahkan, katanya, dari petani terutama saat dia mulai mengembangkan sorgum, dia malah mendapatkan berbagai penghargaan, menerima undangan menjadi pembicara di berbagai event nasional dan lainnya.

"Setiap kali saya menyebut profesi sebagai petani, jarang ada yang mau percaya. Dahulu, bila saya datang untuk memberikan pendampingan dan membagi bibit sorgum, disangka saya bawa banyak uang. Memang dukungan finansial itu penting, namun bukan segalanya. Sebelum memulai pembicaraan, selalu saya tekankan, saya hanya bawa DUIT, Doa, Usaha, Ikhlas dan Tekun. Nah, sejak saat itu tidak ada lagi yang bertanya saya akan bagi-bagi uang," ujar Maria Loretha.

Buah dari kerja kerasnya, Maria kini memiliki 34 kelompok tani yang tersebar di Kabupaten Flores Timur, Sikka, Ende, Nagekeo, Manggarai Barat, Sumba Timur, Rote Ndao dan Lembata. Di Flores Timur sendiri, sudah ada 10 desa di tujuh kecamatan yang mulai menanam dan mengembangkan sorgum.

Terkait peringatan Hari Kartini, Maria Loretha mengaku hampir setiap tahun selalu diminta menulis opini. Maria menekankan, perempuan NTT harus diberi peran dengan porsi yang tepat. Terutama pada perempuan-perempuan yang mau berjuang bersama masyarakat, bukan karena tuntutan institusi atau lembaga tempat dia mengabdi.

"Perempuan harus mengecap pendidikan setara dengan laki-laki. Perempuan harus diberi kesempatan yang sama untuk memperoleh hidup yang baik. Tapi perempuan juga harus berani menunjukkan kemampuan dirinya, meski tanpa dukungan laki-laki," ujarnya. (eko)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved