Uni Eropa-Turki Gagal Bendung Gelombang Pengungsi Menuju Yunani

Saksi mata Kantor Berita Reuters melihat kedatangan tiga perahu pada Minggu pagi buta

Editor: Marsel Ali
zoom-inlihat foto Uni Eropa-Turki Gagal Bendung Gelombang Pengungsi Menuju Yunani
Pos Kupang/Reuter
Para migran mencoba mendapatkan produk makanan dari sebuah truk di kamp darurat di perbatasan Yunani-Makedonia dekat desa Idomeni, Yunani, Kamis (10/3/16). (REUTERS/Stoyan nenov )

POS KUPANG.COM, YUNANI - Mereka melambaikan tangan, bersorak, dan tersenyum gembira dalam perahu karet bermotor warna biru setelah berhasil tiba di Eropa saat fajar pada hari Minggu.

Sekitar 50 pengungsi dan pendatang tersebut merupakan gelombang pertama yang tiba di Pulau Lesbos, Yunani, pada hari pertama setelah Uni Eropa mencapai kesepakatan dengan Turki untuk menutup rute Laut Aegean, yang digunakan sejuta orang untuk menyeberang menuju Yunani pada 2015.

Dalam keadaan lelah namun lega, para pendatang tersebut membungkus kaki basah mereka dengan selimut hangat sementara para para tenaga sukarela membagi-bagikan pakaian kering dan barang kebutuhan.

Saksi mata Kantor Berita Reuters melihat kedatangan tiga perahu pada Minggu pagi buta.

Dua pria yang pingsan dibawa ke luar dari salah satu perahu di tengah teriakan sesama penumpang dan beberapa saat kemudian keduanya dinyatakan meninggal dunia.

Sebanyak 12 perahu merapat di bibir pantai di dekat bandar udara pada pukul 06.00 waktu setempat, demikian pernyataan petugas kepolisian.

Berdasarkan kesepakatan antara Uni Eropa dan Turki, semua pendatang dan pengungsi, termasuk mereka yang berasal dari Suriah yang menuju Yunani secara ilegal melalui mulai Minggu, akan dikembalikan ke Turki setelah mereka didaftar dan permohonan suakanya telah diproses.

Sebagai gantinya, Uni Eropa akan menerima ribuan pengungsi Suriah secara langsung dari Turki dan memberi negara itu lebih banyak dana, membuka perjalanan bebas visa lebih awal serta kemajuan dalam negosiasi keanggotaan Turki di Uni Eropa.

Di antara para pendatang di lokasi pantai yang banyak ditumbuhi rumput laut di sebelah selatan Lesbos adalah warga Suriah bernama Hussein Ali Muhammed, yang gagal melanjutkan studinya setelah perang dimulai.

Dia menantikan kepergiannya ke Denmark agar bisa melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi.

Saat ditanya, apakah dia mengetahui keputusan Eropa, dia berujar, "Saya tahu itu. Saya berharap melewati wilayah perbatasan ini. Saya ingin menyelesaikan studi saya di sini (di Eropa). Hanya itu. Saya tidak butuh uang. Saya hanya ingin menyelesaikan studi saya. Ini pesan saya."

Muhammed, yang bekerja sambilan di Turki untuk membayar seorang penyelundup agar membawanya ke Eropa, mengatakan tidak ingin kembali ke negaranya.

"Saya bekerja sangat, sangat keras di Turki. Saya mengumpulkan uang agar bisa datang kemari. Ini sangat berbahaya dan tidak bagus," tuturnya.

Pendatang lain bernama Mohammed dan berusia 30 tahun, yang bekerja sebagai teknisi komputer asal Daraa, Suriah, mengaku ingin tinggal di Yunani sampai dia menemukan jalan agar bisa berkumpul kembali bersama istri dan putranya di Jerman.

"Saya tahu keputusan itu. Saya berharap (bertemu dengan) istri dan anak," ujarnya.

Halaman
12
Sumber:
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved