Waspadai Virus Zika
Virus ini telah menyebar di sekitar 22 negara di Amerika, terutama Brazil dan Columbia, termasuk
Oleh William W. Lamawuran, SKM, MKL
Pemerhati Masalah Kesehatan Masyarakat
POS KUPANG.COM - Virus Zika menebar ancaman di tengah kewaspadaan kita terhadap penyakit demam berdarah yang kasusnya cenderung meningkat pada musim hujan seperti sekarang ini. Virus ini mendemamkan dunia karena 1,5 juta manusia di dunia telah terinfeksi Virus Zika dan diperkirakan akan mencapai 4 juta manusia yang terinfeksi. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Margareth Chan.
Virus ini telah menyebar di sekitar 22 negara di Amerika, terutama Brazil dan Columbia, termasuk di Asia dan Eropa (Perancis) dan Kepulauan Pasifik. Di Indonesia sendiri belum ada laporan secara resmi dari Kementerian Kesehatan mengenai adanya kasus infeksi Virus Zika, tetapi Indonesia harus menaruh kewaspadaan karena nyamuk Aedes Aegyti sebagai vektor yang membawa virus ini ada di Indonesia.
Selain itu mobilisasi penduduk terutama wisatawan Indonesia dari luar negeri maupun wisatawan manca negara yang berkunjung ke Indonesia juga menjadi salah satu potensi risiko transmisi Virus Zika di dalam negeri. Jumlah penduduk yang besar dengan sanitasi yang rendah serta fasilitas laboratorium pada sarana kesehatan yang kurang optimal merupakan faktor kerentanan utama untuk menghadapi ancaman virus ini.
Mengenal Virus Zika
Virus Zika adalah jenis flavivirus dari kelompok arbovirus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Pertama kali Virus Zika teridentifikasi di Uganda pada tahun 1947 pada monyet rhesus melalui jaringan pemantauan demam kuning sylvatic dan baru teridentifikasi pada manusia pada tahun 1952 di Uganda dan Republik Tanzania dan kini virus Zika telah menyebar di Afrika, Amerika, Asia dan Kepulauan Pasifik.
Virus ini ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi dari genus Aedes, terutama Aedes Aegypti yang juga adalah vektor pembawa virus demam berdarah dan chikungunya.
Terinfeksi Virus Zika menimbulkan gejala yang mirip dengan infeksi arbovirus lainnya seperti demam berdarah, yakni demam mendadak, lemas, ruam kulit atau kemerahan pada kulit badan dan punggung, nyeri otot dan sendi, malaise (lesu dan perasaan tidak enak badan), sakit kepala, mata pasien akan merah karena mengalami radang konjungtiva atau konjungtivitis. Gejala-gejala ini biasanya ringan dan berlangsung selama 2-7 hari.
Pemeriksaan laboratorium sederhana biasanya hanya menunjukkan penurunan kadar sel darah putih seperti umumnya infeksi virus lainnya. Berbeda dengan infeksi demam berdarah, infeksi Virus Zika tidak menyebabkan penurunan kadar trombosit. Masa inkubasi yang pasti belum diketahui, tetapi hampir mirip dengan infeksi virus dengue yaitu beberapa hari sampai satu minggu.
Penyakit ini biasanya ringan dengan gejala yang berlangsung selama beberapa hari sampai satu minggu, tidak menimbulkan keparahan yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit dan kematian oleh virus ini jarang terjadi.
Secara umum infeksi Virus Zika mirip dengan Virus Dengue sehingga seringkali tidak terdeteksi. Idealnya Virus Zika didiagnosis menggunakan PCR (polymerase chain reaction) dan isolasi virus dari sampel darah daripada dengan diagnosis serologi karena virus bisa menyeberang-bereaksi dengan flavi virus lainnya seperti demam berdarah dan demam kuning.
Virus ini tidak lebih berbahaya dari demam berdarah karena hanya satu dari lima orang yang terinfeksi yang benar-benar jatuh sakit. Tetapi saat ini menjadi kewaspadaan sekaligus keprihatinan dunia karena Virus Zika telah dihubungkan dengan kelainan atau cacat lahir pada bayi yakni Mikrosefali (lingkar kepala yang lebih kecil dari normal karena otak tidak berkembang dengan baik atau telah berhenti tumbuh).
Walau kelainan tersebut masih memerlukan kepastian melalui penelitian lebih jauh, tetapi pada tanggal 15 Januari 2016, Pemerintah Amerika melalui Pusat Pengendalian Penyakit dan Pencegahan (CDC) telah memperingatkan warganya yang sedang hamil atau yang berencana untuk hamil agar menunda melakukan perjalanan ke negara-negara yang mengalami penyebaran Virus Zika.
Pengobatan dan Pencegahan
Tidak ada vaksin khusus untuk virus ini. Orang sakit dengan Virus Zika harus banyak istirahat, minum cukup cairan agar tidak dehidrasi, dan mengobati rasa sakit dan demam dengan obat-obatan umum. Jika gejala memburuk, harus mencari perawatan medis yang memadai.
Pencegahan dan pengendalian dilakukan untuk menghindari gigitan nyamuk, sama seperti pencegahan terhadap demam berdarah, yakni: pertama, mengkondisikan lingkungan sekitar agar nyamuk tidak dapat berkembang biak yakni dengan melakukan 3M (mengubur, menguras dan menutup). Semua masyarakat harus melakukan upaya pembersihan lingkungan khususnya pada musim penghujan ini agar tidak ada genangan air tempat bertelurnya nyamuk.
Kedua, mengurangi kontak antara nyamuk dan manusia yang dilakukan dengan menggunakan obat nyamuk; mengenakan pakaian (sebaiknya berwarna terang) dan menutup semaksimal mungkin permukaan tubuh; menggunakan hambatan fisik seperti layar, pintu dan jendela tertutup; dan tidur di bawah kelambu. Ketiga, bagi anak-anak, orang sakit, orang tua dan mereka dengan keterbatasan perlu dibantu untuk melakukan pengendalian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/zika_20160206_184905.jpg)