Diare, Ada Salah Besar!
Dalam tulisan ini saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk melihat lebih jauh dari perspektif
Oleh Vinsen Belawa Making, SKM, M.Kes
Wakil Ketua Stikes CHMK, Sekretaris Eksekutif IAKMI NTT
POS KUPANG.COM - Menarik membaca Harian Pos Kupang, Rabu (13/1/2016). Salah satu judul di halaman depan tertulis, Tim Doa Bilang Ada Salah Besar. Apa pendapat Anda dengan pernyataan ini apabila dikaitkan dengan kasus diare yang merenggut nyawa tiga orang balita di Oemolo? Jawabannya pasti beragam.
Dalam tulisan ini saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk melihat lebih jauh dari perspektif sosio-antropologi kesehatan masyarakat. Pada intinya bahwa semua hal yang menyangkut kesehatan selalu berhubungan dengan semua hal yang melingkupinya.
Setiap tahun hampir selalu terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare di bumi NTT tercinta ini. Apakah penyakit yang satu ini merupakan penyakit wajib yang selalu merenggut nyawa orang NTT setiap tahunnya? Sangat ironis memang ketika suatu penyakit yang sebenarnya bisa dengan mudah kita hindari, tetapi malah menjadi bumerang. Diare adalah penyakit yang sangat mudah dihindari apabila kita mengerti dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Namun seperti judul di atas, ada salah besar di sini.
Keadaan alam, minimnya infrastruktur yang memadai dan keadaan sosial budaya dan ekonomi masyarakat NTT disinyalir menjadi penyebab terus munculnya kasus diare setiap tahunnya. Keadaan alam dan infrastruktur menyebabkan minimnya akses warga terhadap air bersih. Hasilnya, pola perilaku hidup bersih dan sehat sangat jauh dari harapan. Air untuk minum saja sulit, apalagi mau mencuci tangan. Keadaan sosial budaya yang masih percaya pada dukun dan sejenisnya juga ikut memberikan andil.
Selain itu ketidakmampuan masyarakat dalam mencukupi kebutuhan gizi dalam rumah tangga dan ketiadaan biaya ke fasilitas kesehatan menjadi pemicu bertambah parahnya penyakit yang satu ini. Penyakit ini akan merajalela dengan dukungan cuaca yang ekstrem dan keadaan perumahan penduduk yang jauh dari kata sehat.
Tidak dapat kita pungkiri masih banyak rumah-rumah di NTT yang masih berlantai tanah, tanpa jamban dan terisolir. Hasilnya Period Prevalensi Diare di NTT masih 6,5%, sedangkan secara nasional sudah 3,5 % (Riskesdas 2013). Inilah salah besar kita selama ini yang mau tidak mau harus segera kita perbaiki.
Solusi Sederhana
Menurut beberapa kajian ilmiah dalam bidang kesehatan, hal dasar yang menyebabkan berbagai masalah tersebut di atas adalah minimnya akses masyarakat (jarak ke fasilitas kesehatan) dan juga perilaku masyarakat itu sendiri yang dipengaruhi oleh aspek sosail budaya setempat.
Berbicara akses masyarakat, maka di sana harus ada peran pemerintah. Sudah menjadi tugas pemerintah untuk mengatasi hal ini. Seluruh warga harus memiliki akses yang lancar baik terhadap air bersih (termasuk pengawasan dan pengujian kadar air bersih-bebas bakteri e.coli, dll), fasilitas kesehatan maupun tempat-tempat umum (akses jalan, telekomunikasi dll).
Dengan demikian dapat memacu pertumbuhan perekonomian masyarakat yang berdampak pada peningkatan derajat kesehatan termasuk terhindar dari diare.
Khusus perilaku memang sedikit rumit. Mengubah perilaku diperlukan waktu yang cukup lama agar suatu perilaku baru dapat menetap dan menjadi sebuah kebiasaan. Peran para penyuluh kesehatan masyarakat untuk menanamkan pola perilaku hidup bersih dan sehat menjadi sangat penting.
Hendaknya setiap puskesmas memiliki lebih banyak tenaga penyuluh kesehatan masyarakat yang berperan di hulu, sebagai ujung tombak mengubah perilaku masyarakat. Para penyuluh ini harus bisa menjadi tim doa yang tidak hanya bisa bersujud dan mengatakan ada salah besar, tetapi harus mampu menjabarkan apa saja salah besar tersebut dan bersama-sama dengan masyarakat memperbaiki kesalahan tersebut.
Agar semua roda ini dapat berjalan diperlukan kebijakan yang strategis dari para pengambil keputusan. Penempatan tenaga kesehatan harus merata, pembangunan infrastruktur harus berimbang antara pedesaan dan perkotaan. Jangan ada kolusi, korupsi dan nepotisme dalam pengabdian.
Semua lini harus bersinergi untuk mengatasi persoalan ini. Kasus diare yang terjadi hampir setiap tahun di NTT ini sedang memberikan pelajaran yang berharga untuk kita semua. Bahwa ada salah besar dalam pembangunan di NTT tercinta ini. Jangan berjalan sendiri-sendiri. Mari kita bergandeng tangan dan lakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Salam Sehat!*