Masa Puasa Kristen
Di gereja Anglikan Inggris dan di Hervorm Belanda Pra Paskah disebut periode 40 hari
Oleh: Pdt. Dr. Ebenhaizer Nuban Timo
Pendeta GMIT, Tinggal di Salatiga
POS KUPANG.COM - Kita sedang menuju ke Paskah. Kalau perayaan Natal didahului masa persiapan, yakni minggu Adventus, maka Paskah juga diawali dengan persiapan. Masa itu disebut Minggu pra Paskah. Masa Adventus berjumlah empat minggu, masa pra Paskah sebanyak tujuh minggu.
Di gereja Anglikan Inggris dan di Hervorm Belanda Pra Paskah disebut periode 40 hari (tidak termasuk hari Minggu yang jumlahnya ada tujuh serta dua hari lainnya, yakni Jumat Agung dan Sabtu Teduh). Musim perayaan ini disebut quadragesima dalam bahasa latin.
Pemimpin gereja mula-mula berpikir bahwa hari-hari raya gereja akan lebih bermakna jika didahului persiapan. Dalam masa 40 hari itu umat diajak memeriksa diri, merenungkan penderitaan, kematian dan kemenangan Kristus atas maut. Musim ini dimulai dengan hari Rabu Abu (Ash Wednesday), dan berakhir pada hari Minggu Palem (Palm Sunday), yakni hari Minggu sebelum Jumat Agung. Minggu Palem mengingatkan kita pada waktu Yesus masuk dengan penuh kemenangan ke Yerusalem dan orang banyak memproklamirkan Dia sebagai Kristus.
Berikut ini sekilas info tentang tradisi perayaan pra Paskah yang saya ramu dari: 1) Donna Flectcher Crow: Seasons of Prayer (2003), 2) RHA Eames: Through Lent (1984), 3) Inez van Eijk, Feest! (1995), 4) S.Ph. de Vries: Joodsche Riten en Symbolen (1927). S.F.H.J. Berlelbach van der Sprenkel. Handboek voor de Prediking het Kerkelijk Jaar (1948), dan Augustinus, Bagai Terang di Hati (2005).
Minggu Puasa Kristen
Minggu Pra Paskah adalah Masa Puasa. Istilah yang populer di Inggris adalah Lent. Puasa Yesus selama 40 hari menjadi model bagi tradisi ini. Irenaeus (abad ke-2) adalah yang pertama bicara tentang kebiasaan puasa ini. Tradisi ini ditulis secara rinci dalam dokumen kerasulan Hippolytus di tahun 200 M. Pada masa Agustinus (354-430), puasa sebagai persiapan untuk merayakan Paskah sudah menjadi devosi tetap umat Kristen yang ditetapkan sebagai kalender gereja oleh Konsili di Nicea (325).
Tujuan penetapannya ada dua. Puasa bagi yang mau dibaptis pada hari raya Paskah. Untuk yang sudah Kristen puasa demi membaharui kehidupan rohani. Selama waktu ini orang Kristen menyiapkan cukup banyak waktu berdoa dan beribadah, baik pribadi maupun secara berjemaat. Pada abad ke-6 Paus Gregorius I (602 M) menambahkan praktek memercikan para penyesal dengan abu, yang membuat hari itu diberi nama Rabu Abu (Ash Wednesday).
Hari Rabu Abu
Minggu Pra Paskah dimulai pada hari Rabu Abu. Pada abad ke-8 hari Rabu Abu mulai dirayakan melalui sebuah kebaktian. Ada tujuh Mazmur Penyesalan yang dibacakan dan pemberian abu di dahi seluruh jemaat disertai kata-kata: "Ingatlah hai manusia, bahwa engkau adalah abu, dan kepada abulah engkau akan kembali" (Kej. 3:19). Dalam tradisi Anglikan pada hari Rabu Abu umat datang ke depan altar sambil berlutut sementara imam menaikkan doa: "Tuhan yang mahakuasa, Engkau telah menciptakan kami dari debu bumi. Jadikanlah abu ini suatu tanda bagi kami akan kefanaan dan penyesalan kami, agar kiranya kami ingat bahwa hanya oleh anugerahMu yang penuh kasih karunia kami diberi hidup yang kekal, melalui Yesus Kristus, Juruselamat kami. "Umat menyambut dengan: "Amin!"
Lalu imam mencelupkan ibu jarinya ke semangkuk kecil abu dan membuat tanda salib hitam di tiap-tiap dahi. Abu itu berasal dari sisa pembakaran daun-daun palem yang digunakan pada hari Minggu Palem tahun sebelumnya.
Ungu adalah warna musim puasa. Itu merupakan warna tradisional untuk perkabungan dan juga merupakan warna kerajaan. Baik kesedihan karena dosa maupun kesadaran bahwa Kristus adalah raja menjadi bagian penting dari perenungan di minggu-minggu puasa. Gereja-gereja Protestan di Indonesia maupun gereja induknya di Belanda tidak lagi merayakan Rabu Abu. Kita tidak tahu apa sebabnya.
Hakikat Puasa Kristen
Orang Kristen purba berpuasa pada masa 40 hari. Agustinus (354-430) dalam khotbah-khotbahnya menekankan pentingnya puasa selama masa quadragesima. Ia berkata, "Pada hari-hari biasa saudara harus menjauhi zinah, percabulan, dan godaan haram apa pun."
Dalam Tradisi Kerasulan Hippolytus (tahun 200 M) dijelaskan, "Puasa bagi orang Kristen bukanlah tentang melepaskan sesuatu, melainkan menambahkan sesuatu pada hidup." Tradisi yang tua dalam gereja tentang puasa tidak berangkat dari asumsi: aku melepaskan sesuatu, melainkan aku harus menambahkan sesuatu. Jika kita memilih untuk berpuasa suatu makanan tertentu, uang yang tadinya akan dihabiskan untuk coklat dan rokok misalnya, dapat diberikan kepada orang miskin.
Menambahkan pelayanan kasih secara konkret kepada orang miskin adalah maksud yang sesungguhnya dari puasa Kristen (Yesaya 58:6-7).
Robert Herrick (1605) bertanya, "Apakah puasa berarti menjaga lemari makanan kosong, dan bersih dari lemak lembu dan domba? Apakah itu berarti berhenti menghidangkan daging, namun tetap mengisi piring penuh-penuh dengan ikan? Bukan!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/perselisihan-antar-pasangan-terbukti-menurunkan-kepuasan-seks_20160118_112100.jpg)