Mirna, Kopi dan Gaya Hidup

Uap hangat yang mengantarkan aroma kopi yang khas justru menghantar senyawa beracun bagi

Editor: Dion DB Putra

Oleh Irvan Kurniawan
Pemerhati Sosial, Tinggal di Penfui, Kota Kupang

POS KUPANG.COM - Siapa sangka kisah hidup yang dialami Wayan Mirna Salihin, gadis cantik berumur 27 tahun ini, harus berakhir dalam segelas kopi Vietnam di Kafe Olivier, Mal Grand Indonesia.

Uap hangat yang mengantarkan aroma kopi yang khas justru menghantar senyawa beracun bagi perempuan yang biasa dipanggil Mirna ini. Misteri kematian ini pun menjadi heboh dan trending topic dalam setiap tayangan maupun pemberitaan media dan menjadi perbincangan kaum 'kelas menengah' yang mungkin saja dibahas sambil ngopi di kafe.

Kehebohan ini terjadi ketika nalar publik bertanya-tanya, siapa dan bagaiamana pembunuhan itu terjadi. Publik bisa saja menduga-duga, namun yang jelas pihak berwenang (kepolisian) sedang berusaha membongkar tabir misteri kematian tragis ini.

Karena itu, tulisan ini tidak sedang mencari-cari apalagi menduga-duga siapa dan bagaimana kematian itu terjadi. Saya lebih tertarik mengulas tentang fenomena manusia urban dimana minum kopi atau ngopi menjadi sebuah trend dan gaya hidup. Karena itu, pertanyaan yang pantas dilayangkan adalah mengapa pelaku memilih kafe dan kopi sebagai media pembunuhan? Mengapa tidak jus, teh, dan sederet minuman lainnya? Atau mengapa tidak di rumah, jalan, kantor, dll?

Gaya Hidup
Ketika berbicara kopi dan gaya hidup, sentak ruang imajinasi kita terbayang pada sketsa seseorang atau sekelompok orang yang tengah duduk di sebuah kafe sambil memegang gadget, laptop sambil berdiskusi membicarakan bisnis, politik, pekerjaan dan berbagai fenomena sosial.

Kopi sebagai gaya hidup ketika kopi tidak sebatas berfungsi menjadi penghilang kantuk atau teman mesra pecandu rokok saat menonton bola, namun telah berubah menjadi materi simbolik yang digunakan sebagian kalangan penikmatnya untuk menegaskan keberadaan mereka dalam kelompok sosial.

Gerai-gerai kopi pun menjadi bisnis laris manis di tengah masyarakat global dengan berbagai produk yang berseliweran di mana-mana seperti expresso, latte, cappuccino, starbucks, mochachino, dan lain-lain. Produk ini menjadi trend bukan hanya sensasi seteguk kopi dengan aroma dan rasa yang khas, tetapi juga karena pada saat yang sama konsumen merasakan sensasi kenikmatan dari ideologisasi nilai yang berhasil disematkan pada secangkir kopi melalui jargon bisnis seperti yang terungkap dalam iklan dan promosi media.

Singkat kata, saat ngopi kita juga meneguk sensasi kemewahan dan prestise sebagai kaum yang berkelas.

Globalisasi telah memungkinkan mobilisasi produk-prouduk lintas negara. Kecerdikan globalisasi melalui mitos dan promosi telah mengubah kopi menjadi semacam bagian dari budaya yang dikonstruksi dalam pergaulan masyarakat global. Minuman global menjadi gaya hidup karena bukan soal kopinya, tetapi meneguk 'sesuatu di balik kopi'.

Kasus kematian Mirna di Kafe Olivier, Mal Grand Indonesia, jika dibaca secara lurus adalah murni kriminalisasi semata. Namun, persoalan gaya hidup adalah salah satu jawaban mengapa kematian tragis ini terjadi di ruang publik seperti Kafe Olivier, juga mengapa Sianida itu tidak disematkan pada minuman lain yang mungkin secara sosial tidak 'perstise' dan berkelas.

Pesan yang mau disampaikan dari kasus ini juga sangat jelas, bahwa di balik persaingan dunia yang makin sakau dengan aneka kemewahan dan simbol, kalangan kelas menengah harus memiliki sikap was-was dan berhati-hati dengan minuman global. Kita tidak pernah tahu apakah di balik secangkir kopi yang kita minum mengandung racun atau tidak, apakah sensasi kenikmatan yang kita teguk mengandung sensasi kenikmatan kopi atau prahara kematian.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved