Ada yang Salah pada Pendidikan Seks Kita

Seksualitas berkembang sejalan dengan evolusi manusia. Sejak dilahirkan, setiap kita sudah mendapat identitas

Ada yang Salah pada Pendidikan Seks Kita
Jessi Carina
Komunitas LGBT Jakarta kibarkan bendera pelangi dalam acara peringatan Hari Perdamaian Internasional di Balai Kota DKI, Minggu (20/9/2015). 

Oleh Sabina P. Gero
Dosen/Lektor Kepala, Program Studi Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang

POS KUPANG.COM - Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan tentang LGBT, baik di media cetak, elektronik maupun orang perorang. Lesbian, gay, biseks dan transjender, oleh Franz Magnis-Suseno (Kompas, 23 Februari 2016) disebut sebagai "produk alam sampingan".

Seksualitas berkembang sejalan dengan evolusi manusia. Sejak dilahirkan, setiap kita sudah mendapat identitas sebagai laki-laki atau perempuan, menurut kelamin bayi baru lahir tersebut. Dalam keluarga dan lingkungan sosial, bayi laki-laki dan atau perempuan ini sudah mendapat identitas jender jelas, dan akan bertumbuh dan berkembang dalam asuhan keluarga. Ada juga ditemukan bayi dengan dua kelamin (sangat jarang).

Di kalangan kesehatan, keadaan ini hanya diketahui oleh ibu yang melahirkan bayi tersebut (sangat dijaga privacy). Keadaan inilah yang dapat disebut sebagai produk alam sampingan. Lalu, apa itu LGBT? Apakah di sini ada LGBT? Apakah itu suatu "produk alam sampingan" atau gaya hidup? Jika gaya hidup, kemungkinan ada yang salah pada pendidikan seks kita?

Perkembangan seorang bayi laki-laki dan perempuan menjadi seorang dewasa dengan identitas jender dan orientasi seksual yang definitif, dipengaruhi oleh lingkungan manusia (orang lain) dan lingkungan material (tubuh). Sigmund Freud (1856-1939) memperkenalkan teori psikoanalisis, yang selanjutnya menghasilkan tahap-tahap perkembangan kepribadian manusia berdasarkan psikoseksual.

Walaupun relatif tua teori ini, namun ide-idenya masih menjadi basis pengembangan psikologi pada zaman modern sekarang ini. Dalam proses perkembangan manusia, Freud menyebutkan ada bagian tubuh tertentu manusia yang sensitif terhadap seksual, stimulasi erotik. Zona itu adalah mulut, anus, dan area genitalia.

Ketiga area ini menjadi pusat libido anak yang mempengaruhi perilaku anak. Perilaku anak berfokus pada mulut, anus dan genitalia. Oleh karena itu, Freud membagi perkembangan kepribadian manusia dalam 4 tahap, tahap oral dari usia 0-18 bulan/2 tahun, tahap anal (anus/dubur) usia 18 bulan/2 tahun-3 tahun, tahap phallik, usia 3-6 tahun, tahap genitalia, usia pubertas-dewasa. Setiap anak akan maju ke tahap berikut jika dapat menyelesaikan tugas perkembangan dan konflik pada tahap sebelumnya.

Pada tahap oral, bayi mendapatkan kenikmatan dari stimulus pada mulutnya. Jika seorang bayi mendapat hambatan pada tahap oral menyebabkan dewasa nanti berperilaku pesimis, iri, penuh curiga dan sarkasme (kasar, suka melukai orang lain).

Pada tahap anal perhatian anak pada fungsi eliminasi. Anak mengekspresi diri dengan menahan atau melepaskan eliminasi (urine atau feses). Hambatan pada tahap ini menyebabkan seseorang mudah kacau, tidak dapat mengorganisir diri, sembrono, kurang peduli dan perilaku menyimpang lainnya.

Tahap phallik ditunjukkan dengan anak perempuan mencintai ayahnya dan anak laki-laki mencintai ibunya (biasa disebut oediphus kompleks). Fiksasi pada tahap ini menyebabkan seseorang menjadi sembrono, keras kepala, kasar, egois dan narsistik (cinta diri secara berlebihan). Gagal menghadapi konflik pada tahap ini menyebabkan seseorang takut atau tidak mampu mencintai, hal ini menjadi akar penyebab homoseksual dan lesbian. Pada tahap genitalia/kelamin, remaja memulai hubungan sosial-seksual.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved