Air Mata Obama

Didampingi para korban kekerasan bersenjata di East Room, Gedung Putih, Washington

Editor: Dion DB Putra
BBC
Barack Obama 

Titipan untuk Para Pemimpin Rakyat

Oleh Romo Ino Nahak Berek, Pr
Tinggal di Paroki Nualain, Keuskupan Atambua

POS KUPANG.COM - Berita unik. Sungguh berkesan. Kilasan akan aksi Obama dalam menyikapi masalah kemanusiaan. Judul menarik dan menegangkan, Kongres Berang atas Aturan Obama. Memangnya ada apa? Didampingi para korban kekerasan bersenjata di East Room, Gedung Putih, Washington, Presiden ke-44 Amerika Serikat ini menyeka air mata saat berpidato tentang kekerasan dengan senjata. Obama menyeka air mata saat mengumumkan langkah-langkah terbatas untuk mengatasi maraknya kekerasan dengan senjata api.

Namun kebijakan Obama ditantang anggota Kongres dari Partai Republik, (VN, Kamis, 7/1/2016). Sikap simpati bersanding empati. Peduli dan terluka bersama para penderita. Ekspresi sang figur publik Obama, peka pada kenyataan. Merasakan luka yang merambat di hati keluarga korban.

Mengalami jeritan yang terngiang dalam nurani korban kemanusiaan. Keberaniannya (baca: Obama) mengumumkan sepuluh poin tindakan urgen dalam membatasi kepemilikan senjata api di negeri Paman Sam agar warganya wajib memiliki lisensi resmi. Justru ditantang. Keberanian pada satu misi mulia memberi aroma kesucian bagi pengabdiannya. Obama memang tokoh idola dalam pentas politik.

Mengulas kisah alot akhir tahun 2007 silam, pemilihan calon Presiden diwarnai dua sosok 'musuh bebuyutan' dari Partai Demokrat Barack Hussein Obama dan Hillary Clinton telah mencetak sejarah baru. Selasa malam (3/6/2008) waktu setempat, Senator Illinois yang pernah empat tahun tinggal di Jakarta tersebut menang dengan perbandingan 56-41 persen atas lawannya Hillary dalam pemilihan awal di Montana.

Hujan simpatisan mengguyur tanpa henti. Beragam kata sanjung tertumpah hingga membasahi bumi pijakan. Salah satunya meletup dari bibir Robert Hathaway, kepala program Asian di Woodrow International Enter for Scholar, Washington: "Saya pikir terpilihnya seorang kulit hitam Amerika di tengah masih dominannya kulit putih di sana akan mengirim pesan bagi Asia dan bagian dunia lainnya bahwa akan ada wajah baru Amerika Serikat dibanding dengan apa yang kita lihat lebih dari delapan tahun terakhir" (Hermawan Aksan, Andaikan Obama Presiden Amerika, Harapan atau Ancaman?, 2008, p. 121).

Ada yang beda pada pribadinya. Cara berorasi memukau audiens. Tatapan matanya membahasakan kebenaran. Hentakan kakinya teguh dalam merobohkan angkuhnya dunia. Pribadi Obama memang primadona. Kesederhanaan berpenampilan terlihat pasti. Ketegasan berkeputusan tak bisa diragukan rasio. Inilah citra pemimpin harapan. Inilah model figur panutan.

Menyisir sisi-sisi inspiratif Obama menjadi bahan kajian unggul berolah pikir.

Keprihatinan. Kata ini melekat kuat dengan bisikan suara hati. Ada tangisan dan jeritan. Bisa dicermati dalam permainan waktu. Terang-gelap. Suka-duka. Panorama dunia ditaburi banyak tampilan. Berkaca pada fakta. Terpantul beragam ekspresi ditemui. Elite politik terjerat banyak kasus. Lihat saja di media massa. Nazzarudin dalam kasus Hambalang.

Penggelapan uang negara dengan aktor kawakan Gayus Tambunan. Tindakan asusila pedangdut Saipul Jamil. Pembunuhan Engelin secara tragis. Penghacuran lahan warga akibat konspirasi bawah tanah dinas Pertambangan Pemkab Belu di bumi Ai Tameak.

Deretan cerita di atas kiranya berkenan untuk dikenang. Pemimpin publik disentil untuk bertindak. Bukan sekedar litani untuk didaraskan. Seakan simponi untuk temani jam kerja di kantor kehormatan. Bahkan obat penenang di saat perjalanan dinas keliling dunia. Tepat untuk berkata. Perkara kemanusiaan perlu dibenahi. Diproses tanpa protes. Arahkan perhatian pada pembenahan sistem kerja. Perbaiki ketimpangan yang meresahkan warga. Kelola sumber daya manusia. Tanamkan jiwa membangun dengan mengangkat potensi unggulan daerah.

Tidak sewajarnya 'mengebiri' sumber daya alam hanya karena kepentingan golongan.

Keberhasilan pemimpin terletak pada sinergitas komponen kepemerintahan. Saling merangkul walau berbeda karakter. Memberi kepercayaan sesuai kepasitas kinerja. Beri tanggung jawab dalam karya. Perlihatkan jiwa mengabdi. Melupakan pengalaman pahit karena gejolak politik. Kembalikan yang terbuang. Rangkullah yang jatuh. Kembalikan keadaan pada misi membangun daerah. Mengharumkan nama bangsa. Ini model kedewasaan berdemokrasi.

Tanamkanlah kepedulian. Turunlah dari meja prestise. Temukan di sepanjang jalan. Lihat dan beranilah berkata. Kami datang untukmu. Jika memang langkahmu tak menembus batas kota.

Kalau berlalunya waktu begitu cepat dijemput malam. Setidaknya air matamu masih menetes untuk rakyatmu. Air mata Obama membasahi bekas kaki warganya di bumi Amerika. Di manakah air mata para pemimpin kami?*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved