Narkoba dan Martabat Manusia

Narkoba pada dasarnya adalah baik, jika dipergunakan untuk menyelamatkan jiwa manusia dan membantu dalam pengobatan. Namun

Editor: Dion DB Putra
Pos Kupang/Romualdus Pius
Polisi sosialisasi narkoba untuk pelajar di Kota Ende 

Oleh Videntus Atawolo
Tinggal di Oepoi, Kupang

POS KUPANG.COM - Hidup ini memiliki dua sisi. Ada sisi terang dan ada sisi gelapnya. Narkoba pada dasarnya adalah baik, jika dipergunakan untuk menyelamatkan jiwa manusia dan membantu dalam pengobatan. Namun, narkoba, bila dipergunakan untuk tujuan yang tidak semestinya, akan berbahaya. Kita semua memiliki tanggung jawab sosial, kewajiban moral dan iman untuk menghindari diri dan sekaligus "menjaga" sesama terhadap penggunaan narkoba yang merusak tubuh, mental dan martabat manusia.

"Mari Bersama Kita Lindungi Kupang Kota KASIH dari Bahaya Narkoba". Itulah imbauan yang terpampang di depan kantor Telkom Oepoi, Kupang, yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Kupang kepada siapapun yang berada di kota KASIH ini, agar tidak menggunakan narkoba, karena narkoba sangat berbahaya. Beberapa waktu yang lalu, di depan Katedral Kristus Raja, Kupang, terpajang imbauan yang dikeluarkan oleh POLDA NTT: "Stop Narkoba. Narkoba Hanyalah Tiket Menuju Neraka".

Sebuah pernyataan hiperbolis yang ingin menegaskan bahwa narkoba itu sesungguhnya memiliki daya destruktif amat dahsyat karena sekali mencoba, akan terus ingin menikmatinya dan kalau sudah terjerat dalam benang kusut kenikmatannya, akan menyebabkan dehumanisasi berupa menurunnya aktivitas otak atau merangsang susunan saraf pusat dan menimbulkan halusinasi, ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan alam perasaan. Menyebabkan kecanduan dan ketergantungan yang mutlak dan fatal. Tidak tanggung-tanggung melakukan tindakan kriminal untuk mendapatkan uang membeli narkoba dan akhirnya bermuara di penjara atau kematian. Narkoba merusak tubuh, mental sekaligus martabat manusia.

Manusia adalah makhluk jasmani-rohani yang tak terpisahkan. Yang satu tidak mungkin ada tanpa yang lainnya. Tubuh manusia mengambil bagian dalam kerohaniannya dan begitu juga sebaliknya. Kejasmanian manusia mewujudkan keadaannya sebagai subyek karena kerohaniannya dan dengan itu member-ada-kan dirinya sebagai makhluk yang berpribadi (persona), berotonomi dan berkehendak bebas. Itulah martabat manusia. Apabila tubuh disakiti, maka manusia dan kemanusiaan itulah yang disakiti. Martabat manusia dilecehkan.

Manusia memiliki nilai intrinsik yang tidak diberikan siapapun. Ia memiliki tujuan dalam dirinya. Ia berasal dari Kebaikan, berbuat baik untuk menikmati kebaikan bagi dirinya, sesama dan lingkungan hidupnya dan pada akhirnya kembali kepada Kebaikan. Bukan untuk melakukan hal yang buruk, jahat, destruktif, dehumanistis atas manusia, kemanusiaan dan martabat manusia.

Dengan pengantaraan kejasmaniannya manusia mengekspresikan aspek metafisis yang ada dalam dirinya. Yakni kebaikan dan kebenaran. Manusia dari kodratnya merindukan kebaikan dan mencintai kebenaran. Martabat manusia dan panggilannya adalah mewartakan kebaikan dan kebenaran, sekaligus membangun hidupnya dalam koridor etika dan moral.

Martabat manusia tidak mungkin dibangun tanpa berlandaskan kebaikan dan kebenaran, sekaligus taat pada etika dan moral. Etika merupakan usaha manusia untuk memakai akal budinya untuk memecahkan masalah tentang bagaimana ia mesti hidup kalau ia mau menjadi baik, dan moral adalah rambu-rambu praksisnya.

Sebagaimana setiap individu memiliki martabat dan hak asasi, demikian juga setiap individu memiliki tanggung jawab asasi. Mengapa? Karena setiap putusan dan tindakan memiliki konsekuensinya. Mengedarkan dan memakai narkoba berdampak pada pengrusakan tubuh, mental dan martabat manusia itu sendiri. Berdampak pula pada relasi afeksional dengan keluarga serta relasi sosial dengan masyarakat luas.

