"Saya Tidak Ambisius"

Setiap pembaca mungkin beranggapan bahwa ini ungkapan yang wajar dan biasa-biasa saja, karena kata ambisi lumrah dan biasa digunakan dalam

Editor: Dion DB Putra

Oleh Hesikius Junedin
Tinggal di Biara Karmel OCD San Juan, Penfui -Kupang

POS KUPANG.COM - Adalah pernyataan dr. Yovita Mitak (YM), balon Walikota Kupang saat mendaftar ke Nasdem Kota Kupang, Jumat 18 Maret 2016. Tak ayal, sehari sesudahnya ungkapan ini menjadi judul headline berita pada media harian Pos Kupang.

Setiap pembaca mungkin beranggapan bahwa ini ungkapan yang wajar dan biasa-biasa saja, karena kata ambisi lumrah dan biasa digunakan dalam bertutur. Tapi, apa betul kata yang biasa kita pakai ini telah dipahami sebagaimana seharusnya. Inilah kegelisahan awal yang melahirkan catatan kecil ini.

Kalau kita mengatakan kepada seseorang, "kamu terlalu ambisius", atau "ambisimu itu terlalu besar", dia mungkin akan marah, setidaknya merasa kurang senang. Karena kata ambisi atau ambisius cenderung bermakna negatif. Umumnya kata ambisi dipahami sebagai keinginan mencapai sukses dengan cara apapun, kalau perlu dengan cara yang tidak semestinya.

Kata ambisi kini menjadi peyoratif, mengalami pemburukan makna. Mungkin inilah alasan YM mengeluarkan pernyataan bernada defensif, merendah dan terkesan tata aura, "Saya tidak ambisius!". Wajar. Karena ambisi yang dipahami umum selalu berkonotasi negatif. Karenanya menjadi tabu, bagi siapapun, apalagi yang hendak merebut hati banyak orang.

Maka menjadi pentinglah untuk tahu apa sebenarnya makna ambisi atau ambisius itu. Beberapa bukti leksikal berikut memberi batasan maknanya. Menurut Oxford Dictionary, 'ambition is a strong desire to achieve something; the desire to be successful, famous, rich, etc.' (1985:35). Dan KUBI susunan WJS Poerwadarminta mendefinisikan ambisi sebagai gairah, nafsu ingin mendapat pangkat, kedudukan, dsb. (1976:36).

Beberapa ahli seperti, Frederick Tatenhove juga berpendapat bahwa ambisi adalah keinginan yang kuat untuk memperoleh kemuliaan, kedudukan dan jabatan yang tinggi. Sedangkan menurut Freud dan Jung, ambisi adalah keinginan yang bersifat alamiah untuk mencapai tahapan yang lebih tinggi. Dengan demikian jelas bahwa sebenarnya makna ambisi itu netral atau positif. Ambisi adalah intensi, semangat, hasrat, daya yang menggerakkan. Dalam dirinya ia tidak pernah negatif. Ia menjadi buruk manakala melekat pada sikap mental yang buruk.
(Wisnubroto Widarso, Ambisi: Kawan atau Lawan, 1992).

Sampai tahap ini terbukti bahwa pernyataan YM, "Saya tidak ambisius" ternyata kontradiktif. Sebab, tidak mungkin ia maju jika tanpa hasrat, dorongan atau cita-cita yang ditargetkan -YM sendiri mengakui adanya dorongan keluarga dan aktivis perempuan Kota Kupang (PK, 19 Maret: 3). Maksud pernyataan YM, "Saya tidak ambisius" lebih mirip nada pasrah berbalut pesimisme, semacam semangat bertarung tanpa diimingi kemenangan. Dapat pula berarti bahwa YM tidak berambisi (tak berhasrat kuat) untuk melayani warga Kota Kupang yang kelak akan dipimpinnya, sebab ia 'tidak ambisius'.

Memang proses masih terlalu panjang untuk sekedar berandai-andai, jika saatnya YM atau siapapun nanti yang tertawan rakyat, justru ambisi itu harus semakin kuat dan tulus, karena rakyat muak melihat pemimpinnya hanya berhasrat menimbuni lumbung kepentingan diri maupun golongannya.

Tidak perlu takut berambisi atau menjadi ambisius, karena prestasi (achievement) dalam pencapaiannya justru dimotivasi oleh ambisi. Ambisi yang murni melekat dalam sikap mental pemimpin (calon pemimpin) yang murni, semurni harapan rakyat akan perubahan yang nyata, yang mengakar dan berbuah, dan yang melampaui semarak kata-kata slogan penuh goda.

Sekali lagi catatan kecil ini tidak ditengarai niat menggurui pembaca, pun terlalu seksi untuk dibilang mencerahi, apalagi mengusik suasana hati para pendukung calon tertentu, melainkan hanyalah bukti bahwa konstelasi perpolitikan di Kota Kupang yang telah terbit, mulai dipelototi beragam kalangan dengan aneka persepsi dan ekspektasi.

Pada segi lain, ini sekaligus bentuk apresiasi akan setiap partisipasi sosok hawa dalam konstelasi politik. Alasannya sederhana, kita perlu warna kalaupun perubahan total masih jauh dari harapan. Politik kita terlampau kasar dan keras, mungkin karena hegemoni kaum pria. Kiranya dengan masuknya feminitas kaum hawa dalam politik yang lebih beraroma maskulin, terciptalah situasi yang lebih seimbang.

Keterwakilan kaum hawa sejauh ini bukan sekedar bukti kepatutan bahwa mereka pun bisa menjadi pemimpin, tapi lebih mulia lagi menjadi jawaban untuk mengabdi dengan hati dan ketulusan. Banyak wanita hebat, tapi belum bersua kesempatan yang tepat. Yang telah terbukti dan dipercaya masyarakat pemilih, sebut saja Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Airin (Walikota TangSel), dan Rustriningsih (mantan Wagub Jateng).

Di NTT, wakil bupati Mabar, Maria Geong telah memulai dengan langkah berani, dan YM menjadi satu dari sekian kaum hawa yang juga coba menangkap kesempatan yang sama.

Jika menjadi ibu adalah panggilan termulia dari semua jenis panggilan, maka maju dalam politik juga adalah panggilan yang mulia sebab menuntut banyak korban bagi kemanusiaan yang jauh lebih luas. Laki-laki atau perempuan bukanlah soal, pun bukan masalah wajah lama atau baru, tapi tentang siapa yang menjawabi kepercayaan rakyat dengan penuh tanggung jawab dan hasrat tulus untuk mengabdi. Rakyat tak butuh retorika, hanya ingin pemimpin yang bekerja. Sebab kepercayaan dan tanggung jawab hanya diperuntukkan bagi yang menjawabi 'asa' dengan 'karya'.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved