Mari Membangun Lembata yang Lebih Damai
Gerakan ini menjadi gerakan pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh budaya
Oleh Yurgo Purab
Warga Lewotolok-Lembata; Sedang Kuliah di STFK Ledalero-Maumere
POS KUPANG.COM - Resonansi demokrasi sudah di depan mata. Saatnya masyarakat Lembata akan memilih pemimpin baru. Pos Kupang, Senin (4/4/2016), menurunkan judul berita, "Budayawan Lembata Lamar ke PKS". Berita ini terkait dengan kehadiran Linus Beseng, mantan anggota DPRD Kabupaten Lembata yang melamar ke PKS, dan bakal calon wakil bupati periode mendatang. Berita ini menandakan bahwa pesta demokrasi yang terjadi di Lembata akan segera dimulai.
Ada beberapa nama yang disebut-sebut sebagai calon bupati, yakni Eliazer Yentji Sunur dan Lukas Witak Lipataman. Sedangkan bakal calon wakil bupati disebutkan beberapa nama, yakni Dorothia Nahak, Linus Beseng, Gabriel Suku Kotan, dan Thomas Ola Langoday. Setidaknya, kehadiran pemimpin-pemimpin baru yang mencalonkan diri sebagai bupati dan wakil bupati merupakan sebuah jawaban akan perubahan wajah Lembata yang lebih baik.
Pemimpin Ideal
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD mengatakan bahwa "problem negara kita saat ini ialah keterbatasan pemimpin yang intelektual, cerdas dan bersikap cendekiawan. Kita juga masih miskin pemimpin yang moralnya kuat" (Pos Kupang, 3/4/2016). Bisa jadi Lembata juga mengalami krisis yang sama. Kehilangan sosok pemimpin yang ideal. Pemimpin yang ideal itu seperti apa?
Pemimpin ideal adalah dia yang tidak berdiri di depan dan juga di belakang maupun kanan dan kiri masyarakat, tetapi dia berdiri di tengah, menjadi poros utama yang menggerakkan massa. Lebih dari itu, seorang pemimpin harus berani bermimpi akan sebuah kemajuan, dan ia harus bijaksana dalam memecahkan berbagai ketimpangan atau problem yang tengah dihadapi masyarakat.
Oleh karena itu, kita membutuhkan pemimpin yang memiliki integritas dan akuntabilitas yang handal dan dapat dipercayai. Pemimpin ada untuk masyarakat. Dan masyarakat diharapkan dapat memilih sesuai dengan hati nurani yang luhur demi sebuah perubahan.
Memilih adalah sebuah panggilan untuk turut serta memberi andil. Namun, jangan sampai suara kita dibeli oleh segepok uang. Karena itu, pemanfaatan hati nurani secara jujur dan bertanggung jawab merupakan sebuah panggilan yang mulia demi kesejahteraan banyak orang. Karena kesejahteraan itu diletakkan pada bahu seorang pemimpin, maka pilihan kita merupakan penentu hidup kita dan seluruh masyarakat. Dengan begitu, tidak ada alasan kita memilih hanya karena asal pilih atau karena hubungan pertalian darah. Padahal kita mengetahui ada pelbagai macam cacat yang telah dibuat pemimpin bersangkutan.
"Mari Duduk Omong"
Pemberitaan media massa akhir-akhir ini selalu berkaitan dengan situasi yang terjadi di Lembata. Mulai dari kasus kematian Lorens Wadu dan pelbagai permasalahan lainnya yang tengah membelenggu kemanusiaan di bumi Lembata tercinta. Tidak hanya itu, ada pelbagai persoalan lain yang kini mencuat ke permukaan publik, seperti dugaan bupati Lembata menggunakan ijazah palsu.
Kasus-kasus seperti ini menjadi polemik karena tidak diusut tuntas oleh pihak berwenang (kepolisian) dan aparat pemerintah. Seperti halnya terjadi pada kematian Lorens Wadu, yang sampai saat ini delik kematiannya masih menjadi tanda tanya bagi masyarakat. Bukan tidak mungkin, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan elemen-elemen kepemerintahan menjadi pudar. Dari berbagai ketimpangan tersebut, pemerintah dan berbagai elemen yang ada dalam masyarakat diharapkan dapat mengintrospeksi diri.
Masyarakat Kabupaten Lembata masih memegang teguh adat-istiadat dan budaya sebagai bagian dari hidup bermasyarakat. Dan, salah satu budaya yang masih terus dipertahankan adalah "duduk omong". Karena itu, saya menggarisbawahi beberapa hal yang mesti menjadi gerakan kita (seluruh masyarakat Lembata) bersama dalam menata wajah Lembata yang lebih baik ke depan.
Apa yang harus kita lakukan? Pertama, sangat diharapkan seluruh elemen pemerintahan, para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh budaya dan para pelaku sejarah perjuangan otonomi Lembata membangun kerekanan. Dalam hal ini duduk omong bersama, dan dalam suasana damai, bertukar pikiran, demi terwujudnya Lembata yang damai dan makmur. Artinya, jika ada permasalahan sama-sama mencari jalan tengah yang solid dan terkendali, bukan memecah belah masyarakat. Dengan begitu, masyarakat tidak terbawa pada pusaran kebingungan.
Jika masyarakat sudah bingung, maka kepercayaan terhadap seluruh elemen pemerintahan menjadi luntur. Kedua, untuk sebuah gerakan perubahan, perlu adanya kerja sama. Jika salah satu elemen tidak mendukung kinerja pemerintah, maka terjadi ketimpangan. Artinya, gerakan perubahan merupakan gerakan bersama. Gerakan ini menjadi gerakan pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh budaya, pihak keamanan (polisi, TNI, dan sebagainya) dan menjadi gerakan kita bersama. Jika gerakan itu hanya sebatas gerakan segelintir orang, maka terjadi kekacauan. Karena ada yang mendukung dan ada yang tidak.
Ketiga, jika yang ada hanya pertikaian dan saling menuding, maka kapan mengurus rakyat? Jika situasi di Lembata belum damai, bagaimana mungkin kita mengharapkan gerak perubahan. Oleh karena itu, pemerintah, tokoh agama, dan tokoh budaya harus bergandeng tangan dan berdamai. Dengan begitu, setiap persoalan dapat diselesaikan dengan baik. Jika setiap persoalan diselesaikan dengan baik, maka fokus kita adalah membangun. Bukan pemberantasan persoalan. Dengan begitu, wajah Lembata semakin damai dan masyarakat semakin sejahtera.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/bukit-cinta-lewoleba_20160228_182129.jpg)