Budidaya Padi Membramo di Sawah Urumitem, Satu Hektare Panen 9 Ton
Para petani sawah Urumitem, Waikomo, kini sangat senang
Penulis: Frans Krowin | Editor: Rosalina Woso
Laporan Wartawan Pos Kupang, Frans Krowin
POS KUPANG.COM, LEWOLEBA --Para petani sawah Urumitem, Waikomo, kini sangat senang. Padi jenis membramo yang ditanam tiga bulan lalu, sekarang sudah dipanen. Hasilnya juga luar biasa, karena satu hektare sawah menghasilkan sembilan ton gabah.
Benih padi tersebut merupakan bantuan pemerintah propinsi NTT melalui Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Kabupaten Lembata dalam program upaya khusus (upsus) untuk meningkatkan produksi padi. Benih itu didapat dari Konga, Kabupaten Flores Timur (Flotim).
Hal itu dijelaskan Ketua Kelompok Tani (KKT) Urumitem, Antonia Raring, ketika ditemui Pos Kupang di lahan persawahan Urumitem, Rabu (17/2/2016) siang.
Saat itu ia bersama petani Urumitem lainnya sedang memanen padi membramo bersama Danramil 1624-03 Lewoleba, Mayor (inf) Ignasius Hali Sogen.
Untuk diketahui, dalam program upsus dinas pertanian itu, pemerintah menggandeng aparat TNI untuk sama-sama mendampingi para petani. Melalui pola kerja itu, petani diarahkan untuk mengembangkan padi secara serempak, guna mewujudkan ketahanan pangan yang lebih baik, lebih berkualitas.
Antonia menuturkan, petani menerima program upsus itu pada Oktober 2015 lalu. Saat program itu disosialisasikan, disebutkan bahwa melalui program itu petani akan mendapatkan bantuan benih padi jenis membramo beserta sarana produksi (saprodi) lainnya.
Namun ketika bantuan benih itu dibagikan, sarana produksi
yang lain malah tidak diterima. Pupuk urea dan NPK yang sesuai arahan petugas, setiap petani mendapatkan satu kg pupuk/are, malah kenyataannya tidak demikian.
Saat pupuk dibagikan, lanjut Antonia, petani malah hanya menerima pupuk urea 0,5 kg/are, demikian juga NPK. Makanya dalam program tersebut, petani Urumitem merasa dikibuli oknum aparat dinas pertanian.
"Kalau dijanjikan pupuk satu kg/are, mestinya itu yang diberikan. Bukan janji lain, kenyataan lain. Kami patut mempertanyakan hal ini, karena upsus merupakan program pemerintah untuk petani," ujar Antonia dengan sorot mata yang tajam.
Ia mengungkapkan, saat program itu disosialisasikan, petugas saban hari menemui petani. Bahkan kepada petani, petugas mengungkapkan bahwa bantuan benih padi itu dikemas dalam satu paket dengan bantuan saprodi lainnya.
Tapi kenyataaannya sangat berbeda. Apalagi saat pupuk dibagikan, volume pupuk yang diterima petani, tidak seperti yang dijanjikan pemerintah. Petugas pun tidak menjelaskan mengapa bantuan pupuk dikurangi hingga setengah bagian.
"Kami terpaksa pontang panting membeli pupuk lagi, padahal kami punya kemampuan sangat terbatas. Jadi, meski program ini sudah berjalan, tapi kami merasakan aparat pemerintah, khususnya yang bertugas di dinas pertanian, belum jujur," ujarnya.
Bahkan selama program itu berjalan, ungkap Antonia, tak satu pun petugas dari instansi tersebut datang menemui mereka. Jangankan untuk mendampingi petani, sekadar melihat perkembangan tanaman pun tidak pernah.
Untungnya, lanjut dia, ada anggota TNI yang saban hari bersama mereka. "Kalau kami ada hambatan, lebih banyak kami konsultasikan dengan Pak Babinsa atau langsung dengan Pak Danramil yang setiap hari selalu datang lihat kami. Untung ada pak tentara, kalau tidak, kami susah," ujarnya dengan nada ketus. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/danramil-1624-03-lewoleba-mayor-inf-ignasiushali-sogen_20160219_101537.jpg)