Dengan kejasmaniannya, manusia mengekspresikan pikiran dan isi hatinya yang terselubung dalam tubuhnya.Tubuh adalah titik temu manusia sebagai aku dengan Tuhan-nya. Titik temu aku dan engkau. Titik temu kita. Titik temu aku dan lingkungan hidupku. Titik temu aku dengan orang-orang tercinta yang memberikan kegembiraan, kebahagiaan, sukacita, meneguhkan harapan, memberikan ketenteraman, kedamaian, kesejukan.

Tubuhku menjadi subyek bagiku untuk bersyukur serta memuji dan memuliakan Tuhan. Betapa menyayangkan, bila semua itu hancur berantakan, buyar tanpa makna, ketika seseorang terjerat dalam penggunaan narkoba. Martabat manusia yang mulia hancur karena narkoba. Apalagi dihancurkan oleh seorang pengedar dan para sindikator yang pada saat yang sama menghancurkan martabatnya sendiri karena uang dan keserakahan atau tujuan terselubung lainnya.

Remaja dan orang muda rentan terhadap penggunaan narkoba, misalnya. Karena ingin mencoba. Ingin tahu. Kesepian. Patah hati. Tidak didengarkan orang tua. Pelarian. Belum cukup berpengalaman serta memiliki landasan rasional yang komprehensif untuk menata hidup yang baik dan benar.

Sementara itu orang dewasa, yang berpendidikan tinggi, mapan, memiliki pangkat dan kuasa, juga terlibat dalam penggunaan narkoba? Mengapa? Alasan dapat bermacam-macam. Namun mungkin yang satu ini benar. Karena hidupnya terasa kosong. Hatinya terasa hampa.

Merasa hidup belumlah penuh dan utuh apabila belum mengonsumsi narkoba. Tidak memiliki roh yang menjadi sumber kekuatan kokoh yang dapat melindungi, membentengi dan meluputkan dirinya ketika godaan narkoba datang merayu. Kebahagiaan tidak ditemukan dengan mengonsumsi narkoba. Yang ada di sana hanyalah kepalsuan dan kehampaan. Jeritan batin dan kehancuran. Air mata dan penyesalan, kalau masih tertolong. Kebahagiaan ada dalam hati yang bersyukur.

Mencintai. Berkorban. Memaafkan. Mengampuni. Terbuka. Mendengarkan. Menyadari. Memperbaiki. Menjadikan Tuhan sumber kekuatan dan penghiburan, "batu karang" yang teguh dalam bergumul membangun hidup yang baik dan benar.
Orangtua atau keluarga adalah awal pendidikan kemanusiaan dan martabat manusia.

"Karena orangtua telah menyalurkan kehidupan kepada anak- anak, maka terikat kewajiban amat berat untuk mendidik mereka. Oleh karena itu, orangtualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka (anak-anak) yang pertama dan utama." (Dokumen Konsili Vatikan II, Gravissimum Educationis, No. 3).

Dalam keluarga setiap orang mengalami pola asuh dan pengalaman eksistensial manusia. Orang mengalami apa itu kebaikan. Kebenaran. Keadilan. Kejujuran. Apa itu cinta. Apa artinya berbuat salah. Apa itu dosa. Apa itu mengampuni. Memaafkan. Menghormati. Apa artinya berterima kasih. Apa artinya memberi hormat dan mengucapkan entah selamat pagi, selamat siang, selamat sore atau selamat malam. Hal-hal kecil dan rutin. Namun, yang setia dalam hal-hal yang kecil, akan setia pula dalam hal-hal besar. Rutinitas menciptakan karakter.

Nilai-nilai yang disebutkan di atas itulah yang ditanamkan dalam hati setiap anggota keluarga dan terinternalisasi dalam pertumbuhan dan perkembangan hidup. Berkesinambungan dan dikokohkan serta ditumbuh-kembangkan melalui pendidikan formal di sekolah, yang bermuara pada membentuk suatu pribadi yang menghormati martabat manusia; serta memiliki kesadaran untuk tidak mencederai martabat sesamanya karena ia sendiri menghormati martabatnya.

Karena itulah, tidak mengherankan apabila Arswendo Atmowiloto dalam ceritera sinetron "Satu Kakak Tujuh Ponakan", mengatakan: "Tidak ada mutiara yang lebih berharga, daripada rumahku. Tidak ada istana yang lebih indah, daripada rumahku. Tidak ada puisi yang lebih bermakna, daripada rumahku".

Pendidikan martabat manusia dimulai dari dalam keluarga. Pendidikan narkoba dimulai dari dalam keluarga. Juga pendidikan karakter dan nilai-nilai lainnya. Semuanya butuh waktu dan proses yang panjang. Itulah pendidikan. Perlahan. Pasti. Substantif. Bukan instant. Oportunis. Pragmatis.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved