Kupang Darurat Buaya?
Dia menangkap ikan dengan cara menyelam dan memanah di dalam laut. Namun, tak dinyana, malam itu adalah malam naas baginya
Oleh Budiyanto Dwi Prasetyo & Grace Serepina Saragih
Keduanya Peneliti di Balai Penelitian Kehutanan Kupang
POS KUPANG.COM - Petang itu, Jumat, 25 Maret 2016, seorang warga tengah berjalan menuju pantai Kataba sekitar PLTU Bolok, Kabupaten Kupang. Dia berbekal lampu senter yang terikat di kepala, beberapa anak panah, dan peralatan tradisional lainnya. Dia pun mulai menyelam di keremangan senja. Ya, pekerjaannya adalah nelayan tradisional.
Dia menangkap ikan dengan cara menyelam dan memanah di dalam laut. Namun, tak dinyana, malam itu adalah malam naas baginya. Belum lama dia menyelam, seekor buaya menghampiri. Dia pun berhadap-hadapan dengan predator buas itu di dalam air. Sendirian.
Petikan cerita di atas disarikan dari kisah nyata yang diunggah ke jejaring sosial Facebook oleh akun Unitpenangansatwa Bbksdantt, Senin, 28 Maret 2016. Beruntung, serangan buaya yang menimpa Isak Manggi pukul 19.00 waktu setempat itu tidak menyebabkan kematian (non-fatal attack). Korban masih bisa diselamatkan dan dirawat di Rumah Sakit Angkatan Laut Samuel J. Moeda Kupang.
Serangan buaya di pesisir Teluk Kupang memang semakin menjadi. Seolah tak bisa diprediksi dan selalu menjatuhkan korban. Data Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT yang dikutip Pos Kupang (22/2/2016) menyebutkan, terdapat 24 serangan buaya terhadap manusia di Teluk Kupang sejak 2011 hingga 2016. Dari jumlah tersebut, 14 korban di antaranya berujung pada kematian (fatal attack).
Serangan buaya mematikan terakhir menimpa Yoktan Benyamin, warga Kelurahan Merdeka, Kupang Timur, Kabupaten Kupang pada Senin, 8 Februari 2016 yang jasadnya ditemukan sehari pasca serangan maut tersebut (tempo.co, Selasa 9/2/2016).
Kecemasan Masyarakat
Rangkaian peristiwa buaya makan manusia kemudian menjadi sering tampil di media massa, baik secara online maupun cetak, baik media lokal maupun media nasional. Berita yang muncul, meski tak se-viral berita kasus-kasus korupsi misalnya, secara nyata telah membikin masyarakat jadi resah. Keresahan muncul karena selama ini masyarakat lebih sering manjadikan pantai-pantai di sepanjang pesisir Teluk Kupang sebagai tempat rekreasi.
Selain indah, murah, dan aksesnya terjangkau, di pantai-pantai tersebut banyak sekali aktivitas yang bisa dilakukan warga, seperti berenang, berolah-raga, bermain, berdiskusi, hingga menggelar pentas musik.
Namun, "teror" serangan buaya lebih berdampak kepada para nelayan. Sebab, berdasarkan catatan WRU, mayoritas korban serangan adalah para nelayan (Pos Kupang, 22/2/2016). Mereka sudah sejak lama menggantungkan hidupnya pada laut. Lautlah yang menafkahi keluarga mereka. Laut pula yang memberikan lapak-lapak di pasar-pasar dan penjaja keliling ikan-ikan segar yang siap diolah dan dikonsumsi.
Dengan adanya serangan buaya yang kian hari terus memakan korban, kecemasan itu seolah mulai menyurutkan nyali mereka untuk bernafkah di laut.
Merespons kecemasan ini, BBKSDA NTT melalui Unit Penangan Satwa (Wildlife Rescue Unit atau WRU) mengambil tindakan dengan merespons setiap laporan kemunculan buaya di Teluk Kupang. Sejak 2015 hingga saat ini, tercatat sudah lima ekor buaya berukuran panjang lebih dari dua meter ditangkap (Kompas.com, 3/3/2016). Buaya-buaya tersebut dikandangkan di kantor BBKSDA di Kota Kupang dan di Camplong.
Kerja keras WRU tersebut patut diapresiasi. Menangkap buaya bukanlah perihal mudah. Tak cuma nyali, tapi juga butuh keahlian. Di sisi lain, dampak yang ditimbulkan dari penangkapan buaya cukup signifikan mengurangi kecemasan masyarakat. Paling tidak untuk saat ini. Sebab, dalam keadaan darurat di mana pun, penanganan langsung terhadap sumber masalah adalah hal utama. Tapi, apakah itu saja sudah cukup?
Mengurai Strategi, Mencari Solusi
Dalam sebuah artikel menarik berjudul "Hidup bersama predator: sebuah fokus kajian terhadap persoalan konflik manusia dan buaya di lembah Zambezi" yang dimuat di Jurnal Wildlife Research 2011, Wallace et. al, mengurai beberapa strategi yang memungkinkan diterapkan guna meredam serangan buaya.
Pertama, dengan melakukan penangkapan (capturing) dan pemindahan (removal) buaya dari lokasi konflik ke tempat yang jauh dari populasi manusia. Taruhlah tempat seperti penangkaran, atau habitat asli buaya yang jauh dari permukiman dan aktivitas warga.
Strategi ini sangat populer karena keberhasilannya dalam mengatasi konflik manusia dan buaya di Australia (Nichols & Letnic 2008 dikutip Wallace et. al, 2011). Keuntungannya bisa terbaca, menciptakan tempat wisata satwa liar dan penyuplai bahan baku kulit buaya untuk industri fashion. Tapi, Wallace mengingatkan, memakai strategi ini tak berarti mengurangi potensi serangan buaya. Sebab, individu-individu buaya yang ditangkap belum tentu mencerminkan seluruh populasi buaya yang ada.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/buaya_20160321_101330.jpg)