Lipsus LGBT
Masyarakat Lebih Terima Keberadaan Waria
Kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Kota Kupang serta NTT umumnya, membutuhkan pengakuan identitas dan perlakuan yang sama dalam ke
"Masih ada pandangan bahwa waria menyediakan perempuan yang bisa 'dipakai'. Anggapan keliru ini sangat memojokkan waria," kata pemilik Natacya Salon tersebut.
Riby Cesia (26), warga Kabupaten Sikka, punya kesan pihak tertentu manfaatkan kaum waria untuk kepentingan politik saja.
"Contohnya, saat Pilkada di Kabupaten Sikka, waria dicari, dikumpulkan, dirangkul untuk mengikuti berbagai kegiatan. Tapi setelah Pilkada, sudah menang, keberadaan waria tidak lagi diakui. Waria apalagi LGBT tidak pernah dilibatkan dalam program, pemerintah," kritik Riby, ratu Waria Sikka tahun 2013.
Waria lain di Maumere yakni Olga, Dewi dan Vera mengatakan, LGBT punya potensi dan kemampuan yang tidak kalah dengan kaum heteroseksual. Oleh karena itu seharusnya diposisikan sama dengan warga negara lainnya.
"Tolong lihat keberadaan waria, LGBT. Akuilah kalau kami ada dan berikan kami kesempatan, libatkan kami dalam kegiatan pembangunan di daerah," kata pemilik Olga Salon ini.
Olga menyebut banyak waria hanya lulusan SD, SMP atau putus sekolah sehingga kualitas SDM rendah. Sedangkan program pemberdayaan masyarakat dari pemerintah hanya fokus bagi kelompok heteroseksual. Dewi berharap pemerintah memberikan bantuan kepada waria dan LGBT.
"Saya ingat sepuluh tahun lalu itu pemerintah bagi-bagi bantuan alat salon dan alat masak untuk waria. Tapi sekarang program itu sudah tidak ada lagi," kata Olga yang jago masak ini.(vel)
Ikuti terus berita-berita terkini dan menarik dari http://pos-kupang.com atau http://kupang.tribunnews.com
Like Facebook www.facebook.com/poskupang
Follow Twitter https://twitter.com/poskupang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/komunitas-lesbian-gay-bisexual-transgende_20160214_165959.jpg)